APA BEDA IMLEK, SIN CHIA, KONYAN, DAN SIN NIEN? 2024-02-08 22:35

 

Tahun Baru Imlek di Indonesia dikenal juga dengan beberapa istilah lain yaitu Sin Nien, Kuo Nien, Konyan, dan Sin Chia. Sedangkan di dunia Barat tentunya dikenal sebagai Chinese New Year, Lunar New Year ataupun Spring Festival. Nah, Trippers penasaran apa makna semua istilah itu? Apakah sama atau beda? Ingin tahu juga kenapa Tahun Baru Imlek 2024 ini adalah Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili? Bagaimana perhitungannya? Kalau berdasarkan kalender bulan/lunar, kenapa selalu jatuh antara Januari dan Februari, tidak maju terus seperti Idul Fitri yang juga berdasarkan pergerakan bulan? Dan apa sih makna utama Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa di seluruh dunia?

 

Baca juga: “Koh Konyan Koh, Hongbao Nalai?

 

TENTANG ANEKA ISTILAH

Mari kita bahas soal istilah atau penyebutan Tahun Baru Imlek yang bermacam-macam itu ya.

- Sin Nien (pelafalan dalam dialek Hokkien) atau dalam ejaan Mandarin “Xin Nian” artinya adalah “tahun baru”. Xin= baru, Nian= tahun.

- Kuo Nien (pelafalan dalam dialek Hokkien) atau dalam ejaan Mandarin “Guo Nian” artinya adalah “melewati tahun”, maksudnya tahun yang lama telah lewat/berlalu. Guo= melewati/menjalani, Nian= tahun.

- Konyan, nah kalau ini hanyalah pelafalan lain dari Kuo Nien. Jadi artinya sama, “melewati tahun”.

- Sin Chia (pelafalan dalam dialek Hokkien) atau dalam ejaan Mandarin “Xin Zheng” artinya adalah “permulaan yang baru”, maksudnya sama saja dengan tahun baru. Xin= baru, Zheng= awal, permulaan, pertama.

- Imlek (pelafalan dalam dialek Hokkien) atau dalam ejaan Mandarin “Yinli” artinya kalender lunar. Karena tahun barunya berdasarkan penanggalan Imlek, maka Imlek diasosiasiakn sebagai tahun baru itu sendiri.

 

Jadi jangan bingung ya Trippers, semua istilah tersebut bisa dan biasa dipakai untuk mewakili Tahun Baru Imlek.  

 

Baca juga: “Bingung Mau Ngucapain Apa Saat Tahun Baru Imlek? Ini Dia Contekannya

 

TENTANG TAHUN KONGZILI

Sepengetahuan MyTrip, istilah Kongzili dipopulerkan mungkin baru satu dekade terakhir. Kongzili adalah sebutan untuk sistem kalender atau penanggalan berdasarkan pergerakan bulan mengelilingi bumi. Dulu-dulu dikenal dengan sebutan Tahun Imlek, atau dalam ejaan Mandarin “Yinli”, yang artinya kalender lunar.

 

Nah, kenapa tahun 2024 ini Tahun Kongzili atau Imleknya sudah menginjak tahun 2575, lebih tua 551 tahun dari kalender Masehi (Yangli, berdasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari)? Itu karena kalender lunar ini dihitung berdasarkan tahun kelahiran Nabi Kong Hu Cu (Kongzi) yakni pada tahun 551 SM. Kenapa Kong Hu Cu? Karena Nabi Kong Hu Cu ini pada masa hidupnya di daratan Tiongkok banyak berjasa dalam membangun karakter bangsa dan juga memandu para petani Tiongkok zaman dulu dalam bercocok tanam. Jadi sekaligus terjawab juga mengapa kalender Imlek/Yinli disebut juga Kongzili.

 

Pertanyaan selanjutnya, kenapa kalau mengikuti pergerakan bulan (yang notabene lebih pendek), Tahun Baru Imlek tidak pernah maju terus tanggalnya dalam penanggalan Masehi, tidak seperti Idul Fitri yang juga berdasarkan pergerakan bulan? Itu karena dalam kalender lunar orang Tionghoa (Imlek atau Kongzili) dikenal yang namanya “lun” atau bulan muda pada tahun-tahun tertentu.

 

Baca juga: “Merah Meriah Pernak-Pernik Imlek

 

TENTANG SPRING FESTIVAL

Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Spring Festival atau Festival Musim Semi karena setiap tahunnya memang jatuh pada awal musim semi. Awal musim semi berarti adalah penghujung atau penghabisan musim dingin di mana di negara empat musim seperti Tiongkok aktivitas pertanian tak bisa dilakukan saat musim dingin. Begitu musim semi tiba, tiba pulalah musim awal bercocok tanam. Makanya para petani berpesta, riang gembira menyambutnya.

 

Baca juga: “Mengenang Tradisi Kue Keranjang

 

TENTANG MAKNA TAHUN BARU IMLEK

Di belahan bumi mana pun, Tahun Baru Imlek dimaknai utamanya sebagai momen kumpul keluarga, family reunion. Tak heran beberapa hari terakhir menjelang Imlek ini stasiun kereta/bus maupun bandara-bandara di China sangat sibuk, banyak yang pulang kampung demi berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Bukan hanya bertemu dan melepas rindu dengan keluarga inti --orangtua dan saudara kandung-- tapi juga dengan keluarga besar maupun teman sepermainan masa kecil, juga ‘bertemu’ dengan leluhur yang sudah meninggal (dengan cara sembahyang di meja abu atau meja altar). Makanya ada tradisi Sa Cap Meh (makan malam bersama keluarga inti di tanggal 30 bulan 12), juga ada tradisi “Pai Nien (Bai Nian)” yaitu saling kunjung dan mengucapkan selamat Tahun Baru. Tentang tradisi-tradisi lainnya bisa dibaca di sini dan di sini.

 

Bersembahyang ke altar leluhur

 

Makan besar Sa Cap Meh

 

Makna lainnya yang sering juga digaungkan adalah membuang atau melupakan yang buruk-buruk di tahun yang sudah lewat, dan menyambut hal yang baik-baik di tahun yang baru dimasuki. Makanya ada tradisi bersih-bersih rumah sebelum datangnya tahun yang baru. Ada tradisi memakai pakaian baru serba merah dan mendekor rumah serba merah dengan lampion maupun kertas-kertas syair. Tentang warna serba merah, ada legenda yang melatarbelakanginya, silakan baca di sini.

 

Salah satu dekorasi Imlek, kembang mei hwa

 

Xin Nian Kuai Le, Nian Nian You Yu, Shen Ti Jian Kang, Dong Cheng Xi Jiu. Happy Chinese New Year 2024/2575!

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Jason Leung on Unsplash, Mayawati NH
Comment