HARUS LAKUKAN APA UNTUK MEMPERCEPAT PEMULIHAN PARIWISATA? CRISIS MANAGEMENT, SOSIALISASI DAN SERTIFIKASI CHSE SECEPATNYA 2020-11-03 17:00

Lansekap eksotis di Taman Nasional Komodo, salah satu andalan pariwisata Indonesia

 

Dalam empat tulisan sebelumnya sudah dipaparkan kondisi pariwisata di Indonesia selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung 8 bulan, berdasarkan hasil wawancara online MyTrip dengan 28 orang pelaku pariwisata. Yang diwawancarai: dari Sumatera ada 2 (Nias Sumut dan Natuna Kepri), dari Jawa juga 2 (Sukabumi Jabar dan Malang Jatim), Bali ada 1, Lombok ada 2, NTT ada 5 (Flores 2, Sumba 1, Pulau Sabu 1, Timor 1), Kalimantan ada 3 (Derawan Kaltim, Tanjung Puting Kalteng, Pontianak Kalbar), Sulawesi ada 1 (Labengki Sultra), Maluku ada 2 (Pulau Saparua dan Pulau Kei), Maluku Utara 1 dari Pulau Morotai, Papua Barat ada 9 (semuanya dari Raja Ampat dan/atau Misool), Papua ada 1 diwakili Wamena.

 

Artikel ke-5, ke-6, dan ke-7 ini merangkum pendapat mereka tentang kapan pariwisata di negeri kita ini akan pulih. Dan sebagai pelaku yang mengalami langsung, bagaimana usulan mereka. Khusus topik ini MyTrip juga mewawancarai satu lagi pelaku wisata yang berbasis di Jakarta dan menjadi konsultan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 di daerah wisata.

 

Empat artikel sebelumnya bisa dibaca di sinidi sinidi sini, dan di sini.

 

TUMBUHKAN KEPERCAYAAN DENGAN CRISIS MANAGEMENT

“Kalau kita bisa yakinkan tamu dengan penerapan protokol kesehatan yang benar-benar ketat dan dikontrol, saya pikir akan segera pulih pariwisata kita. Tapi mungkin kenyataannya tidak semudah itu, karena perlu usaha keras dan kerja nyata untuk menumbuhkan kepercayaan tamu terhadap kesiapan tiap destinasi. Perkiraan saya Desember 2020 ini akan banyak tamu yang datang ke Labuan Bajo. Kalau tidak Desember, yaa… mungkin baru Juli 2021,” ujar Oyan Kristian (36) dari NTT DMC (PT. Flores Komodo Tours).

 

Binatang langka komodo di TN Komodo

 

Untuk menunjang hal itu, Oyan menegaskan perlu ada standarisasi, kontrol, sertifikasi kepada semua pelaku wisata tentang penerapan protokol new normal. Dan yang tak kalah penting, tandasnya, crisis management harus dimiliki setiap daerah yang akan menjadi acuan jika misalnya ada yang tiba-tiba terinfeksi Covid-19 di destinasi wisata, berarti RS harus siap, orang-orang yang ada kontak dengan yang terinfeski harus dilacak supaya penyebaran bisa dihentikan, dan untuk sementara destinasi tersebut ditutup dulu, dsb. “Crisis management ini harus disosialisasikan ke semua pelaku supaya tidak gagap di lapangan,” kata Oyan lagi.

 

Baca juga: “Panduan Cerdas Eksplor Taman Nasional Komodo

 

Menurut Bima Saskuandra (53) dari Dody Adventure, organizer yang spesialisasinya di wisata petualangan dan menjadi konsultan Kemenparekraf khusus untuk wisata gunung bersama beberapa praktisi lain, Kemenparekraf sudah membuat beberapa inisiatif, salah satunya sosialisasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability), serta Penanganan Pencegahan dan Penyebaran Covid-19 bagi industri pariwisata, dan akhir tahun ini akan ada sertifikasi CHSE Compliance.

 

“Penyuluhan tentang Covid-19 dan cara ataupun protokol penanggulangannya di area-area wisata harusnya dikerjakan secara kontinyu oleh dinas pariwisata daerah masing-masing. Juga mereka harus membuat kebijakan yang mendorong bergeraknya pariwisata tanpa harus terjadi pelanggaran panduan Covid-19. Di beberapa daerah sudah dilakukan, tapi secara umum belum ‘nendang’. Ini PR besarnya,” tandas Bima.  

 

Gunung Semeru. Wisata gunung juga harus memenuhi standar CHSE

 

Menurut Bima, Kemenparekraf juga sedang menyiapkan beberapa "buku resep" bagaimana membuat trip yang lebih lama dan berkualitas sehingga harga jual akan lebih naik. Kemenparekraf juga sudah menyalurkan dana hibah ke masyarakat pariwisata, bentuknya bukan uang tunai tapi dalam bentuk pelatihan ataupun barang.

 

Tapi walaupun sudah banyak yang dilakukan, Bima berpendapat, “Kalau untuk 100% pulih dalam konteks volume perjalanan rasanya masih lama, bahkan jika vaksin sudah berhasil diimplementasikan sekalipun. Pariwisata 100% pulih hanya akan terjadi kalau Covid-19 lenyap dari muka bumi.”

 

Baca juga: “Pariwisata di Era Next Normal: Yuk Kita Ramaikan Wisata Domestik Aja Dulu

 

Pesimis? Rasanya tidak, itu realistis. Toh banyak yang bisa dilakukan para pelaku usaha sambil menunggu vaksin dan obat. Bima menyampaikan buah pikirannya, misalnya: 

- Membuat trip dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat (durasi pendek, grup kecil, jaga jarak, pakai masker, sering cuci tangan, dll), bahkan kalau perlu tiap peserta harus rapid test dulu.

- Menggeser core business, misal menjadi penyelenggara virtual tour.

- Membuat pelatihan-pelatihan.

 

Kalau tabungan masih kuat, bisa investasi berupa: 

- Peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan-pelatihan.

- Membuat materi-materi pemasaran yang lebih baik (video, foto, e-flyer, dll). Kegiatan pemasaran sebaiknya kontinyu dilakukan walau sedikit-sedikit.

- Membuat website, kalau sebelumnya belum punya. Atau kalau sudah punya ya memperkaya konten website.

- Tetap memonitor kondisi ekonomi negara dan global, update tentang kasus Covid-19, dlsb.

 

Kalau Covid-19 telah berlalu, kita bisa ke sini lagi….

 

PADA AKHIRNYA….

MyTrip menyimpulkan kurang lebih, inilah yang sebaiknya dilakukan para pemangku kepentingan. Penyederhaaan aturan dan sosialisasi yang jelas kepada seluruh pelaku yang berkepentingan, dikembalikannya jadwal transportasi publik dan dibukanya kembali arus masuk wisatawan asing, yang kesemuanya harus diikuti dengan pelaksanaan dan pengawasan protokol kesehatan yang tegas dan ketat agar tidak terjadi penambahan apalagi lonjakan kasus Covid-19, serta adanya crisis management yang disusun dari atas dan disosialisasikan ke semuanya sehingga tumbuh rasa percaya dari para wisatawan bahwa berwisata sudah aman. Plus untuk menggerek naik, harus dibantu lagi dengan memberikan stimulus maupun insentif kepada para pelaku wisata, dan melakukan promosi gencar pasca pandemi yang akan makin menggairahkan sektor pariwisata. Dan satu lagi yang tak kalah penting, implementasi vaksin Covid-19.

 

Dengan begitu ekonomi akan bergerak tanpa mengorbankan kesehatan dan tanpa terjadinya penambahan kasus Covid-19. Too good to be true? Tentu tidak kalau semua pihak mau berupaya dan bekerja dengan sungguh-sungguh dengan semangat kepentingan bersama.

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Nicholas Saputra, Poppy Siregar
Comment