PULAU SENUA DI NATUNA, BENTUKNYA MIRIP WANITA HAMIL YANG SEDANG REBAHAN 2020-05-30 00:00

Bentuknya unik, airnya jernih

 

Kalau dilihat dari jauh, Pulau Senua yang termasuk salah satu pulau terluar di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau ini memang mirip wanita hamil yang sedang rebahan di rumah aja. Ada kepala dan bagian perut yang menonjol. Memang ada legenda urban tentang wanita hamil yang berubah menjadi pulau. Tapi tentu bukan karena bentuk uniknya yang membuat pulau ini menarik sebagai destinasi liburan. Air lautnya yang sangat jernih, pasir putih halusnya, dan ketenangan yang ditawarkan membuat banyak wisatawan senang datang ke sini. Nggak afdol juga ke Natuna kalau nggak ke Pulau Senua.

 

AKTIVITAS YANG BISA DILAKUKAN

Begitu sampai di pulau tak berpenghuni ini perahu kita akan merapat di dermaga apung yang sudah permanen, menggantikan dermaga lama yang masih terlihat di sebelahnya. Di ujung dermaga ada tulisan “Selamat Datang di Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Natuna, Karang Taruna Desa Sepempang”. Di selasar beratap ini kita bisa duduk-duduk ngadem dulu sebelum melanjutkan aktivitas mengeksplor pulau.

 

Kapal merapat di dermaga apung

 

Dari dermaga menuju pantai

 

Selamat datang

 

Bekas dermaga lama

 

Berhubung di pulau ini belum ada fasilitas toilet dan kamar bilas (memang ada toilet di rumah singgah yang sudah dibangun oleh pemerintah setempat, tapi tidak ada air bersihnya), jadi disarankan main air dan snorkelingnya belakangan. Berjalan kaki saja dulu di atas halusnya pasir pantai ke arah kanan dari dermaga. Di sini terdapat pantai landai yang lebar dan panjang. Kalau sedang musim liburan atau akhir pekan di sinilah biasanya para pengunjung bermain air atau duduk-duduk di pasir. Atau sekadar berfoto-foto dengan latar gradasi air laut dan Gunung Ranai yang mendominasi pemandangan Pulau Natuna yang terlihat dari Pulau Senua.

 

Kalau sedang musim liburan, pantainya ramai

 

Berfoto-foto seru di pantainya

 

O ya bila datang tepat saat musim penyu bertelur, di pantai sisi inilah penyu-penyu mendarat dan bertelur.

 

Di pantai sisi inilah penyu-penyu bertelur

 

Terus berjalan nyaris ke ujung, tampak tanjung kecil, yang sekilas seperti pulau kecil terpisah, dan di atasnya ada mercusuar yang sudah tidak beroperasi. Kalau punya banyak waktu bisa berjalan sampai ke tanjung atau pulau kecil ini. Berfoto-foto dari situ ke arah pantai dengan latar Gunung Ranai, cantik!

 

Foto dari balik tanjung atau pulau karang kecil ke arah Gunung Ranai

 

Kalau mau snorkeling kita bisa memulainya dari pantai sempit yang ada di antara dermaga apung dan pulau batu kecil yang di atasnya juga ada pondokan kayu yang tadinya sebagai rumah singgah. Jangan lupa peralatan snorkeling dan jaket pelampung bagi yang butuh harus bawa sendiri dari Kota Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna, homebase selama di Natuna. Atau kita juga bisa memulai snorkeling dengan melompat dari dermaga bagian depan.

 

Memulai snorkeling bisa dari sini

 

Dermaga bagian depan

 

Terumbu karangnya nggak terlalu rapat tapi cukup berwarna, dan kejernihan airnya membuat kita betah berlama-lama di air.

 

 

 

 

Karena di pulau nggak ada kantin atau warung, jadi harus membawa perbekalan makan dan terutama minuman sendiri ya. Habis snorkeling kita perlu minum yang banyak.

 

O ya, di pulau ini ada gua yang merupakan sarang burung walet. Tapi lokasinya cukup jauh, harus jalan kaki masuk hutan dan sedikit mendaki ke arah kepala pulau sekitar 40 menit.

 

Baca juga: "Di Natuna Ada Batu Rusia Lho... Mampir Yuk!"

 

LEGENDA URBAN DI BALIKNYA

Pulau Senua terletak di ujung Tanjung Senubing, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Arti kata Senua dan Senubing dalam bahasa setempat berhubungan erat dengan legenda urban yang diyakini dan beredar di kalangan warga lokal. Senua berarti satu tubuh berbadan dua. Sedangkan Senubing artinya hamil.

 

Jadi legendanya begini. Dulu, ada suami istri miskin yang tinggal di satu daerah di Natuna. Suaminya bernama Baitusen, sedangkan istrinya Mai Lamah. Mereka mengadu nasib ke Pulau Bunguran yang terkenal memiliki banyak kekayaan laut, terutama kerang dan siput. Pulau Bunguran tak lain adalah Pulau Natuna Besar. Awalnya, sebagaimana warga lain, Baitusen bekerja sebagai nelayan pencari kerang dan siput, dan Mai Lamah membantu membuka kulit kerang untuk dibuat perhiasan.

 

Baca juga: "Mari Mengenal Natuna Lewat Pantai Batu Kasah"

 

Nasib baik berpihak pada mereka saat Baitusen menemukan sebuah lubuk teripang. Sejak itu, ia tidak pernah lagi mencari kerang dan siput, hanya fokus mencari teripang yang lebih menguntungkan karena bisa dijual mahal ke Singapura dan Cina.

 

Singkat cerita mereka pun menjadi nelayan kaya raya. Kehidupan berubah, perilaku Mai Lamah pun berubah menjadi angkuh dan kikir. Ia tak mau lagi bergaul dengan para tetangganya yang miskin. Saat Mak Semah, tetangganya yang baik hati, datang meminjam beras, Mai Lamah mencibirnya. Baitusen pun tak berdaya mengingatkan istrinya. Karena kelakuannya itu, para tetangga pun akhirnya menjauh.

 

Hingga suatu ketika Mai Lamah hendak melahirkan dan butuh bidan. Meskipun Baitusen memohon bantuan Mak Semah yang adalah seorang bidan dan warga lainnya, tetapi tak ada yang bersedia menolong. Baitusen akhirnya mengajaknya ke pulau seberang untuk mencari bidan. Malang, gelombang laut yang besar membuat perahu mereka tenggelam. Baitusen dan istrinya memang berhasil menyelamatkan diri sampai ke pantai di Bunguran Timur. Namun tanah Bunguran tak mau menerima Mai Lamah. Tubuhnya pun menjelma menjadi pulau dalam keadaan berbadan dua. Sementara emas dan perak yang melilit di tubuh Mai Lamah menjelma menjadi burung layang-layang putih atau lebih dikenal dengan burung walet.

 

Bentuk pulaunya mirip ibu hamil yang sedang rebahan di rumah aja

 

CARA KE NATUNA

Untuk ke Natuna ada penerbangan connecting yang transit di Bandara Hang Nadim Batam. Ada Wings Air setiap Senin sampai Sabtu dan Sriwijaya Air 4 kali dalam seminggu. Penerbangan Jakarta-Batam ditempuh selama 1 jam 45 menit. Sementara Batam-Natuna 1 jam 25 menit. Bandaranya berada di dalam kota Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit dari bandara ke pusat kota Ranai.

 

 

CARA KE PULAU SENUA

Dermaga penyeberangan di Teluk Baruk

 

Untuk menuju pulau yang berjarak 3 mil dari garis pantai Pulau Natuna Besar dan berada di wilayah Desa Sepempang ini, dari Kota Ranai ke dermaga Teluk Baruk Sepempang dulu, berkendara sekitar 15 menit. Lalu lanjut perjalanan laut dengan menyewa pompong (kapal kayu) nelayan setempat selama kurang lebih 30 menit. Harga sewa perahu untuk pulang pergi sekitar Rp500.000.

 

Deretan pompong yang siap mengantar

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer), Arief Naen (www.ayokenatuna.com) Foto: Arief Naen, Hendra Yuwono, Jetty Mardona, Mayawati NH, Priyo Tri Handoyo
Comment
Granitelacroix

Thank you for writing this awesome article. I'm a long time reader but I've never been compelled to leave a comment. I subscribed to your blog and shared this on my Facebook. Thanks again for a great post! https://www.granitelacroix.com/

2020-08-12
Candida

I simply could not depart your web site prior to suggesting that I extremely enjoyed the standard info an individual supply on your guests? Is going to be again incessantly to inspect new posts I could not resist commenting. Very well written! I have been surfing online more than three hours these days, but I by no means found any interesting article like yours. It is pretty value sufficient for me. Personally, if all webmasters and bloggers made excellent content material as you probably did, the internet will probably be much more useful than ever before. http://marketing.com

2020-06-21