MENELUSURI JEJAK BATIK TULIS DI LAMONGAN

MENELUSURI JEJAK BATIK TULIS DI LAMONGAN

Monday, 08-10-2018 | 18:37

Motif ikan bandeng dan lele, paling populer

 

Secara teknis proses pembuatan batik sama seperti batik-batik tulis pada umumnya, yakni diawali dengan menggambar pola batik di atas kain lalu dilanjutkan dengan proses pembatikan menggunakan canting. Hal yang menjadi pembeda hanyalah motif serta pemilihan corak warna, di mana tiap daerah mempunyai ciri serta keunikan masing-masing.

 

Adalah dua desa di Lamongan Jawa Timur yang letaknya berdampingan, Sendang Duwur dan Sendang Agung yang menjadi tempat berkumpulnya puluhan warga yang menekuni pekerjaan sebagai pembatik tulis. Seni membatik di Lamongan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15 yang dipopulerkan oleh seorang wanita bernama Dewi Tilarsih, istri dari Raden Noer Rochmat atau lebih dikenal sebagai Sunan Sendang. Kegiatan membatik ini merupakan warisan leluhur yang masih eksis dan mampu bertahan hingga sekarang.

 

Baca juga: "Batik 3 Nagari Lasem-Rembang"

 

Pada zaman dulu pekerjaan membatik merupakan kegiatan pokok para wanita di kedua desa tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan membatik ternyata juga diminati oleh para lelaki. Seperti misalnya yang dilakukan Ibu Khotim beserta suaminya Bapak Fadlan di Desa Sendang Duwur. Pasangan suami istri tersebut bekerja sama dalam proses pembuatan batik hingga batik siap diperjualbelikan. Mereka juga tak pernah absen mengikuti ajang perlombaan batik, bahkan beberapa kali berhasil menyabet gelar juara. Batik yang mampu mencuri perhatian juri hingga dinobatkan sebagai batik terbaik, kini menjadi barang koleksi Pemerintah Kabupaten Lamongan.

 

 

Ibu Khotim menuturkan bahwa kegiatan membatik adalah tradisi turun temurun yang diwariskan oleh keluarganya. Tak heran jika beliau terlihat begitu piawai saat memainkan canting karena seni membatik memang sudah dikenalnya sejak masa kanak-kanak.

 

 

Batik Lamongan memiliki karakteristik yang khas jika dibandingkan dengan jenis batik mana pun. Memiliki motif yang rumit dan kecil, sehingga seorang pembatik dituntut memiliki kesabaran dan ketelitian yang ekstra.

 

Baca juga: "Mengenal Lebih Dekat Batik Magetan"

 

Terdapat beberapa motif seperti pola-pola berbentuk bunga-bungaan dan burung. Namun saat ini yang paling populer adalah motif ikan bandeng dan lele, sekaligus menjadi penanda bahwa Lamongan sebagai daerah pesisir yang kaya akan hasil lautnya. Selain motif-motif di atas, pembatik juga memiliki kreativitas masing-masing. Seperti halnya Ibu Khotim, beliau mendapatkan sebuah inspirasi dari pohon sawo yang tumbuh di halaman rumahnya, hingga akhirnya lahirlah motif baru batik tulis Godhong Sawo atau daun sawo hasil kreasi dari Ibu Khotim.

 

Motif Godhong Sawo

 

Sementara untuk urusan corak warna, batik tulis Lamongan didominasi warna merah bata dan biru tua, namun saat ini terdapat pula warna-warna mencolok seperti kuning maupun merah muda. Harga batik tulis pun bervariasi, semua tergantung tingkat kerumitan motifnya. Disebutkan bahwa jika membeli batik tulis Lamongan langsung dari pembatik, biasa dijual dengan harga paling rendah Rp150.000 hingga jutaan rupiah. Lain cerita jika sudah masuk toko, harga jual bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipatnya.

 

Tidak ada salahnya kita membeli langsung dari pembatiknya. Selain mendapat harga lebih murah, kita juga diberikan kesempatan untuk melihat proses pembuatannya secara langsung maupun mendengar bagaimana sejarah awal mula batik lahir di daerah tersebut. Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung ini berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

 

 

Untuk menuju tempat ini, dari bandara Juanda Sidoarjo Surabaya gunakanlah taksi atau ojek online menuju Stasiun Gubeng, jaraknya sekitar 20 km atau kurang lebih 45 menit. Dilanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta api tujuan Lamongan kurang lebih 1 jam. Tiba di Stasiun Lamongan, gunakanlah kendaraan sewa baik roda dua maupun roda empat untuk melanjutkan perjalanan menuju Desa Sendang Duwur maupun Sendang Agung. Jaraknya sekitar 40 km atau kurang lebih butuh waktu 1 jam perjalanan. Untuk lebih jelasnya, silakan menghubungi Ibu Khotim, Pemilik Batik Chotifa (0856-4583-9311).

Teks & Foto: Arief Nurdiyansah

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


574

Back to Top