KESEDERHANAAN MISA NATAL 2025 DI LUANG PRABANG LAOS 2026-01-08 21:05

Altar dengan dekor Natal kecil di sudut

 

Bagi yang beragama Katolik, apa kesan kamu waktu mengikuti misa Natal tahun 2025? Meriah? Banyak lampu? Pohon Natal berhias cantik? Atau misa besar yang penuh dengan umat berdesakan? Nah, di Kota Luang Prabang, Laos, misa besar-besaran nan meriah dan penuh umat tidak akan kamu temui. Plang besar bertuliskan nama Santo/Santa pelindung gereja pun tidak ada. Bahkan petunjuk adanya gereja Katolik pun tidak muncul di Google Maps. Tapi satu yang tidak bisa hilang, kebersamaan umat dalam perayaan sederhana hari Natal.

 

TIDAK ADA PETUNJUK KEBERADAAN GEREJA KATOLIK DI GOOGLE MAPS

Saat merencanakan liburan tahunan kali ini, kami memang ingin merasakan misa Natal di Negara Laos. Laos merupakan satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak memiliki perbatasan laut alias land locked country. Laos juga salah satu dari 5 negara komunis di dunia. Agama mayoritas di Laos adalah Buddha, jadi tidak heran banyak bertebaran temple-temple cantik di seluruh negara. Sebagai negara komunis, Pemerintah Partai Komunis Laos mengakui dan memperbolehkan kegiatan beragama, termasuk agama minoritas seperti Kristen, Katolik dan Islam. Jumlah umat Katolik di Laos hanya 100.000 jiwa.

 

Kami sampai ke Kota Luang Prabang, salah satu kota di Laos, tanggal 24 Desember 2025 malam dan berencana mengikuti misa Natal tanggal 25 Desember 2025. Lucunya, posisi gereja Katolik di Luang Prabang tidak ada di Google Maps. Informasi didapatkan dari website Tripadvisor yang menjelaskan ada gereja Katolik dengan jadwal misa rutin hari Minggu jam 8 pagi. Posisi gereja berada di dekat tempat plang petunjuk Thong Bay Guest House. Berdasarkan saran Tripadvisor tersebut, tanggal 24 Desember jam 9 malam kami memutuskan menyewa tuktuk untuk menelusuri tempat di sekitar plang Thong Bay Guest House.

 

Kira-kira jam 9.15 malam, di tengah kegelapan, kami berhenti dengan bingung di dekat plang tersebut. Akhirnya kami memutuskan mengunjungi Thong Bay Guest House dan menanyakan posisi gereja. Untunglah salah satu petugas resepsionis mengetahui posisi gereja tersebut dan mengantarkan kami ke sana. Ternyata posisinya berada tak jauh di sisi kiri plang Thong Bay Guest House dan agak menjorok masuk ke dalam. Puji Tuhan ternyata masih ada umat yang berada di depan gereja dan kami menanyakan jadwal misa Natal esoknya. Ternyata ada 1 misa berbahasa Lao di jam 8 pagi.

 

Gang kecil tersembunyi menuju gereja

 

MISA YANG SEDERHANA TAPI KHIDMAT

Tanggal 25 Desember 2025 kami sengaja tiba 1 jam lebih awal (dengan niat ingin “war” tempat duduk seperti di Indonesia). Ternyata begitu kami datang, gereja masih sepi dan terdapat tenda besar berisi meja-meja bundar serta kursi-kursi di sekelilingnya seperti untuk pesta. Kami akhirnya memutuskan berfoto-foto di sekitar gereja. Seorang romo yang ramah datang menyapa kami, dan kami mengajak beliau berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Sesudah itu masuk ke dalam gereja yang kecil dan sempit ini. Gedung gereja menempel ke pastoral dan ada connecting door terbuka.

 

Dekorasi Natal di halaman gereja

 

Berfoto dengan Cardinal Laos Louis-Marie Ling Mangkhanekhoun sebelum misa

 

Peralatan audio yang jauh dari megah

 

Tidak seperti gereja Katolik pada umumnya, di mana biasanya di dinding terpampang berurutan 14 peristiwa jalan salib, pada gereja ini tidak ada. Sungguh hanya ada hiasan Natal sederhana, bangku tempat duduk pun tidak banyak. Hanya 3 lajur dan masing masing hanya 4 baris ke belakang.  

 

Gambar Bunda Maria dalam balutan baju khas Lao. Gambar Bunda Maria seperti ini juga kami temui di Gereja Katedral Vientiane, Ibu kota Laos

 

Uniknya, untuk masuk gereja umat harus melepaskan alas kaki. Akhirnya misa Natal dimulai tepat jam 8 pagi setelah diawali doa litani (?) --kami kurang paham karena berbahasa Lao. Kami duduk agak depan (baris kedua). Siapa sangka, misa berbahasa Lao ini juga dihadiri lumayan banyak warga negara asing seperti kami (ras bule/Kaukasoid). Umat tidak banyak dan hanya sedikit yang duduk di luar gereja.

 

Hanya sedikit bangku yang disiapkan di luar gereja

 

Sepanjang misa berbahasa Lao, petugas berbaju biasa bergantian menjadi lektor (pembaca ayat Alkitab) dan Lagu Mazmur tidak dinyanyikan. Putra altarnya ternyata adalah seorang romo muda. Semua berlangsung khidmat dan sederhana walaupun kami tidak memahami bahasanya. Lucunya ternyata romo yang berfoto bersama kami tadi adalah Cardinal Louis Marie Ling Mangkhanekhoun!! (Cardinal adalah Uskup yang ditunjuk langsung oleh Paus sebagai perwakilan negara Laos). Sungguh suatu kehormatan bagi kami, karena kami sendiri belum pernah berfoto bersama Cardinal Indonesia. Cardinal memimpin misa disertai 5 romo (pastor) di kanan dan kirinya serta memberikan homili dalam Bahasa Prancis dengan sangat fasih. Memang dulu Laos sempat dijajah Prancis. Kami jadi kagum, karena belakangan kami mengetahui bahwa Cardinal Laos ini memang menguasai banyak bahasa, tak heran pada pagi harinya beliau menjawab kami dalam Bahasa Inggris.

 

Misa Natal yang dipimpin oleh Cardinal dan 5 romo

 

Akhirnya misa selesai, kami pun bersiap pulang. Tiba-tiba  dengan ramah salah seorang petugas mengajak kami bergabung dalam acara makan-makan di tenda depan geraja. Tidak dengan Bahasa Inggris tapi dengan bahasa isyarat. Kami ditempatkan bersama umat lain (sayangnya mereka juga tidak bisa berbahasa inggris). Salah seorang romo yang ikut memimpin misa menyempatkan bertanya kepada kami dengan Bahasa Inggris, dari manakah kami berasal. Romo kaget saat mengetahui kami dari Indonesia, ternyata mereka semua menyangka kami dari Filipina. Bukan dari negara yang terkenal berpenduduk Muslim terbanyak. Ya memang mirip sih wajah kami dengan orang Filipina. Uniknya ternyata sebagian besar umat termasuk romo yang menyapa kami berasal dari Vietnam.

 

Sesudah misa, semua diundang untuk makan bersama

 

Akhirnya setelah berdoa (tentunya dalam bahasa Lao), kami dipersilakan makan makanan Lao yang disajikan dan ternyata enak sekali. Acara (walaupun kami tidak mengerti bahasanya) berlangsung meriah diiringi musik Natal dari speaker kecil. Cheers dengan minuman bir bolak-balik dikumandangkan dari tiap-tiap meja. Sungguh seru dan akrab.

 

Hidangan khas Lao yang lezat besama minuman-minuman (bir dan soda)

 

Setelah makan, kami izin pulang dan mereka dengan suka cita melepas kami, bahkan ingin membawakan kami makanan!! Bagaikan melepas saudara yang ingin pergi jauh. Padahal semua komunikasi dilakukan dengan bahasa isyarat. Tidak ada bahasa lisan yang terucap, hanya bahasa kasih lewat gesture yang berbicara. Hmm… sungguh Natal yang sangat berkesan.

 

Sungai Mekong di belakang gereja, terdapat akses masuk gereja melalui sungai 

 

Teks: Veronica Vera Desyani Wiraja Foto: Audrey Kaiya Laonma Wiraja Lumban Gaol, Thomas Neal Marulitua Lumban Gaol
Comment