SELAMA PANDEMI: NIAS, PULAU KEI, SAPARUA SEPI. LOMBOK DAN LABENGKI TERTOLONG KUNJUNGAN WISATAWAN SETEMPAT 2020-10-31 16:00

Labengki di Sulawesi Tenggara

 

Judul di atas dibuat berdasarkan hasil wawancara online MyTrip terhadap 28 orang pelaku pariwisata dari hampir semua wilayah di Indonesia. Semoga cukup mewakili gambaran nyata pariwisata Indonesia selama pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Pada tulisan ketiga ini dipaparkan kondisi beberapa daerah yang sangat sepi kunjungan maupun yang sedikit terbantu karena wisatawan lokalnya berwisata.

 

Daftar yang MyTrip wawancara: dari Sumatera ada 2 (Nias Sumut dan Natuna Kepri), dari Jawa juga 2 (Sukabumi Jabar dan Malang Jatim), Bali ada 1, Lombok ada 2, NTT ada 5 (Flores 2, Sumba 1, Pulau Sabu 1, Timor 1), Kalimantan ada 3 (Derawan Kaltim, Tanjung Puting Kalteng, Pontianak Kalbar), Sulawesi ada 1 (Labengki Sultra), Maluku ada 2 (Pulau Saparua dan Pulau Kei), Maluku Utara 1 dari Pulau Morotai, Papua Barat ada 9 (semuanya dari Raja Ampat dan/atau Misool), Papua ada 1 diwakili Wamena.

 

Dua artikel sebelumnya sudah memaparkan kondisi di Raja Ampat di Papua Barat, Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Pulau Morotai di Maluku Utara, Wamena di Papua, dan Labuan Bajo di NTT. Silakan baca di sini dan di sini.

 

Baca juga: “100+ Destinasi Wisata Domestik yang Bisa Jadi Pilihan di Era Next Normal. Bagian 5: NTB

 

PENERBANGAN MASUK NIAS SEMPAT DIHENTIKAN, WISATANYA LUMPUH

Yafaowoloo Gea (38) dari Go Nias Tour belum pernah meng-handle tamu lagi sejak Maret 2020, jadi kosong selama 8 bulan. “Sepengamatan saya, baru hanya sekitar 0,5% tingkat kunjungan wisata di Nias dibanding kondisi normal sebelum pandemi. Dan selama pandemi yang mendominasi lokasi wisata di Nias adalah masyarakat lokal,” kata putra asli Nias, Sumatera Utara ini. Sepi atau bahkan lumpuhnya pariwisata Nias terutama disebabkan sempat ada penghentian penerbangan ke Nias, juga ada wajib swab test masuk Nias.

 

Atraksi Lompat Batu, andalan Nias

 

DI PULAU KEI HANYA ADA TAMU DARI AMBON

Mama Tita (63), pemilik sekaligus pengelola Villa Monica di Pantai Ngurbloat Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara, tak pernah menerima tamu lagi di vilanya sejak pandemi merebak, sudah 9 bulan. Andai saja dua rombongan MyTrip jadi berangkat ke Pulau Kei tanggal 1 hingga 12 Oktober 2020 lalu, berarti kamilah satu-satunya rombongan yang menginap di Villa Monica terhitung sampai saat ini. Mama Tita mengungkap sekarang di Kei hanya ada tamu-tamu dari Ambon saja. “Belum sampai 10% dibandingkan sebelumnya,” ungkap Mama yang jago masak ini.

 

Pantai Ngurtafur di Kepulauan Kei

 

Rombongan MyTrip tahun 2019 berfoto bersama dengan Mama Tita (yang memakai baju ungu) di depan Villa Monica

 

BIASANYA MAYORITAS TAMU BULE, SAPARUA PUN SEPI

Sama dengan Pulau Kei, tamu yang masuk ke Pulau Saparua di Provinsi Maluku, menurut Johan Tomasoa, pemilik & pengelola Mahu Village Lodge di Saparua, juga terbatas dari Kota Ambon saja. “Mulai bulan Agustus, per bulan ada sih terisi 1-2 kamar, tamu lokal dari Ambon, itu pun mereka sedang ada kunjungan keluarga lalu sekalian liburan, tinggal di penginapan kami,” tuturnya. Jadi dari Maret hingga sekarang baru terisi total 5 kamar dan hanya 1 malam. Melihat kondisi pariwisata di Saparua, katanya, baru 5% bahkan kurang tingkat kunjungannya dibanding situasi normal karena mostly wisatawan yang ke Saparua dari luar negeri, yang selama pandemi hingga kini belum bisa masuk Indonesia. Keadaan diperparah dengan dihentikannya sementara kapal penyeberangan umum oleh Kementerian Perhubungan. Untuk keperluan mendesak, warga hanya bisa memakai/menyewa speedboat kecil.

 

After sunset cantik di Saparua

 

Baca juga: "100+ Destinasi Wisata Domestik yang Bisa Jadi Pilihan di Era Next Normal. Bagian 9: Sulawesi"

 

LABENGKI TERBANTU OLEH WISATAWAN DARI SULTRA SENDIRI

“Semenjak Pemerintah Desa Labengki dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) membuka kembali tempat wisata di bulan Agustus 2020, kami mulai juga mempromosikan kembali tempat wisata di Labengki. Alhamdulillah kami sudah ada tamu, 3 grup, total sekitar 50 peserta, tapi  masih terbatas orang lokal, orang Kendari dan sekitarnya,” ungkap Akha atau nama lengkapnya Tawakal Tando (38) dari Jelajah Sultra. “Jadi kami mengalami kekosongan peserta trip itu selama 5 bulan. Padahal sebelum pandemi biasa ada tamu 3 kali per bulan,” lanjutnya.

 

Pantai Pasir Panjang di Labengki

 

Kepulauan Labengki tampaknya cukup tertolong dengan warga Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, yang giat berwisata. Oktober ini saja Jelajah Sultra sudah dapat lagi 2 grup lokal. “Kondisi pariwisata di daerah kami perlahan-lahan sudah membaik, walaupun tamu belum ada dari luar Sultra.” 

 

Baca juga: "Ingin Merasakan Sensasi Menerobos Terowongan Air di Danau Tobelo Labengki?"

 

LOMBOK BARU DIRAMAIKAN WISATAWAN DARI MATARAM

Ronie dari Rinjani Trekking Club (RTC) yang berbasis di Senggigi Lombok NTB cukup beruntung sudah menjalankan kurang dari 10 kali tur. Tapi itu pun baru sekitar sebulan terakhir. Tujuh bulan sebelumnya kosong. Dan menurutnya, tingkat kunjungan wisata di Pulau Lombok secara umum kurang dari 5% dibanding kondisi normal. “Sangat memprihatinkan,” katanya.

 

Pemandangan dari Puncak Gunung Rinjani

 

Sementara Subur (30), guide dari RTC, selama pandemi baru 1 kali membawa tamu, sekitar 1 bulan lalu. “Tamunya dari Australia tapi tinggal sudah lama di Lombok karena istrinya orang Lombok. Dia naik Rinjani sama anaknya,” tuturnya. Saat itu Subur melihat yang mendaki Gunung Rinjani lumayan ramai, kebanyakan orang lokal Lombok, “Tapi sepertinya ada juga yang dari Jakarta atau Jawa. Tapi kebanyakan nggak pakai porter dan guide, jalan sendiri.”

 

Menurut pengamatannya, mulai Oktober ini mulai lebih banyak yang buking tiket online untuk mendaki Rinjani. “Udah full Oktober ini katanya, tapi itu juga karena sekarang ‘kan kuota dibatasi hanya 45 orang per hari. Ini aturan sejak pandemi. Dan itu pun hanya tamu-tamu lokal semua,” kata Subur lagi.

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Subur (Ubun Trekking Guide), Verita Amahorseya, Go Nias Tour
Comment