GUA SUNYARAGI CIREBON: ANTARA PUTRI CINA DAN MITOS PERAWAN TUA

GUA SUNYARAGI CIREBON: ANTARA PUTRI CINA DAN MITOS PERAWAN TUA

Wednesday, 08-05-2019 | 17:55

 

Cirebon memiliki kekayaan wisata sejarah dan budaya. Selain keraton, di sana ada sebuah tempat berstatus cagar budaya yang memiliki sejarah panjang. Tentu saja, tempat ini wajib hukumnya dikunjungi bila bertandang ke Kota Udang di Provinsi Jawa Barat ini. Tempat ini bernama Tamansari Gua Sunyaragi. Namun, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Gua Sunyaragi. Nama Sunyaragi sendiri berasal dari kata “sunya”artinya sepi dan “ragi” artinya raga. Definisi tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta.

 

PROFILNYA & SEJARAHNYA

Luas kompleks Sunyaragi sekitar 18.460 m2. Pemandangan indah dan bangunan-bangunan berbahan karang, mayoritas berbentuk gua, akan mempesona mata siapa pun yang berkunjung. Objek wisata yang satu ini memiliki sejarah panjang dan kisah yang menarik.

 

Menurut buku Album Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Direktorat Sejarah dan Purbakala, 1980) ---mengutip Purbawaka Caruban Nagari-- Kompleks Taman Sari Sunyaragi dibangun pada 1703 oleh Pangeran Pararangen atau Pangeran Aryo.  

 

Sontolojo, penulis artikel di Pantjawarna edisi Oktober 1952 menyebutkan, kompleks Taman Sari Sunyaragi pernah dijadikan tempat tinggal Putri Cina. Sang penulis mengatakan, bangunan itu merupakan kreasi arsitek Tiongkok bernama Po Toa Lang.  

 

Bukti keberadaan orang Tionghoa di sana, menurut Sontolojo, ditemukannya piring-piring Tiongkok kuno. Namun, saat ini piring-piring itu tak lagi bisa kita lihat dan temukan. Konon, kata si penulis, dari dalam gua --entah gua yang mana-- terdapat jalan di bawah tanah menuju Gunung Ciremai, Kuningan.

 

Keberadaan Putri Cina itu dijelaskan secara gamblang oleh Lee Khoon Choy di dalam bukunya A Fragile Nation; The Indonesian Crisis (World Scientific Publishing Company, 1999). Menurutnya, Putri Cina itu bernama Ong Tien, yang dipersunting Sunan Gunung Jati. Ong Tien sendiri wafat setelah tiga tahun ada di Jawa.

 

Khoon Choy menulis, Ong Tien dan Sunan Gunung Jati kemudian tinggal di sebuah bangunan lantai tiga berbatu bata merah dah gua beton, yang disebut Taman Sunyaragi. Saat itu, di kompleks tersebut masih terdapat air terjun, dan area yang indah dengan danau serta kebun kecil.

Informasi lain, dari Caruban Kandha menyebutkan, kompleks tersebut dibangun lantaran Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga berubah fungsi jadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon. Kemudian, terjadi perluasan Keraton Kasepuhan Cirebon pada 1529.

 

Terlepas dari banyaknya versi waktu pembangunan Taman Sari Sunyaragi, Khoon Choy menyebut, situs-situs terpencil --seperti Sunyaragi-- secara tradisional dimanfaatkan para bangsawan untuk mencari pengetahuan dan kekuatan batin.

 

Menariknya, kompleks ini pun pernah dijadikan sarana aktivitas militer. Khoon Choy mengatakan, dahulu Sunyaragi pernah menjadi gudang senjata. Lebih lanjut ia menjelaskan, para partisan Pangeran Diponegoro, kala Perang Jawa (1825-1830), menyusun strategi perang melawan Belanda di sini. Ketika Belanda mencium gelagat mereka, para serdadu kolonial menghancurkan patung dan bangunan di sana. Lantas, pada 1853, Sunyaragi dipugar kembali, dengan bantuan seorang arsitek Tiongkok.

 

Pada 1937-1938 Belanda kembali melakukan pemugaran. Terakhir, pemerintah Indonesia memugar kompleks bebatuan itu dari 1976 hingga 1984.

 

Baca juga: "Alternatif Weekend Trip: Menyambangi Kebun Bawang di Majalengka"

 

LOKASINYA & TIKETNYA

Lokasi Tamansari Gua Sunyaragi sangat strategis, masih di dalam wilayah Kota Cirebon, di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Cirebon. Tepatnya di Jalan bypass Brigjen H. Darsono, yang merupakan akses utama antarkota, yakni Bandung-Jawa Tengah dan Jakarta-Jawa Tengah. Berhati-hatilah, sebab banyak sekali truk-truk antarkota yang melintas, dan hindari jam-jam padat kendaraan.

 

Dengan tiket seharga Rp10.000, kita bisa dibuat takjub oleh keindahan bangunan yang mayoritas berbahan batu karang itu. Kita bisa mengambil foto dari berbagai sudut. Kita pun bisa menjelajah, masuk ke dalam gua-gua kecil yang ada di dalam kompleks ini. Menyusuri lubang-lubang sempit, mirip bermain teka-teki.

 

 

SPOT-SPOT MENARIKNYA

Gua Sunyaragi bukanlah nama gua yang tunggal. Di sini ada 10 gua yang bisa dijelajahi, yakni Gua Pengawal, Simayang, Padang Ati, Pandai Kemasan, Pawon, Lawa, Kelanggengan, Langse, Argajumut, dan Peteng. Arsitekturnya berbentuk gunung-gunungan, mirip rumah semut. Selain batu karang, kayu dan batu bata menjadi bahan bangunan kompleks ini.

 

Dulu sepertinya kompleks ini dikelilingi sebuah kolam. Hal itu terlihat jejaknya, berupa tanah yang agak menjorok ke bawah.

 

Melewati sebuah jembatan kecil berbahan beton --sepertinya jembatan tambahan, bukan asli-- kita akan melewati sebuah bangunan berbentuk joglo yang bernama Bale Kambang. Di bawahnya terlihat bekas sebuah kolam. Kemudian kita dapat menelusur ke dalam celah-celah gua yang sempit. Terkadang buntu.

 

Selain Bale Kambang, ada sejumlah bangunan berbentuk joglo lainnya, yakni Mande Beling dan gedung Pesanggrahan. Gaya arsitekturnya Indonesia klasik atau Hindu. Gaya arsitektur itu menunjukkan perpaduan sinkretisme yang kuat di masa silam.

 

Pada 1996 tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pernah menerbitkan laporan situs-situs cagar budaya dalam bentuk buku berjudul Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I. Taman Sari Gua Sunyaragi disebutkan di sana.

 

Menurut buku tersebut, bangunan pasenggrahan merupakan bangunan berbentuk rumah tinggal (depan dan belakang) dan dilengkapi sebuah kolam. Bangunan ini memiliki dua buah kamar, dengan ukuran 4,8 x 5,5 m. Di antara dua kamar itu terdapat ruangan berukuran 5 x 5,5 m. Ruangan ini tanpa penyekat, sehingga tampak sebagai penghubung antara teras depan dan belakang. Bangunan itu bergaya Eropa, dan ada unsur-unsur lokal yang dicirikan dengan atap berbentuk limas.

 

Kamar panembahan terdiri dari kamar hias, serambi, dan pelataran. Kamar keputren terdiri dari kamar mandi, kamar rias, serambi, pintu belakang, balai kambang, cungkup balai kambang.  

 

Usai menjelajah gua-gua itu, cobalah naik ke sebuah puncak berumput, tanah paling tinggi di area kompleks ini. Pemandangan luas kompleks Sunyaragi yang indah itu akan tersingkap jelas.

 

 

Selain sejarahnya yang panjang, Sunyaragi pun menyimpan mitos. Ada sebuah patung --dikenal sebagai Perawan Sunti-- yang menurut kepercayaan, bila ada seorang perawan yang menyentuhnya ia akan menjadi perawan tua. Dan, ada Gua Kelanggengan yang konon membuat enteng jodoh kalau masuk ke dalamnya.

 

CARA KE SANA DARI JAKARTA

- Naik kereta dari Stasiun Pasar Senen. Tiketnya bervariasi. Kelas Ekonomi hingga Eksekutif dibanderol Rp49.000 hingga Rp355.000 sekali jalan. Banyak alternatif angkutan jika kita sudah sampai di Stasiun Cirebon. Dari Stasiun Cirebon ke Gua Sunyaragi kalau mau praktis bisa naik ojek daring. Kalau ingin naik angkutan kota, bisa naik angkot D5, turun di perempatan Jalan Wahidin. Lalu, naik angkot D2, turun di Jalan Brigjen Darsono.

- Naik mobil pribadi, bisa melalui Jalan Raya Pantura. Jika mau lebih cepat, bisa langsung bablas masuk ke Tol Cikampek-Palimanan (Cipali).

- Naik bus, bisa menggunakan bus yang mengarah langsung ke Terminal Cirebon dari Terminal Kampung Rambutan.

 

Bila Anda berasal dari luar Jawa, bisa menggunakan pesawat ke Jakarta atau Bandung. Kemudian, dilanjut menggunakan kereta atau bus.

 

 

 

Teks & Foto: Fandy Hutari

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


750

Back to Top