SHARING PENGALAMAN STAND UP PADDLING DI ANCOL. MAU? 2023-09-15 00:00

Stand up paddling (SUP) di Ancol

 

Mayoritas kita mengenal kegiatan stand up paddling (SUP) mungkin sejak melihat foto Susi Pudjiastuti, yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam ragam gaya di atas paddle-board. Tak sedikit yang berpikir pasti susah berdiri apalagi sambil mendayung di atas paddle-board. Begitupun yang ada di pikiran saya dan teman-teman saat memberanikan diri mencoba aktivitas outdoor yang satu ini di Ancol Jakarta pada 7 Mei 2022 silam.

 

Saat diberi pengarahan di pantai sebelum memulai kegiatan, rasanya perut mules. Saya pribadi sebelumnya pernah mencoba stand up paddling di New Zealand, dan juga di Pacitan Jawa Timur. Tapi tetap saja ada rasa gentar.

 

Baca juga: “Gunung Ciung, Alternatif Mendaki Gunung di Sekitar Jakarta dengan Bonus Curug Panyantelan

 

Instruktur memeragakan bagaimana dari berlutut --tepatnya posisi seperti start lari-- sampai jongkok dan kemudian berdiri di atas board. Pandangan melihat ke depan, cari horison, jangan menunduk ke air. Begitu berdiri, dayung langsung dimasukkan ke air. Perubahan gerakan harus dilakukan dengan mantap, terutama dari jongkok ke berdiri. Justru yang bikin oleng sampai jatuh karena berdirinya ragu-ragu.

 

Berdirinya harus mantap

 

Lalu yang mesti diingat juga, kaki dibuka selebar bahu, jangan lebih sempit maupun lebih lebar. Posisi berdiri, bagian lutut harus sedikit ditekuk, membuat kaki kita lebih fleksibel mencari keseimbangan. Kalau dirasa mau jatuh, langsung merunduk ke depan, atau sekalian berlutut di atas board. Jangan malah mendoyongkan badan ke belakang, yang malah akan bikin terjungkal.

 

Kaki dibuka selebar bahu

 

Instruktur juga menerangkan, paddle-board dilengkapi leash (tali pengikat), yang mesti dipasang di pergelangan kaki. Gunanya supaya saat kita terjatuh, board tidak terlempar menjauh. Bukan apa-apa sih, cuma capek ngejarnya aja.

 

Leash (tali pengikat) di pergelangan kaki

 

Nah selanjutnya, bagaimana cara mendayung yang benar? Ini… ini… pengetahuan baru. Ternyata sedikit beda dengan mendayung saat berarung jeram yang hanya pakai kekuatan tangan. Mendayung dalam stand up paddling itu bukan cuma dengan kekuatan tangan tapi juga otot perut. Setiap gerakan mendayung, badan kita juga harus diturunkan.

 

Ini posisi mendayung yang benar

 

Simak penjelasan Priyo Utomo, instruktur/pemandu stand up paddling dan juga kayaking, dalam artikel yang pernah ditulisnya untuk MyTrip. “Berdiri di atas papan SUP, tubuh kita menyeimbangkan diri dengan penggunaan otot yang kurang lebih menyeluruh dari kaki, tangan, bahu, dan terutama otot abdomen (perut). Ketika mendayung pun, jika mendayung secara benar, yang bekerja adalah otot abdomen, sementara tangan dan kaki hanya menjadi perantara tegangan.”

 

Baca juga: “Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menjajal Stand Up Paddling

 

Sudah dibekali teori dan peragaannya, tibalah waktunya mendorong board ke air. Deg-degan, bisa berdiri dengan mulus nggak ya…. Ah, ternyata mudah! Kami ber-8 nggak ada yang gagal berdiri di atas board, dan satu demi satu mulai mendayung menjauh dari bibir pantai. Gerakan dayung kami memang masih ada yang salah atau sedikit kaku di awal, tapi lama-kelamaan sudah lebih luwes dan lancar. Untuk mengarahkan board ke kiri atau kanan maupun mundur juga kami semua bisa melakukannya. Prinsipnya sama dengan mendayung apa pun, kalau mau belok ke kanan, dayunglah kuat ke arah kiri, dan sebaliknya. Kalau mau mundur, arah gerakan dayungnya dibalik, ke arah depan. Mendayung juga bisa dilakukan sambil berdiri maupun berlutut. O ya, posisi tangan saat mendayung, yang satu menggenggam bagian atas/kepala dayung, yang satunya lagi menggenggam batangnya, jangan terlalu jauh jaraknya. 

 

Mendayung bisa juga sambil berlutut

 

Permukaan air yang tenang serta board yang stabil dan lebar menjadi salah satu faktor pendukung mudahnya kami menyesuaikan diri. Kami mendayung sampai kira-kira sejauh 1 km saja, mendekati Phinisi Augustine yang saat itu tengah sandar. Instruktur mengajak kami mengelilingi phinisi dan satu per satu mendayung melewati tali jangkar di depan phinisi. Semua lulus. Ketegangan sudah mulai mencair, kami sudah bisa dengan santai dari berdiri ke jongkok, berdiri lagi. Jadi berfoto-foto dululah kami di depan phinisi.

 

Boardnya lebar dan stabil

 

Mengelilingi phinisi

 

Mendayung melewati bagian depan phinisi yang ada tali jangkarnya

 

Berfoto-foto di depan phinisi

 

Kalau kalian melihat di antara kami ada yang pakai jaket pelampung dan ada yang tidak, memang tidak diwajibkan pakai. Yang bisa berenang boleh tak mengenakan pelampung. Untuk alas kaki juga bebas, bisa pakai sendal gunung, sepatu air, atau tanpa alas kaki juga boleh (kecuali bakal mampir ke pulau atau pantai yang mengharuskan kita jalan kaki cukup jauh). 

 

Ada yang pakai pelampung, ada yang tidak

 

Saya sempat terjatuh ke air saat sedang mendayung mundur, tiba-tiba disenggol dari belakang oleh board lain. Tapi tenang, ‘kan sudah diajari bagaimana cara naik kembali ke board. Dengan posisi kedua tangan menumpu pada board, kaki ditendang di permukaan air dan pada saat bersamaan badan diangkat. Hopla, langsung perut saya bisa naik ke board tanpa perlu dibantu. Mudah juga ternyata. Jadi jangan panik kalau jatuh. Justru asyik bisa praktekin cara naiknya.

 

Baca juga: “Alternatif Healing di Sekitar Jakarta: Naik Phinisi ke Pulau Pari

 

Kami akhirnya merasakan juga terkena gelombang saat ada beberapa speedboat melaju kencang tak jauh dari posisi kami. Instruktur sudah kasih panduan, cara menyeimbangkannya, arahkan ujung depan board menghadap ke datangnya gelombang. Jangan biarkan gelombang menghantam dari samping maupun dari belakang. Posisi badan juga harus lebih merunduk. Dengan cara itu, kami tak ada yang jatuh walaupun gelombang dari speedboat lumayan bikin goyang.

 

Kalau ditanya, berat nggak sih mendayungnya? Berat kalau pas melawan angin dan gelombang. Lumayan ringan kalau didorong angin.

 

Baca juga: “3 Resto yang Cocok untuk Menikmati Senja di Ketinggian Ibu Kota

 

Sebelum kembali lagi ke pantai tempat start, kami mampir dulu di Pantai Pasir Putih untuk beristirahat dan foto-foto. Total durasi kurang lebih 2 jam. Capek? Iya lah, tapi fun!

 

Mampir dulu di Pantai Pasir Putih

 

Mau mencoba? Hubungi saja operator yang kami pakai yaitu Maliko SUP di Instagramnya. Mereka membuka SUP Trial di Ancol untuk pemula, biaya Rp350.000.

 

Kalau sudah bisa dan ingin tantangan lebih, bisa mencoba SUP di Belitung, Danau Toba, atau Pulau Rote bahkan Misool. Kebayang ‘kan mendayung sambil melihat pemandangan aduhai. 

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Maliko SUP
Comment
Danielmon

"Passport, driving license,id card holder template ID card, certificate, utility bill, bank statement and other editable templates. Psd, doc, pdf, xls formats."

2023-11-29