JOKHANG MONASTERY DI TIBET PERNAH DIABAIKAN DAN MENJADI KANDANG KUDA 2019-11-24 11:25

Bagian paling Instagenik di Jokhang Monastery

 

Kerumunan para peziarah yang sedang melakukan sujud di halaman sebuah kuil kuno di Barkhor Street, jantung Kota Lhasa, Tibet, pastilah menarik perhatian wisatawan. Kuil kuno yang selalu dipadati peziarah maupun wisatawan itu bernama Jokhang Monastery. Cerita sejarah maupun legenda yang tersiar tentang awal mula pendiriannya dan bagaimana kuil yang paling disakralkan di Tibet ini dulu pernah diabaikan dan menjadi kandang kuda tentu lebih bikin penasaran. Mari kita simak.

 

DUA LEGENDA DI BALIK PENDIRIANNYA

Jokhang bukan kuil terbesar maupun tertua di Tibet, tapi dianggap paling suci karena punya peran penting dalam perkembangan agama Buddha di Tibet. Jadi tak heran kalau kita melihat banyak sekali warga lokal Tibet baik yang di Lhasa maupun di luar Lhasa datang ke Jokhang, melakukan kora alias mengitari bagian luar kuil searah jarum jam sambil memutar roda doa di tangan dan menguncarkan doa, atau bahkan sambil bersujud hingga menggelosor di jalanan setiap 3 langkah. Tak terhitung juga yang bahkan sebelum matahari terbit sudah melakukan ritual di halaman depan kuil.

 

Para peziarah bersujud di halaman depan Jokhang

 

Adalah Raja Songtsen Gampo, raja pertama yang berhasil menyatukan Tibet, yang memerintahkan pembangunan Jokhang Monastery pada tahun 647 (ada juga sumber yang menyebutkan tahun 652). Kuil ini dipersembahkan untuk kedua istrinya, Putri Wencheng dari Dinasti Tang China dan Putri Bhrikuti dari Nepal. Keduanya membawa patung Buddha dari China dan Nepal ke Tibet sebagai mahar. Wencheng membawa patung Sakyamuni Buddha saat umur 12 tahun yang besarnya sesuai aslinya, dan dulunya patung ini ada di Bodhgaya India. Putri dari Nepal membawa patung Akshobhya Buddha (ada juga sumber yang menyebut patung Sakyamuni Buddha juga, yang umur 8 tahun). Nah untuk menempatkan patung-patung itu maka perlu dibangun vihara atau kuil.

 

Baca juga: "Melongok Ruang-Ruang Pribadi Dalai Lama di Norbulingka"

 

Versi pertama menyebutkan, Gampo memilih lokasi dengan cara melempar topi (atau dalam versi lain disebut cincin) ke atas dan bertekad akan membangun kuil di lokasi jatuhnya topi itu. Kebetulan jatuhnya di danau, Danau Wothang namanya, dan tiba-tiba muncul stupa putih di situ. Jadi dibangunlah kuil di situ.

 

Versi lain menyebutkan Putri Bhrikuti yang mencari lokasi untuk menempatkan patung yang dibawanya dari Nepal meminta Putri Wencheng memilih lokasinya berdasarkan hongshui. Terpilihlah lokasi danau yang konon banyak kekuatan jahatnya. Diyakini bahwa perlu dibangun kuil di atas danau itu agar kekuatan jahatnya bisa diusir.

 

Nah ada cerita juga soal bagaimana danaunya diurug dengan tanah/pasir yang dibawa oleh ribuan kambing yang didatangkan dari pegunungan yang jauh. Cerita kambing dan tanah inilah yang mendasari nama Lhasa yang berasal dari nama asli Jokhang. Kambing disebut Ra dalam bahasa kuno Tibet, sedangkan tanah disebut Sa. Kuilnya pun diberi nama Rasa Trulnang Tsuglag Khang Temple. Nama Lhasa berasal dari sini. Jadi ada yang bilang "Jokhang Temple menciptakan Lhasa".

 

Baca juga: "14 Fakta Tentang Nam Tso Lake di Tibet"

 

PASANG SURUT JOKHANG, SEMPAT MENJADI KANDANG KUDA

Setelah selesai dibangun, awalnya hanya dua lantai, selama 900 tahun kemudian kuil ini diperluas berkali-kali. Perubahan kekuasaan di Tibet dan China mempengaruhi Jokhang juga. Setelah tahun 1409, selama kekuasaan Dinasti Ming banyak dilakukan pengembangan. Dibangun lantai 3 dan 4. Dan perluasan terakhir tahun 1610 oleh Dalai Lama Ke-5.

 

Ada beberapa perubahan dan kejadian juga setelah meninggalnya Raja Songtsen Gampo. Tapi ada beberapa versi yang kebolak-balik, beda antara sumber satu dan lainnya. Ada yang menyebutkan awalnya patung Sakyamuni dari Wencheng disimpan di kuil lain bernama Ramoche. Sedangkan patung dari Nepal disimpan di Jokhang. Setelah Gampo wafat, Wencheng memindahkan patungnya ke Jokhang untuk menghindari perusakan dari tentara China. Dan patung Buddha yang dari Nepal dari Jokhang malah pindah tempat ke Ramoche. Ada juga yang menyebut, justru patung yang dari Nepal yang dipindahkan dari Ramoche ke Jokhang.

 

Intinya patung-patung tersebut disembunyikan/diamankan karena saat Raja Tresang Detsen berkuasa dari tahun 755 sampai 797 ada satu menteri raja (Marshang Zongbagyi yang penganut Bon, agama animisme sebelum Buddhisme masuk Tibet) yang tidak suka penyebaran agama Buddha di Tibet. Jadi selama akhir abad ke-9 dan awal abad ke-10 tidak ada aktivitas ibadah, Jokhang dan Ramoche Temple dijadikan kandang kuda. Bhiksu-bhiksunya ada yang dianiaya dan diusir dari Jokhang. Baru kemudian tahun 1049 Atisha, guru Buddhis terkenal dari Bengal India mengajar di Jokhang hingga meninggal tahun 1054.

 

Abad ke-18, setelah Perang Gurkha-Tibet tahun 1792, Kaisar Qianlong dari Dinasti Qing mengusir orang-orang Gurkha Nepal dari Tibet dan tidak mengizinkan orang Nepal mengunjungi Jokhang. Jokhang dikhususkan menjadi tempat ibadah bagi orang Tibet saja. Hal ini berlangsung lebih dari seabad, disebut Masa Gelap Tibet, di mana peziarah dari luar Tibet dilarang masuk Tibet.

 

Selama Revolusi Kebudayaan, Tentara Merah menyerang Jokhang tahun 1966, dan selama satu dekade tak ada kegiatan ibadah di Jokhang. Renovasi Jokhang kemudian dilakukan dari tahun 1972 sampai 1980. Dan kuil ini pun dibuka lagi untuk para peziarah. Meskipun berada di bawah perawatan Sekte Gelug, tapi peziarah dari sekte Buddhisme mana pun boleh beribadah di sini.

 

Tahun 2000 Jokhang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Banyak seniman dan pekerja asal Nepal bekerja membuat desain dan konstruksi vihara ini.

 

17 Februari 2018 Jokhang mengalami kebakaran tapi dikabarkan tak ada kerusakan berarti, dan tak ada korban. Kebakaran melanda area seluas 50 m2. Jokhang ditutup sementara tapi esoknya sudah dibuka kembali.

 

Baca juga: "Debat Bhiksu di Sera Monastery, Tak Boleh Dilewatkan Kalau ke Tibet"

 

ARSITEKTUR BANGUNAN DAN ADA APA SAJA DI DALAMNYA

Luas Jokhang 2,51 ha. Waktu awal dibangun ada 8 ruangan dan 2 lantai yang berisi patung-patung dari zaman Dinasti Tang dan Ming, kitab-kitab Buddha (ada 54 boks Tripitaka), artefak, mural, ukiran, ratusan thangka (lukisan gantung), lukisan penting di atas sutra yang dibordir, dan banyak lagi.

 

Lantainya dari batu bata, pilar-pilar dan kusen-kusen jendela terbuat dari kayu. Atapnya genteng berlapis perunggu. Gaya arsitekturnya Tibetan Buddhis dengan pengaruh dari desain vihara di India, China dan Nepal. Strukturnya didesain mengikuti Mandala, penggambaran dunia ideal dalam agama Buddha.

 

Kuil yang menempati bagian timur Barkhor Street ini pintu utamanya menghadap barat. Buddha Hall utamanya di lantai dasar, tinggi dan luas. Di sinilah ditempatkan patung Buddha Sakyamuni berlapis perunggu, tinggi 1,5 m yang menggambarkan Buddha saat umur 12 tahun. Ada berlian di bagian dahinya. Jubahnya bertabur mutiara. Buddha duduk bersila dalam posisi teratai dengan tangan kiri di atas pangkuan dan tangan kanan menyentuh bumi. Patung ini dianggap paling suci oleh rakyat Tibet.

 

Di lantai satu ada tempat tinggal bhiksu-bhiksu dan ruang pribadi Dalai Lama. Sedangkan patung Songtsen Gampo, Princess Wencheng, Princess Bhrikuti ada di lantai 3. Di bubungan atap ada patung ikonik 2 ekor rusa emas mengapit Roda Dharma (chakra), khas vihara-vihara Tibet.

 

Interior Jokhang seperti labirin-labirin gelap yang sarat dengan kapel-kapel dengan wangi dupa dan minyak mentega. Kapel/ruang-ruang doa didedikasikan untuk memuja para dewa dan bodhisatva termasuk Avalokitesvara.

 

PEMANDANGAN DARI ATAP JOKHANG

Dari atap Jokhang kita bisa melihat Istana Potala yang berjarak sekitar 2 km dan kesibukan di Barkhor Circuit. Tapi sayang, sekarang tepatnya sejak sekitar tahun 2017 pengunjung sudah tidak bisa lagi naik ke roof top. Alasannya karena pernah ada pengunjung yang merusak atau melakukan tindakan kurang terpuji.

 

Tapi tak mengapa, wisatawan masih tetap bisa naik ke teras terbuka di lantai 3, di situ banyak sekali bunga dan bagus buat jadi latar foto. Kita juga bisa melihat lebih dekat bubungan atap dengan dua rusa dan Roda Dharmanya yang berkilau keemasan. Di lantai ini juga ada toko suvenir.

 

Banyak bunga di teras terbuka di lantai 3

 

FESTIVAL DI JOKHANG

Jokhang menjadi tempat penyelenggaraan Great Prayer Festival saat Losar, Tahun Baru Tibet, yang jatuh pada akhir Januari atau awal Februari. Festival ini pertama kali dirayakan tahun 1409 saat kepemimpinan Tsong Khapa, dan diadakan tiap tahun sejak Dalai Lama Ke-5.

 

Tiket masuk: RMB 85 (+/-Rp175.000)

Jam buka: 07.00-17.30

Rekomendasi kunjungan: 2 jam

Dress code: Baju sopan, topi atau kupluk dilepas kecuali hijab.

Aturan foto: Ada beberapa ruang kapel yang tak boleh difoto. Ikuti petunjuk pemandu lokal yang menemani Anda atau perhatikan tanda larangan foto.

Teks & Foto: Mayawati NH
Comment