CERITA PELAKU WISATA DI SELURUH INDONESIA TENTANG KONDISI PARIWISATA TERKINI SELAMA PANDEMI DI DAERAHNYA 2020-10-30 06:15

Keindahan Pantai Wayag di Raja Ampat. Raja Ampat sepi di masa pandemi

 

Kondisi industri pariwisata akibat pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal Maret 2020 di Indonesia hingga hari ini masih memprihatinkan. Terdorong untuk mencari tahu kondisi sesungguhnya, MyTrip melakukan survey kecil-kecilan terhadap 28 orang pelaku pariwisata dari hampir semua wilayah di Indonesia yang sebagian besar pernah bekerja sama dengan MyTrip (seharusnya ada 32, tapi 4 belum sempat menjawab wawancara tertulis via online sampai tulisan ini diunggah). Memang pastinya belum 100% mewakili, tapi sebarannya sudah cukup merata.

 

Dari Sumatera ada 2 (Nias Sumut dan Natuna Kepri), dari Jawa juga 2 (Sukabumi Jabar dan Malang Jatim), Bali ada 1, Lombok ada 2, NTT ada 5 (Flores 2, Sumba 1, Pulau Sabu 1, Timor 1), Kalimantan ada 3 (Derawan Kaltim, Tanjung Puting Kalteng, Pontianak Kalbar), Sulawesi ada 1 (Labengki Sultra), Maluku ada 2 (Pulau Saparua dan Pulau Kei), Maluku Utara 1 dari Pulau Morotai, Papua Barat ada 9 (semuanya dari Raja Ampat dan/atau Misool), Papua ada 1 diwakili Wamena.

 

Baca juga: “100+ Destinasi Wisata Domestik yang Bisa Jadi Pilihan di Era Next Normal. Bagian 10 (Tamat): Maluku, Maluku Utara, Papua Barat & Papua

 

MAYORITAS TAK ADA TAMU SAMA SEKALI SELAMA 8 BULAN

Semua pelaku wisata yang menjadi responden mengonfirmasi bahwa kondisi pariwisata di daerah mereka mati suri, tiarap, sepi total, hampir 8 bulan kosong tanpa ada tamu sama sekali. Kalaupun ada, baru mulai 3-4 bulan belakangan, itu pun kebanyakan tamu lokal, bener-bener lokal dari daerah tersebut. Atau pejabat yang melakukan kunjungan dinas lalu dilanjutkan dengan berwisata. Tamu dari Jakarta dan Bandung memang sudah ada, tapi sedikit sekali dan baru ke daerah tertentu.

 

Raja Ampat misalnya, terdampak sangat parah. Maklum, selama ini tamu bule, khususnya untuk menyelam, masih mendominasi. Dari 9 responden yang terdiri dari pemilik/pengelola resor atapun homestaytravel agent ataupun penyewaan speedboat yang berbasis di Kota Sorong, juga freelance guide, ada 6 yang mengungkapkan tidak menerima tamu sama sekali sejak Maret. Hanya Ade Setiabudi (38 tahun) dari Waigeo Villa yang pernah menerima 1 grup dari Sorong; Zakarias Wader (43), freelance guide yang kini menjadi staf magang di Dinas Pariwisata Raja Ampat, yang sempat memandu rombongan pejabat dari Jakarta maupun Sorong; dan Rina Rustiana (44) dari Rental Speedboat Kharisma di Sorong yang sempat melayani 3 grup dari Sorong dan Jakarta.

 

Zakarias Wader, pemandu Raja Ampat

 

Indra Franzpower (30), freelance guide Misool dan Raja Ampat, mengaku ada 3 grup yang seharusnya dia bawa tapi semua dibatalkan karena pandemi. Saat ini bukingan dari tamu bule non-diving sudah mulai ada, itu pun untuk Oktober tahun depan. Sama dengan Indra, Frans (42) dari Penginapan Surya di Waisai, ibu kota Raja Ampat, juga sudah ada bukingan tapi untuk tahun depan. Dia juga mash menutup penginapannya karena peraturan daerah masih berubah berubah. “Spot-spot wisata sudah dibuka tapi peraturannya masih simpang siur. Kondisi pun belum kondusif,” kata Frans. 

 

Indra Franzpower, pemandu Misool & Raja Ampat

 

Kekosongan tamu ke Raja Ampat salah satunya disebabkan kapal penumpang dari Sorong ke Waisai yang tadinya sehari dua kali, sejak pandemi dan pemerintah daerah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), menjadi tak menentu jadwalnya. Bahkan kadang tak beroperasi sama sekali.

 

Baca juga: “Pariwisata di Era Next Normal: Yuk Kita Ramaikan Wisata Domestik Aja Dulu

 

TAK ADA PENERBANGAN MASUK, BELUM DIBUKANYA AKSES TURIS ASING JUGA MENJADI SEBAB KEKOSONGAN

Kekosongan yang cukup parah juga dialami Tanjung Puting di Kalimantan Tengah yang memang tamunya kebanyakan bule. Dengan masih ditutupnya akses bagi turis asing masuk wilayah Indonesia hingga saat ini, menurut keterangan dari Lisa (32) dari CV Satria Majid Tour, wisata Tanjung Puting mati total sudah 8 bulan. Tak ada tamu sama sekali. “Ada tamu domestik yang nanya-nanya, tapi setelah saya bilang harus rapid test karena memang itu aturannya, mereka nggak jadi,” cerita Lisa.

 

Wisata Tanjung Puting

 

Pulau Morotai di Maluku Utara juga terdampak sangat serius. Terutama karena selama pandemi tidak ada lagi penerbangan komersial ke Morotai, cuma sampai Ternate. “Yang mendarat di Morotai cuma pesawat dari TNI,” ungkap Muhlis Eso (40), pemandu Morotai yang juga pengelola Museum Swadaya Perang Dunia II. “Tak ada yang berkunjung, saya kosong sama sekali. Pariwisata di sini sangat terpuruk,” lanjutnya.

 

Muhlis Eso, pemandu Morotai

 

Bandara Leo Wattimena di Morotai sementara tutup bagi penerbangan komersial

 

Papua, provinsi terjauh dari Jakarta, juga mengalami nasib sama. Hal ini diungkapkan Edison Meliala (53), pemilik Putra Papua Tours & Travel yang berbasis di Kota Wamena. “Travel kami sama sekali tidak ada tamu, benar-benar tidak ada kegiatan sama sekali. Pariwisata di Papua dan Papua Barat sedang kolaps, benar-benar memprihatikan,” ujarnya.

 

Edison Meliala, pemilik Putra Papua Tours & Travel di Kota Wamena

 

Satu lagi yang mengalami efek parah adalah para pemandu lokal Bali yang khusus melayani tamu asing, di antaranya tamu khusus berbahasa Mandarin (dari Tiongkok, Taiwan). Batal dibuka kembali untuk wisatawan asing per 11 September 2020, maka pemandu-pemandu Bali khusus tamu asing pun terpaksa gigt jari. D, 37 tahun, pemandu khusus tamu Mandarin, misalnya, tak melayani tamu satu pun sejak Maret 2020. Dan meskipun Bali perlahan sudah didatangi banyak tamu domestik sejak dibuka kembali 31 Juli 2020, “Dari pengamatan saya, sejauh ini kondisi masih sangat sepi, tarutama daerah Kuta. Beberapa mal pun masih beroperasi hingga jam 8 atau 8.30 malam saja,” jelasnya.

 

Baca juga: “100+ Destinasi Wisata Domestik yang Bisa Jadi Pilihan di Era Next Normal. Bagian 8: Kalimantan

 

Pelaku wisata dari daerah lainnya yang menjadi responden MyTrip juga ada yang sama sekali belum pernah mendapatkan tamu lagi sejak Maret, tapi daerahnya tidak mengalami kekosongan total meskipun tamu yang datang hanya sebatas warga setempat dan pejabat yang sedang berdinas. Ada juga beberapa responden yang cukup beruntung sudah mendapatkan tamu lokal bahkan dari Jakarta, tapi jumlah dan frekuensinya masih amat sangat sedikit. Simak penuturan mereka di artikel selanjutnya.

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Dok. Indra Franspower, Dok. Zakarias Wader, Eny InDesign Bali, Mario Susilo, Mayawati NH
Comment
Janessa Maynard

Hi, I was just checking out your site and submitted this message via your feedback form. The feedback page on your site sends you these messages via email which is the reason you're reading through my message right now right? This is the most important achievement with any type of advertising, getting people to actually READ your message and this is exactly what you're doing now! If you have something you would like to blast out to tons of websites via their contact forms in the US or to any country worldwide let me know, I can even focus on particular niches and my costs are very low. Reply here: dalosrafael9183@gmail.com discontinue seeing these ad messages https://bit.ly/2xN75Pz

2020-11-05