Soto Kemiren Jepara
Kalau mendengar kata “Jawa Tengah”, biasanya kita langsung ingat pada Semarang atau Solo. Padahal, Jawa Tengah masih menyimpan banyak hidden gem ke arah timur dari Semarang, di daerah yang juga dikenal sebagai “Bumi Kartini” --Kudus dan Jepara!
Jepara memang cukup jauh dari Jakarta, meskipun tol Trans Jawa sekarang sangat mempermudah perjalanan. Perjalanan total dengan mobil memakan waktu sekitar 8 jam, dan rehat makan siang cocoknya di Tegal!
Tegal punya andalan: Sate Kambing Cempe Lemu!
Jangan kaget, kalau sampai di Cempe Lemu jam 10 pagi, tempat parkir sudah penuh! Ya, orang Tegal bahkan sarapannya pun sate kambing. Tegal adalah episentrum sate kambing Nusantara. Di sini sate dibakar dengan sedikit bumbu dan segudang pengalaman. Mas yang di pembakaran sate wajahnya serius, mengibas kipas bagaikan Jet Li mengadu jurus. Dengan sedikit bumbu, daging kambing akan menghadap pelanggan tanpa perlindungan! Gosong, mentah, alot, semua dosa akan terbuka. Meskipun terlihat biasa saja, namun keahlian pembakar sate adalah koentji! Di tengah “serbuan” sekitar 40-50 tusuk sate di hadapannya, nyalinya tidak ciut, dan ketika sate tersaji, semuanya matang dengan sempurna… bahkan termasuk bagian lemak dan hati yang lebih sulit prosesnya.
Kepiawaian juru bakar Sate Kambing Cempe Lemu
Dagingnya lembut, tidak overcook, sehingga aromanya sedap dan teksturnya mantap. Lemaknya pas potongannya, renyah gosong di ujungnya namun lembut cair tengahnya bagaikan coklat Dubai. Hatinya, selembut sutra! Ada cita rasa logam yang khas karena haemoglobin darah, membawa rasa sepat-pahit yang mengimbagi daging dan lemak tadi. Wow, luar biasa!
Sedapnya Cempe Lemu
Dari Tegal, perjalanan masih sekitar 2 jam lagi sebelum kami mencapai Semarang dan naik tol layang Demak dengan pemandangan indah. Ada aura yang berbeda ketika sampai di Jepara: suasana “pantai” bergaya Jawa yang santai dan lebih tenang, kondisi yang lebih natural, serta suasana desa yang kental. Inilah “Sanur”-nya Jawa! Karena meskipun terlihat “ndeso”, seperti di Sanur, Jepara punya banyak restoran internasional: ada pizza sedap di Lucca, ada restoran Jepang Konyubi Sushi, bahkan roastery seperti Chang Coffee. Ini karena industri furnitur jati di sini sudah lama menjadi penghubung antara Jepara dan dunia internasional.
Untuk santap malam khas Jawa, ada Sriya. Restoran ini cukup luas, punya ruang VIP ber-AC, meskipun sebagian besar tidak. Interiornya cantik dengan ornamen kuno seperti televisi dan telepon. Ada menu khusus yang kita cari di sini: urap latoh! Latoh adalah sea grapes, rumput laut berbulir yang ketika digigit akan meletus melepaskan rasa bahari yang khas. Hanya bisa disajikan mentah, taburan kelapa dalam bumbu urap menjadi padanan yang serasi untuk latoh. Kemudian, ada sup manten dan selat solo, dua hidangan bukti pengaruh Kerajaan Mataram di sini. Sup manten biasa disajikan dalam upacara pernikahan di Solo, sup bening kuah ayam berisi jamur, sayuran, dan daging ayam. Selat solo hadir otentik, dengan rasa kuah manis-asam khas dan ketimun tanpa biji yang segar. Kemudian ada tiga hidangan dengan presentasi menarik: sego wiwitan, nasi dengan lauk-pauk dan gorengan yang dibuat seperti tumpeng, dan aneka gorengan yang disajikan di atas tampah beralaskan daun pisang. Menarik!
Sup manten
Selat Solo
Sego wiwitan
Santap siang berikutnya adalah tujuan utama kami: Resto Gora. Resto Gora (@resto_gora) dikomandani oleh Iin Simon, seorang chef asal Jepara. Resto Gora bisa melayani pemesanan online maupun pesanan santap siang di lokasi rumah keluarga Iin Simon. Siap-siap masuk ke dunia Jawa Kuno, karena andalan Gora adalah seafood khas Jawa.
Set up meja di Resto Gora
Kalau di Sriya ada urap latoh, di sini ada pecel latoh! Latoh segar bersanding dengan kembang turi, rumput laut, cacahan nangka muda kukus, kacang panjang, tauge, dan daun selada air. Kemudian, bumbu pecel gurih sedikit pedas, menjadi pemersatu bangsa. Ini bukan fusion, tetapi kembali ke akar, karena bahan-bahan ini boleh jadi sudah dimasak nenek moyang Jawa zaman dulu. Apalagi disantap bukan dengan nasi, tetapi dengan “sagu terakhir di Jawa”: namanya horog-horog. Dibuat dari sagu aren, bentuknya berbulir seperti nasi, dan rasanya mirip nasi porang tetapi lebih ada rasanya. Selain dengan pecel, horog-horog juga jadi makanan pokok dan disantap dengan mangut ikan asap, ayam goreng, udang bakar, dan soto kemiri --soto ayam berkuah bening khas dari wilayah Kemiri alias Kemiren. Sedap!
Pecel latoh
Horog-horog, sagu Jawa
Pecel latoh dan horog-horog
Udang dan ikan bakar
Soto kemiren
Sebagai kudapan, ada juga kue lapis Jawa dan gempol pleret --adonan tepung beras yang dikepal (bahasa Jawa disebut “gempol”) dan dipleret alias ditekan dengan dua telapak tangan membentuk lapisan bundar. Uniknya horog-horog, selain makanan pokok, cocok juga dicampur dengan gempol pleret dan disiram santan manis. Pokok bisa, penutup bisa. Memang hebat sagu kita!
Gempol pleret
Setelah puas di Jepara, kami menuju Kudus. Di sini suasana berbeda: dari aura pedesaan menuju aura industri! Tapi, bukan industri serba gelap dan berasap. Bangunan-bangunan pabrik besar berjajar di kiri dan kanan namun cantik dan mengkilap, jalanan pun bersih dan tertata rapi. Ya, Kudus adalah tempat lahirnya Djarum, salah satu grup perusahaan terbesar di Indonesia. Kita melihat “kota kecil” yang makmur karena hadirnya industri di situ, di mana kegiatan produksi bersinergi dengan lingkungan dan masyarakat, bukannya saling merusak dan rebutan jatah. Fakta ini terlihat ketika kami berkunjung ke Taman Djarum Foundation --pintu masuknya meskipun megah dengan sebuah tugu yang melambangkan rokok kretek kebanggaan Kudus dan Indonesia, tetapi halamannya dipenuhi warga Kudus yang santai berolahraga, menikmati fasilitas umum gratis dan nyaman yang tidak dibangun dengan uang pajak. Ketika masuk ke dalam, kami bisa menikmati sebuah hutan kota di tengah kompleks Djarum, melalui sebuah gapura besar. Gapura ini berwarna kuning tembaga, tingginya menjulang sekitar 10 meter, menggambarkan dua tangan menyokong bola dunia dengan peta Indonesia, melambangkan tekad Djarum berkontribusi untuk Nusantara. Melalui taman ini kita bisa melihat bagaimana Djarum Foundation bekerja untuk bangsa melalui lima bagian yakni Bakti Sosial, Budaya, Lingkungan, Pendidikan, dan yang paling terkenal Bakti Olahraga yang mengelola pelatihan bulutangkis PB Djarum.
Tugu Djarum
Gapura Djarum Foundation
Sudut Bakti Olahraga di Taman Djarum Foundation
Kemudian, setelah berjalan menikmati hutan kota di sore hari, kami bergerak ke Rumah Kudus, sebuah rumah kayu tradisional khas Kudus yang menjadi bagian dari kompleks Djarum. Di sini kita bisa melihat asal-muasal kejayaan teknik pengolahan kayu khas Kudus dan Jepara dalam bentuk rumah yang penuh ukiran cantik. Rumah berdinding kayu ukir yang disebut “gebyok” ini dikembalikan ke bentuk aslinya, termasuk posisi dapur dan sumur. Sebuah penghormatan akan tradisi, fasilitas budaya yang sekali lagi tidak dibangun dengan pajak, tetapi tak kalah cantik dengan museum kota.
Rumah Kudus
Detail interior Rumah Kudus
Tentu saja di Kudus kulinernya menarik! Untuk mencicipi cita rasa Kudus, bisa langsung ke pusatnya: Taman Bojana! Taman jajan makanan khas Kudus dan kali ini kami mampir ke Soto dan Pindang Kudus H Sulichan. Soto Kudus memang khas, mangkuk kecil dengan kaldu dan irisan bawang putih goreng, daging ayam atau kerbau. Di sini juga ada pindang kudus, hidangan yang menggunakan bahan unik: daun melinjo muda. Rasanya sedikit manis dan mak nyus!
Soto Kudus H Sulichan
Pindang Kudus
Selain makanan tradisional, Taman Bojana juga memiliki kios hidangan khas Tionghoa seperti warung Cik Mien yang menyajikan comfort food seperti nasi goreng dan cap cai. Setelah Taman Bojana, ada satu lagi khas Kudus yang perlu dicicipi: Sate Kerbau Pak Min Djastro. Kerbau sudah menjadi “identitas” kuliner Kudus, dan warung Pak Min Djastro adalah KTP-nya. Di lokasi sederhana yang agak gelap, Pak Min (generasi kedua) duduk setia di depan memegang kipas berukuran besar, berbeda dengan kipas sate kambing Tegal. Namun prinsipnya sama: kenikmatan daging ditentukan oleh kibasan kipas ini. Karena daging kerbau seratnya besar dan membutuhkan panas arang yang lembut dan konstan untuk membuatnya empuk. Bumbunya khas, manis dan berempah, tidak seperti sate lainnya. Di remang-remang warung ini, kami menikmati sate kerbau yang empuk dan sedap sambil menutup kunjungan kali ini. Antara Kudus dan Jepara, kami jatuh cinta!
Cik Mien di Taman Bojana
Pak Min membakar sate kerbau
Sate Kerbau Pak Min Djastro
Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Kang Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, Nasgor, Makanan Sejuta Mamat dan bersama Bondan Winarno (alm) dan Lidia Tanod menulis buku serial 100 Mak Nyus. Kang Harnaz juga aktif di Gerakan Fermenusa, yang bertujuan memajukan produk fermentasi Nusantara. Mengelola channel Youtube "Indonerdsia" dan "Fermentasi Nusantara".