WAIKELO SAWAH ITU GUA DAN DAM, WEEKACURA ITU AIR TERJUN BERTINGKAT DI TENGAH SAWAH. KEDUANYA BEDA, TAPI BERDEKATAN 2020-06-25 00:30

Weekacura, air terjun bertingkat

 

Waikelo Sawah di Pulau Sumba NTT itu memang ‘mengecoh’. Ada blog orang luar negeri yang menyatakan kekecewaannya begitu melihat Waikelo Sawah Waterfall hanyalah sebuah dam yang airnya bersumber dari gua. Dia bilang, kalau dari awal disebut dam mungkin dia tidak kecewa. Well, bisa dipastikan dia hanya datang ke Waikelo Sawah, tapi tidak mampir ke Weekacura yang masih satu aliran air dengan Waikelo Sawah dan sama-sama berlokasi di Desa Tema Tana Kecamatan Wewewa Timur Kabupaten Sumba Barat Daya. Dan si bule itu juga kemungkinan ‘korban’ tulisan di beberapa wesbite yang asal copas mencampuradukkan deskripsi tentang Waikelo Sawah dan Weekacura. Begitulah....

 

Weekacura berada di tengah persawahan, di mana terdapat aliran air yang membentuk air terjun mini bertingkat-tingkat di bawah pohon beringin besar. Dan memang foto-foto Weekacura pun agak mengecoh. Foto yang dipajang di beberapa website termasuk yang dijadikan foto utama artikel ini adalah hasil foto drone, bird eye view. Di mana terlihat kolam-kolam alaminya berwarna hijau turkuois dengan undak-undakan air terjun mini. Kalau kita melihat air terjunnya langsung, nggak bisa bird eye view karena nggak ada bukit yang bisa dinaiki di sekitarnya, memang nggak sespektakuler itu. Karena air terjunnya walaupun bertingkat-tingkat, tapi pendek-pendek. Dan antara tingkat yang satu dan lainnya agak jauh, dipisahkan kolam alami, jadi nggak bisa sekaligus terlihat semuanya oleh kita. Paling banter kita bisa melihat seperti hasil foto di bawah ini.

 

Weekacura yang terlihat tanpa bird eye view

 

Tapi terlepas dari apa pun, baik Waikelo Sawah yang berupa gua dan dam, maupun Weekacura yang berupa air terjun mini bertingkat-tingkat tetap patut buat didatangi. Mata sejuk memandangnya. Dan kalau ngerti motret yang bagus, kita bisa dapat foto cihuy di dua tempat ini.

 

Berfoto keren di Weekacura

 

Kecohan kedua yang sering dialami banyak orang adalah, dikira Waikelo Sawah adalah objek wisata berupa sawah. Memang sih di hadapannya ada persawahan membentang. Tapi spot utamanya ya sungai bawah tanah yang airnya mengalir keluar melalui mulut gua dan akhirnya turun ke sawah. Sebelum turun ke sawah, aliran air yang membentuk kolam kecil di mulut gua ini dibendung untuk irigasi, keperluan air bagi warga sekitar dan tenaga listrik. Ya, dam Waikelo Sawah yang dibangun tahun 1976 ini memang awalnya adalah PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Menjadi PLTA pertama di Sumba. Sumber airnya tak pernah kering di musim kemarau panjang sekalipun.

 

Waikelo Sawah, sungai bawah tanah yang airnya mengalir keluar dari mulut gua dan dibuat bendungan di bawahnya

 

Untuk ke Waikelo Sawah maupun Weekacura dari Tambolaka (kota gerbang masuk Pulau Sumba di Sumba Barat Daya) +/-45 menit berkendara ke arah Wewewa (baca: Wejewa). Sedangkan antara kedua tempat itu berjarak sekitar 15-20 menit berkendara.

 

Baca juga: "Percaya Deh, Sekali Tak Akan Cukup ke Bukit Wairinding di Sumba"

 

Dari lokasi parkir Waikelo Sawah nggak perlu berjalan jauh, kita langsung akan menemukan jembatan yang berada di atas bendungan. Dari situ guanya belum kelihatan jelas. Jadi disarankan untuk naik dan susuri pematang yang terbuat dari tembok di samping bendungan sebelah kiri. Pada bagian awal pematangnya cuma selebar +/-40 cm, tapi panjangnya hanya beberapa meter saja, lalu pematangnya melebar. Memang bagi yang limbung, ini cukup mendebarkan apalagi kalau pas airnya sedang deras. Mau minta pegangin orang lain juga agak sulit karena harus jalan satu-satu.

 

Seberangi jembatan di atas bendungan, lalu naik dari sisi kiri

 

Begini jalur pematang temboknya, sempit, tapi hanya sepanjang beberapa meter, lalu di depannya melebar

 

Sampai di ujung barulah ada semacam teras yang nggak lebar tapi lumayanlah untuk tempat foto-foto dan dari situ kita bisa melongok ke bagian dalam gua. Terlihat ada stalaktitnya juga. Dan tampaknya di bagian dalam gua ada lubang atau celah di mana sinar matahari bisa menembus masuk. Terlihat bayangan cahaya di permukaan air biru kehijauan tak jauh dari mulut gua yang bisa kita lihat.

 

Memotret gua dari ujung sini

 

Pantulan cahaya matahari di permukaan air di dalam gua

 

Walaupun di internet bisa kita temukan foto-foto orang berdiri di tepi gua, turun dari teras dam, MyTrip sarankan untuk tidak melakukannya, apalagi saat air sedang deras karena cukup bahaya. Memang sih ada cerita, ada tim ekspedisi yang berhasil berenang masuk ke dalam. Tapi ceritanya juga nggak jelas. Well, sudahlah, nggak perlu penasaran di dalam gua kayak apa dan sumber airnya dari mana. Cukup nikmati saja dan foto-foto di depan mulut gua. Gunakan lensa lebar untuk hasil foto yang lebih bagus.

 

Berfoto dengan lensa lebar di depan mulut gua

 

Kolam di bawah dam ini tidak direkomendasi untuk direnangi ya. Walaupun memang dalam kondisi debit air kecil, terlihat anak-anak lokal berenang di sini.

 

Meskipun debit airnya sedang kecil, tidak disarankan berenang di sini

 

O ya, di aliran air bagian bawah, setelah jembatan, ada batu yang cukup menarik perhatian. Di batunya ada ukiran wajah, sekilas seperti batuan purba. Tapi aaah, ternyata itu buatan, bukan asli. Tapi yang mau foto di situ bisa, asal tetap memperhatikan debit airnya.

 

Seperti batu purba tapi ternyata bukan

 

Bentangan sawah yang ada di depan bendungan dan di dekat tempat parkir juga nggak kalah menarik untuk diabadikan apalagi kalau pas ada awan dombanya. Di sisi kanan dekat parit-parit dan aliran air dari dam terlihat aktivitas warga mencuci pakaian. Anak-anak juga terlihat mandi-mandi di sini.

 

Sawah di depan area parkir Waikelo Sawah

 

Menikmati Waikelo Sawah nggak perlu bayar apa-apa, belum diberlakukan tiket masuk. Tapi ya fasilitas juga nggak ada. Nggak ada toilet. Tapi kita bisa menumpang toilet di rumah warga.

 

Nah kalau ke Weekacura, mobil diparkir saja di tepi jalan di area persawahan. Di sini ada yang jaga dan mengutip biaya Rp25.000 per mobil. Dari situ untuk ke lokasi air terjun harus jalan kaki beberapa menit melewati pematang sawah, dan harus menyeberangi parit yang cukup lebar. Kalau ragu, mintalah bantuan untuk melompati parit ini. Tapi overall nggak terlalu sulit untuk mencapai air terjunnya.

 

Harus menyeberangi parit untuk ke Weekacura

 

Pertama-tama kita akan melihat kubangan atau kolam air alami yang cukup dangkal di bawah pohon beringin. Untuk mendapatkan sudut atau spot foto yang bagus harus terus turun ke bawah melewati batu-batu dan aliran air. Harus hati-hati karena ada bagian batu yang licin dan tentu ada bagian kolam yang cukup dalam. Air kolam alaminya di sini juga hijau turkuois, bagus banget. Di lokasi ini juga nggak ada fasilitas apa-apa.

 

Di sinilah lokasi Weekacura, di bawah pohon beringin

 

Kolam alami yang pertama akan kita lihat begitu tiba di Weekacura

 

Puas menikmati kesejukan di sini, berfoto-foto di pematang sawah juga bisa menjadi pilihan sebelum kita kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Dari Waikelo Sawah biasanya rombongan trip lanjut ke Kampung Adat Prai Ijing, berkendara 30 menit.

 

Berfoto di pematang sawah

 

Berjalan kembali menuju parkiran mobil

 

Baca juga: "6 Alasan Kenapa Kamu Harus ke Pantai Mandorak di Sumba"

 

Catatan khusus: Kedua tempat wisata ini nggak cocok untuk anak-anak di bawah 9 tahun karena tidak ada pagar pembatas. Kalaupun anak-anak di ajak ke sini, hanya sampai jembatan (di Waikelo Sawah), dan sampai tepi bagian atas tanpa turun ke air (di Weekacura), itu pun harus diawasi.

 

Anak-anak di bawah 9 tahun kalau ke Weekacura cukup berdiri di atas sana

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Lie Senjaya, Mayawati NH, Patrys Joy, Shinta Djojonegoro, Suhari, Verita Amahorseya
Comment