“DENDAMKU” PADA PULAU PADAR TERBALASKAN SUDAH 2017-05-03 00:00

 

Setiap kali melihat foto teman-teman bergaya di spot tercetar di Pulau Padar di Taman Nasional Komodo, Flores, hati saya teriris *lebay. Nyesel to the max, kenapa saya menolak ikut naik ke atas bukit waktu pertama kali ke TN Komodo tahun 2011 dan sempat singgah di Pulau Padar? Saya dan dive buddy saya Adriana waktu itu lebih memilih berpose-pose di pantai, sampai goler-goler di pasir dan manjat-manjat pohon segala. Maklum, surface interval (jeda istirahat antara satu penyelaman dengan penyelaman berikutnya) paling pas dilewatkan dengan bersantai. Nggak ada energi untuk naik-naik bukit di tengah hari bolong pula. Teman saya Fredi yang naik ke bukit, pas turun juga nggak bilang apa-apa (belakangan saya tahu, tebak tepatnya, teman saya itu naik ke atas bukit yang bukan hits sekarang, jadi pemandangan yang dia dapat kemungkinan biasa saja. Sayang, saya nggak pernah melihat hasil fotonya).

 

Bertahun-tahun kemudian, saya lupa persisnya, mungkin tahun 2014, mulai muncul foto-foto dari atas puncak Pulau Padar yang bikin napas berhenti. Cakep gila! Saat itu, saya ingat-ingat, terakhir ke TN Komodo Juni 2013, keindahan puncak Padar belum terkuak. Paling tidak, saat itu rombongan saya nggak tahu.

 

 

Mei 2015 saat berkesempatan ke TN Komodo lagi, karena tripnya overland, jadi bermalam di kapal dan eksplor Komodonya hanya semalam. Rutenya sudah dibuat mepet-mepet, Padar nggak bisa disinggahi. Pilihannya Pink Beach & Gili Lawa atau Padar. Aarrghh... pilihan sulit. Terpaksa Padar diskip. “Dendam” itu belum terbalaskan.

 

Sampai akhirnya saya punya kesempatan datang lagi ke TN Komodo. Kali ini LOB (live-on-board) non-diving 4 malam (25-28 April 2017). Jelas pasti, Padar masuk daftar. Pagi hari kedua kapal kami sudah merapat di dekat dermaga Pulau Padar. Sudah ramai teluk di Pulau Padar oleh kapal-kapal yang berlabuh. Wah, saingan atau antrean untuk berfoto di spot “Must Pose” atau spot sejuta umat ini bakal panjang nih.

 

Tangga kayu menanti

 

Trek awal, mendaki tangga kayu

 

Jalur pendakian selepas dari tangga kayu

 

Kapal besar kami nggak bisa merapat langsung ke dermaga, jadi saya dan rombongan naik dingy/sekoci dulu. Turun dari dermaga, tangga kayu menanti untuk dinaiki. Lepas dari tangga kayu, naik lagi sedikit, pemandangan satu sisi tanjung di kiri dan teluk di kanan sudah terlihat. Tapi tentu saya tidak berpuas sampai situ, naik lagi hingga sampai di perhentian pertama. Dua tanjung sudah terlihat tapi penampakan tiga teluk yang saling berpunggungan masih belum sempurna, terhalang bukit tempat kita berdiri.

 

Tanjung di kiri, pemandangan awal usai lepas dari tangga kayu

 

Teluk yang penuh kapal di kanan, masih sedikit tertutup

 

Sudah terlihat tapi belum sempurna

 

Di sebelah kiri ada formasi pulau yang bentuknya bagai Sydney Opera House. Nah bukit ini di sisi kanan menjorok ke depan, saya pun diajak pemandu untuk berjalan sampai ke ujungnya. Di titik inilah pemandangan separuh Padar yang ada di uang kertas pecahan 50 ribuan terlihat.

 

Pulau yang mirip Sydney Opera House

 

Spot uang 50 ribuan

 

Puas memotret-motret di situ, kami naik lagi. Spot selanjutnya adalah di formasi bebatuan di bawah rindang pohon. Berhubung ada yang antre di situ, saya skip, langsung cuss menuju spot utama. Di spot sejuta umat itu selain pemandangan kece badainya sudah terlihat sempurna, juga ada bebatuan yang bisa dijadikan kursi maupun “sofa” untuk bergaya.Dan bagusnya lagi, ada bebatuan lagi hadapannya, tempat yang motret bisa manjat. Jadi paham kenapa orang-orang bisa dapat angle atas di puncak Padar ini. Perfecto!

 

Difoto dengan angle atas

 

Yang motret naik ke atas batu

 

Beruntung saya berdua (anggota rombongan lainnya 5 oma, sudah menyerah satu demi satu di bawah) yang ditemani guide nggak perlu antre di situ. Pas lagi kosong, karena beberapa orang di depan kami terlihat sibuk di puncak Padar yang sesungguhnya yang tinggal beberapa meter lagi dari posisi kami. Saya memutuskan nggak menuntaskan pendakain sampai puncak, karena spot terbaik ya dari tempat kami tersebut.

 

Spot terbaik, seluruh tanjung dan teluk terlihat sempurna

 

Puas motret aneka pose, kami pun turun. Proses turun seperti sudah ditebak, lebih susah daripada naik, walaupun bisa lebih cepat. Kudu full hati-hati kalau nggak mau tergelincir. Nonstop turun durasinya hanya 20 menit saja. Waktu naik saya nggak menghitung total waktu yang dibutuhkan karena banyak berhenti buat foto-foto. Mungkin kalau nonstop dengan kecepatan standar cenderung pelan butuh 30-40 menit.

 

Turun harus hati-hati

 

FAKTA:

-          Padar adalah pulau ketiga terbesar di TN Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Letaknya pun di antara kedua pulau itu. Dari Labuan Bajo sebagai kota gerbang masuk TN Komodo, Padar dapat ditempuh dengan kapal kayu atau speedboat selama 3-4 jam.

-          Luasnya 14,09 km2.

-          Pulau Padar tidak berpenghuni. Awalnya juga diyakini nggak ada komodo di sini. Tapi belakangan terungkap, komodo juga ada di Pulau Padar. Jadi ada imbauan untuk waspada.

 

 

TIPS:

  1. Naiklah saat pagi hari, karena selain panasnya belum terlalu menyengat, sinar matahari pagi yang datang dari timur pas menyinari bagian pulau yang menjadi objek foto sejuta umat di bagian utara. Kita sebagai model pas menghadap sinar matahari, jadi nggak backlight. Tapi kalau tujuannya melihat sunset yang nongol dari balik tanjung sebelah kiri, ya datanglah menjelang sore.
  2. Pakailah sendal gunung atau sepatu kets, jangan sendal jepit apalagi sendal cantik. Karena treknya berupa tanah berbatu kerikil, akan sangat sulit kalau pakai sendal.
  3. Bawalah trekking pole atau tongkat untuk memudahkan pendakian, terutama sangat membantu saat turun.
  4. Kenakanlah pakaian berwarna cerah supaya hasil fotonya bagus. Kalau perlu bawa kain tenun Flores atau bawa properti foto lainnya untuk dipakai berpose.
  5. Bawalah kamera dengan lensa wide atau GoPro karena memotret dengan wide angle hasilnya akan lebih cetar.
  6. Datanglah minimal dua kali di musim yang berbeda. Di musim hujan pulaunya diselimuti pepohonan hijau, hasil foto lebih berwarna. Tapi di puncak musim kemarau (Juli-Agustus) saat pulau-pulaunya agak gundul dan berwarna kecoklatan hasil fotonya lebih eksotis.
  7. Bawalah uang kertas pecahan 50 ribuan yang ada gambar Pulau Padarnya, lalu foto uang tersebut dengan latar pemandangan yang sama seperti yang tercetak di uang.

 

Sisi Padar yang ada di uang 50 ribuan baru

 

Baca juga: “Supermarket Wisata’ Ada di Taman Nasional Komodo” untuk panduan yang lebih lengkap, dan “8 Hal yang Harus Dilakukan di Taman Nasional Komodo

Teks: Mayawati NH Foto: Mayawati NH, Frederik Horipun
Comment