ARUNACHAL PRADESH, PENGALAMAN INDIA YANG BERBEDA. BEYOND YOUR EXPECTATIONS! 2024-04-24 23:30

MyTrip bersama Sange dan Tashi dengan latar Air Terjun Nuranang

 

“Kamu tahu Tawang dari mana? Kenapa pengen ke Tawang?” Begitu pertanyaan yang terlontar dari mulut Sange Tsering, pemandu sekaligus pemilik travel company yang menjemput kami (saya dan Hema) pagi itu di Lokpriya Gopinath Bordoloi International Airport, Guwahati, Assam, India. Di tengah deru mobil gagah Mahindra Scorpio di jalanan khas kota besar India, Hema bercerita, penyanyi Sonam Topden-lah yang berjasa “mengenalkan” Tawang, salah satu kota di Negara Bagian Arunachal Pradesh, North East India. Video konser penyanyi kelahiran Tibet yang menetap di Kathmandu yang digelar di Tawang sempat mampir di linimasa Hema. Jadilah Hema penasaran dengan Tawang. “Thank you to Sonam Topden!” kata Sange sambil tertawa.

 

I Love Tawang

 

Kami berdua memang terobsesi dengan wilayah Himalayan Ranges. Dimulai dari ke Tibet tahun 2010, menyusul Bhutan, Nepal, Ladakh, Sikkim. Dan akhirnya 9 April 2024 kami menginjakkan kaki pertama kali di Arunachal Pardesh.

 

ARUNACHAL PRADESH BUKANLAH INDIA YANG KITA KENAL

Percayalah, Arunachal Pradesh (selanjutnya saya singkat AP saja), bukanlah India yang kita kenal. Beda banget!

 

Pertama, tentu penampakan orang-orangnya. Dua orang pertama yang kami temui, Sange dan Tashi, lebih mirip orang Asia non-India. Dilepas di Glodok pun mereka bisa nyaru jadi orang Indonesia, haha. Begitu juga wajah-wajah berikutnya yang kami temui selama 8 hari di AP.

 

Sange dan Tashi, lebih mirip orang Asia non-India

 

Pemilik sekaligus chef Sumi Naga Kitchen di Kota Bomdila, seperti orang Indonesia ‘kan…

 

Kedua, sikap mereka juga lebih ramah dan baik --kami merasa seperti sedang berada di Bhutan. Nggak ada tuh cerita dikejar-kejar dan dipaksa beli sama penjaja di lokasi wisata, atau ditongkrongin staf hotel di depan pintu kamar demi rupee. Mau motret wajah-wajah mereka, tinggal bilang aja, pasti nggak keberatan. Mamak-mamak penjual di Ama Market Bomdila semua mau difoto dan ramah walaupun kita nggak beli. Memang ada juga seorang nenek di Desa Jangda nggak mau difoto tapi lebih karena malu.

 

Mamak-mamak penjual di Ama Market Bomdila

 

Ketiga, dialek mereka nggak sama dengan orang India pada umumnya padahal mereka ngobrol pakai Bahasa Hindi! Seruan “Acha Acha…” masih sering mampir di telinga kami. Tapi “Nehi…nehi…” rasanya sih tidak pernah.

 

Keempat, AP belum banyak dieksplor bahkan oleh orang lokal India sekalipun, jadi jauh dari keramaian dan kegaduhan ala India dengan tat-tet-tot klaksonnya. Malah saat tengah malam, sunyi senyapnya sungguh terlalu. Mengeksplor AP sungguh memberikan pengalaman India yang sangat-sangat berbeda.

 

Arunachal Pradesh, masih perawan. Pengalaman India yang berbeda

 

Baca juga: "Panduan Cerdas Eksplor Arunachal Pradesh (Bagian 1)"

 

BAGAIMANA SOAL MAKANAN?

Memang masih berbau India. Kari, masala, lentil soup, roti alias chapatti, puri, parata, thali mendominasi. Tapi tentu ada juga poha (mirip nasi kuning), chow mien alias mie goreng, juga momo, si penganan andalan Himalaya. Bosan? Tenang saja, Sange sigap memodifikasi menu, bahkan berhasil mengarahkan chef penginapan hingga mampu menghadirkan makan malam berupa sup ayam dengan aneka sayuran yang mirip dengan sup di rumah kami.  Wowww…. Diet pun gagal.  

 

Puri dan dal

 

Sup ayam nan lezat pun tersaji di meja makan kami

 

Beberapa kali, makan siang kami juga sangat istimewa. Karena kami sering menyebut Nagaland, salah satu state tetangga AP, Sange mengajak kami mampir di Sumi Naga Kitchen di Kota Bomdila, masakan khas Nagaland yang maknyusss. Karinya beda lho! Saya pun sukses menghabiskan satu mangkuk besar. Padahal sup lentil alias dal yang satu mangkuk kecil pun jarang bisa saya habiskan.

 

Menu makan siang kami di Sumi Naga Kitchen, mengundang selera

 

Masuk ke wilayah Tawang, kami digiring makan siang di rumah Tashi, driver kami. Di ruang tamunya yang sederhana, telah terhidang aneka rupa masakan yang menggugah selera. Kami pun berkenalan dengan keluarga Tashi.

 

Udah, itu aja? Tentu tidak! Kami dihadiahi makan siang with a view di atas ketinggian di Desa Jangda saat program trekking. Nasinya khas, dicampur irisan daun apa saya lupa. Program ini pun dadakan. Mendengar kami suka trekking, Sange ngide trekking! Padahal kami nggak sedang dalam trekking-mode. Tapi sayang menolak tawaran ini. Kami hanya diinfo, tingkat kesulitannya mirip jalur ke Tiger’s Nest Bhutan, sepanjang jalur bisa melihat keindahan Air Terjun Nuranang dan tujuan akhirnya adalah sebuah desa Suku Monpa (salah satu suku utama di AP). Siapa nyana snack time dan picnic lunch telah rapi disiapkan.

 

Pemandangan Air Terjun Nuranang, highlight jalur trekking kami. Inilah para trekking buddy kami plus Sange yang memotret

 

View dari tempat makan siang

 

Diundang ngeteh oleh warga lokal

 

Semi picnic lunch lain digelar Sange di sebuah danau kecil yang biasa jadi tempat chill out warga lokal di Bomdila. Tepat saat Hema berulang tahun. Ya, ini adalah birthday trip bagi Hema. Mengidamkan bisa melakukannya di Bhutan, ternyata kesampaiannya di AP.

 

Baca juga: "Panduan Cerdas Eksplor Arunachal Pradesh (Bagian 2-Tamat)"

 

APA HIGHLIGHT ARUNACHAL PRADESH?

Hanya empat kota yang bisa masuk dalam itinerary kami selama 8 hari: Bomdila, Tawang, Dirang, dan Shergaon. Belum lengkap memang, tapi sudah cukup mewakili keindahan,  keunikan dan bukti sejarah di AP.

 

Dirang Dzong, salah satu bukti sejarah panjang di AP

 

Topografi AP lengkap. Pegunungan berbalut salju yang digenapi danau-danau, deretan bukit berlapis-lapis yang sering diselimuti lautan kabut dan ditemani ngarai garang maupun lembah syahdu, sungai yang membelah pedesaan di sisi kiri dan kanannya, hamparan sawah, ladang penduduk lokal, air terjun tepat di tepi jalan, flora dan fauna yang beragam, dan banyak lagi. Cuaca yang masih dingin di bulan April tapi dengan sinar matahari yang ramah menyapa, membuat suasana tambah paripurna. Apalagi dengan kehadiran bunga rhododenron berwarna merah optimis yang sedang mekar. Sepertinya mirip dengan Indonesia ya kecuali pegunungan bersalju dan rhododendronnya? Ya, kalau hanya membayangkannya lewat rangkaian kata, memang bisa disimpulkan sama. Tapi melihatnya langsung tentu berbeda. AP menyajikan kecantikan dengan caranya sendiri dan ya… tiap tempat memiliki keunikan masing-masing.

 

Pegunungan berbalut salju dan danau

 

Deretan bukit berlapis-lapis

 

Bunga rhododendron

 

Daya tarik AP tak hanya dipancarkan oleh alamnya, tapi juga oleh budayanya yang masih asli dan kental, serta sejarahnya yang kaya. Dulunya wilayah ini diduduki beberapa kerajaan yang pengaruhnya kuat. Tak heran kalau banyak peninggalan monastery-monastery maupun monumen bersejarah lainnya dan reruntuhan situs arkeologi. Jejak sejarah yang tak boleh lupa disebutkan adalah rute pengungsian Dalai Lama XIV dari Tibet masuk ke India melalui Arunachal Pradesh. Juga rumah masa kecil Dalai Lama VI di Tawang.

 

Dirang Monastery

 

Jejak sejarah: salah satu rute pengungsian Dalai Lama XIV

 

Sejarah kelam peperangan juga tak asing di telinga penduduk AP karena wilayah ini diperebutkan India dan China. Bahkan hingga kini. Tak heran wisatawan lokal apalagi mancanegara masuk ke sini membutuhkan permit (akan dibahas di artikel selanjutnya). Di sepanjang jalan juga banyak pos pemeriksaan.

 

Budaya dan sejarah ini memberi nilai tambah bagi AP dan menawarkan dimensi serta romantika yang berbeda bagi siapa pun yang berkunjung. Tapi kunjungan ke beberapa tempat sarat sejarah dan budaya menjadi tak ada artinya kalau kita tidak mendengarkan cerita otentiknya dari pemandu. Sange sangat menguasainya, maklum pengalamannya sudah 18 tahun, dimulai dari usianya yang belia, 15 tahun! Lagipula sebagai akamsi, lahir dan besar di AP tepatnya Bomdila, Sange kenal banyak orang. Tak jarang dia bertegur sapa dengan orang lokal yang kebetulan berpapasan. Bahkan beberapa bhiksu di monastery juga mengenalnya sangat baik. Kami sampai ditawari mampir dan minum butter tea melulu. Masuk ke desa-desa yang masih sangat asli, dia pun berulang kali bertukar salam. Tentu hal ini membuat kita sebagai turis mudah mengajak penduduk lokal berinteraksi, selain memang penduduk lokalnya juga ramah dan tulus. Mengambil foto wajah orang lokal bukan jadi masalah di AP, begitu juga mengambil foto dan video di dalam monastery. Nggak seperti di Tibet yang mesti bayar dan di Bhutan yang sama sekali dilarang.

 

Rumah ini mungkin tak berarti apa-apa kalau kita tak diceritakan sejarahnya. Inilah rumah masa kecil, atau sering disebut rumah ibunda Dalai Lama VI

 

Bisa nonton orang lokal sedang bermain di Desa Dirang Dzong

 

Bebas memotret di dalam monastery

 

Saat sebuah perjalanan tak membuat kita kangen akan rumah, bisa disimpulkan itulah perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya merasa terlambat mengenal Arunachal Pradesh. Tapi percayalah, it is true if something comes late in your way, then it must be very special.

 

Nggak kangen rumah

 

NEXT EPISODE

Sekali tentu tak akan cukup untuk menjelajah Arunachal Pradesh, apalagi kalau ditambah states lainnya di North East India. Terkenal sebagai 7 sisters: Arunachal Pradesh, Nagaland, Meghalaya, Manipur, Tripura, Mizoram, Assam, dan 1 brother: Sikkim. Mana dulu next episode-nya? Tanda yang muncul di akhir perjalalanan kami hadir dalam bentuk seorang wanita muda cantik yang menyapa saya di boarding room Bandara Netaji Subhash Chandra Bose International Airport di Kolkata West Bengal. Dia berasal dari Meghalaya!

 

Panduan cerdas eksplor Arunachal Pradesh lanjut di artikel berikut ya… Info lebih lanjut tentang tour ke North East India hubungi MyTrip di 0811821006

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Hemawati NH, Mayawati NH, Sange Tsering, Dok. MyTrip
Comment