BENTENG YANG TERABAIKAN DI AMBARAWA INI SEBENARNYA INSTAGENIC LHO!

BENTENG YANG TERABAIKAN DI AMBARAWA INI SEBENARNYA INSTAGENIC LHO!

Saturday, 22-09-2018 | 08:48

 

Indonesia memiliki beragam kekayaan yang memiliki nilai historis, salah satunya berupa benteng yang merupakan bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda. Sebut saja Fort Vredeburg di Yogyakarta, Fort Van der Wijck di Kebumen Jawa Tengah ataupun Fort Rotterdam di Makassar Sulawesi Selatan. Tempat-tempat ini telah menjadi destinasi wajib kunjung saat menyambangi daerah-daerah tersebut.

 

Baca juga: "Itinerary Makassar-Maros-Toraja 5 Hari"

 

Namun ada satu benteng yang nasibnya tak semujur benteng-benteng yang disebut di atas. Namanya pun asing, Fort Willem 1, di Ambarawa Jawa Tengah. Jarang sekali orang yang pernah mendengarnya. Benteng peninggalan masa penjajahan Belanda yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah ini dibiarkan tak terawat. Nampak semak belukar dan tumbuhan lumut menempel di sekitaran dinding benteng sehingga meninggalkan kesan kumuh.

 

 

Bicara sedikit soal sejarah, ketika VOC berkuasa di Jawa Tengah, Ambarawa dipilih sebagai salah satu lokasi paling strategis karena lokasinya berada di antara Semarang dan Surakarta. Hingga akhirnya VOC membangun sejumlah benteng di sepanjang jalur Semarang – Ungaran – Salatiga – Surakarta.

 

Membutuhkan waktu sekitar 11 tahun untuk menyelesaikan proses pembangunan benteng ini, terhitung sejak tahun 1834 sampai 1845. Fort Willem 1 memang sengaja dibangun di lokasi yang agak tersembunyi, sebab pemerintah Belanda kala itu menginginkan Fort Willem 1 tidak banyak diketahui keberadaannya. 

 

 

Fort Willem 1 ini tepatnya berada di Bugisari, Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Lokasi persisnya tak jauh dari Museum Kereta Api Ambarawa, di belakang RSUD Ambarawa, dan masuk wilayah kompleks Lapas Kelas II Ambarawa.

 

 

Di Fort Willem I terdapat beberapa ruangan yakni satu area gedung yang khusus diperuntukkan bagi para wisatawan, gedung yang dijadikan permukiman penduduk dan gedung yang dijadikan sebagai lapas. Selain untuk wisata edukasi, tempat ini juga sering dimanfaatkan untuk kegiatan fotografi, prewedding bahkan lokasi syuting film, dua di antaranya adalah film Sang Kyai dan film Soekarno.

 

 

Untuk mengunjungi tempat bersejarah ini pengunjung hanya diminta tarif parkir sekaligus tarif masuk lokasi sebesar Rp5.000/orang. Sementara rute menuju lokasi, dari Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai gerbang masuk wisatawan di luar Semarang, bisa lanjut dengan kendaraan roda dua atau roda empat, dengan menempuh jarak sekitar 50 km atau membutuhkan waktu 1 hingga 1,5 jam perjalanan.

 

 

 

Teks & Foto: Arief Nurdiyansah

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


804

Back to Top