TAK ADA LAGI KANIBALISME DALAM SUKU KOROWAI DI PAPUA 2019-06-28 00:00

Rumah pohon suku Korowai

 

Mungkin Papua identik dengan Persipura, Puncak Carstenz Piramid, Raja Ampat, suku Asmat, Lembah Baliem, Trans Papua dan masih banyak lagi. Namun, masih banyak daya tarik lainnya, terutama yang ada di pedalamam dengan adat istiadatnya yang masih kental. Pernah mendengar suku Korowai dengan bentuk rumah pohonnya yang unik dan cara bertahan hidupnya yang masih sangat jauh dari kata modern?

 

Suku Korowai baru ditemukan pada tahun 1974 oleh misionaris Belanda. Berdasarkan peta wilayah kerja di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, tempat tinggal suku Korowai secara administratif masuk Distrik Yaniruma, meliputi Kampung Danowage dan Kampung Waena.

 

KAMPUNG DANOWAGE

Untuk menuju suku Korowai yang berada di Kampung Danowage ada beberapa transportasi alternatif dari Merauke. Bisa melalui jalur darat, sungai, dan udara. Menggunakan jalur darat dengan mobil double gardan terlebih dulu ke Kota Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel. Sekitar 9-10 jam perjalanan darat dengan kontur jalan yang sangat dahsyat –berupa tanah merah yang masih sangat rusak dan berlumpur. Apabila hujan melanda bisa sampai 2-3 hari untuk tiba di Tanah Merah. Baca perjalanan lintas Merauke-Tanah Merah di MyTrip vol 30/Februari-Maret 2018.

 

Selama perjalanan pemandangan kanan kiri pepohonan yang lebat dan sesekali terlihat beberapa rombongan warga sekitar yang berusaha menembus medan tanah yang berlumpur hanya untuk bisa membeli bahan sembako di Merauke.

 

Sesampainya di Tanah Merah harus sambung lagi menggunakan pesawat berbadan kecil dengan durasi satu jam jika cuaca cerah. Beda halnya ketika cuaca tidak bersahabat, harus menunggu hingga benar-benar cerah agar meminimalisir risiko kecelakaan di udara.

 

Kampung Danowage

 

Kendala menuju Kampung Danowage, tidak setiap hari ada penerbangan. Harus memesan tiket dulu untuk bisa menembus belantara hutan melalui kendaraan udara. Dan pada hari Minggu hanya ada penerbangan di sore hari  karena hampir semua kegiatan diliburkan. Jadi tidak ada yang bekerja, berburu, atau pergi ke hutan saat Minggu.

 

Pesawat mendarat di Bandara Korowai Batu di Danowage. Kanan-kiri terlihat pepohonan rindang nan hijau, sedap sekali dilihat.

 

SUKU KOROWAI IDENTIK DENGAN RUMAH POHON

Kita mungkin mengenal rumah pohon dalam cerita fiksi Tarzan. Tapi di Papua, rumah pohon itu benar-benar ada dan ditinggali oleh suku Korowai. Ya, suku Korowai saat ini masih tinggal di tengah belantara Papua, di atas pohon. Sebelum ditemukan oleh misionaris, mereka benar-benar tidak mengenal orang di luar kelompoknya.

 

Tidak seperti suku Papua yang lain yang tinggal di honai, suku Korowai tinggal di rumah pohon atau biasa disebut rumah tinggi. Tingginya antara 15 hingga 30 meter. Mereka membangun rumah di atas pohon untuk menghindari binatang buas dan gangguan roh jahat (swanggi). Mereka percaya bahwa semakin tinggi rumah mereka, semakin jauh dari gangguan roh-roh jahat.  

 

Suku Korowai tinggal di rumah pohon

 

Bahan-bahan untuk membuat rumah pohon berasal dari hutan dan rawa di sekitar mereka, seperti kayu, rotan, akar dan ranting pohon. Kerangka terbuat dari batang kayu kecil-kecil dan lantainya dilapisi kulit kayu. Dinding dan atapnya menggunakan kulit kayu atau anyaman daun sagu. Untuk mengikat, semua menggunakan tali dari serat rotan. Semua bahan dari alam dan proses pembuatan dilakukan dengan menggunakan tangan.

 

SUKU KOROWAI MENGANUT KANIBALISME?

Dulu Suku Korowai memang dikenal karena adanya perilaku kanibalisme. Namun sesungguhnya mereka hanya mempraktekkannya pada orang tertentu saja, seperti orang yang diduga sebagai dukun atau khuakhua. Hal ini dilakukan sebagai semacam hukuman bagi para khuakhua yang melakukan sihir dan dipercaya dapat menyebabkan kematian anggota suku lainnya. Jadi mereka makan daging manusia bukan tanpa alasan, ini bagian dari sistem peradilan pidana mereka. Setelah memakan habis tubuh khuakhua, mereka akan memukul-mukul dinding rumah tinggi mereka dengan kayu sambil bernyanyi semalaman.

 

Warga suku Korowai

 

Kini budaya kanibalisme sudah mulai ditinggalkan di antaranya karena sudah adanya kontak dengan dunia luar. Dan semenjak Pastor Paul dari Amerika masuk Kampung Danowage pada tahun 2003 untuk menyebarkan ajaran agama Kristen, banyak warga yang diminta turun dari rumah pohon untuk sekadar diajarkan bagaimana hidup selayaknya manusia. Bukan lagi menjadi manusia primitif. Pastor Paul juga mengobati warga yang sakit.

 

Baca juga: "Jangan Lewatkan Upacara Bakar Batu Kalau ke Wamena"

 

LARVA SEMUT SEBAGAI OBAT BATUK

Suku Korowai memang banyak memiliki cerita yang sepatutnya dibagikan. Salah satunya tentang larva semut yang dipercaya bisa menyembuhkan batuk. Penulis melihat sendiri bagaimana seorang anak 9 tahun memasukkan kumpulan semut yang dipegangnya perlahan-lahan ke mulutnya.  

 

Memakan larva semut

 

MATA PENCAHARIAN

Warga suku Korowai banyak yang pergi menangkap ikan dan mencari udang di aliran Sungai Diram dengan mendayung ketinting (perahu tradisional). Mencari ikan di suku Korowai tidak menggunakan alat pancing, melainkan menggunakan bubu yang terbuat dari bambu untuk menjerat ikan, terkadang juga menggunakan tombak. Mereka mencari ikan untuk makan sehari-hari. Di siang hari terkadang mereka berburu babi di tengah hutan. Sedangkan kaum wanita menokok sagu dan berladang.

 

Mencari ikan dengan mendayung ketinting

Teks: Irfan Ramdhani Foto: Eva Fauziah
Comment