MAU MERASAKAN SUASANA PEDESAAN SWISS? DATANGLAH KE MAMASA!

MAU MERASAKAN SUASANA PEDESAAN SWISS? DATANGLAH KE MAMASA!

Thursday, 18-01-2018 | 11:16

Pemandangan pedesaan Swiss menuju Buntu Liarra di Mamasa

 

Sekitar September 2017 sempat viral postingan di media sosial tentang “Negeri Di Atas Awan” yang baru, lokasinya di Sulawesi. Bukan Kampung Lolai di Toraja, yang ini lebih baru lagi, namanya Buntu Liarra, di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Buntu Liarra memang kemudian menjadi magnet bagi wisatawan datang ke Mamasa.

 

Tapi Apakah Mamasa hanya itu? Tentu tidak! Mamasa yang berada di lembah dengan barisan pegunungan mengelilinginya berudara sejuk, pagi hari kadang berkabut. Lekuk-lekuk hijau sejauh mata memandang membuatnya mirip pedesaan di Swiss. Apalagi di beberapa sudut terlihat menara gereja.

 

Pemandangan ini mengingatkan pada pedesaan di Swiss

 

Sayangnya keelokan Mamasa terhalang oleh masih sulitnya akses ke sana. Sudah sejak puluhan tahun lalu kondisi jalan buruk dibiarkan. Tak heran kalau orang Sulawesi sendiri, yang tinggal di Kota Mamuju (ibu kota Sulawesi Barat) ataupun Kota Makassar (ibu kota Sulawesi Selatan) belum tentu mau menyelipkan Mamasa dalam agenda liburannya. Wong ke sananya butuh perjuangan.

 

Beda sekali kondisinya dengan tetangganya yang punya kontur alam maupun kekentalan budaya yang mirip yakni Tana Toraja. Jalan-jalan utama di Tana Toraja relatif mulus sejak lama. Tana Toraja juga begitu terkenal bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia. Selain Bali dan Yogyakarta, Tana Toraja menjadi pilihan utama turis mancanegara yang datang berlibur ke Indonesia, terutama para penyuka budaya. Bagaikan bumi dan langit perbedaan kondisinya ya...

 

Untunglah Mamasa kini mulai menggeliat. Mamasa juga kebagian perhatian pemerintah pusat di bawah kepemimpinin Presiden Jokowi. Saat ini Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XIII Makassar tengah merampungkan pembangunan Jalan Poros Mamasa-Toraja. Ditargetkan tahun 2018 jalan tembus yang akan membuat Mamasa-Toraja bisa ditempuh kurang dari 3 jam ini sudah selesai dikerjakan. Bandingkan dengan kondisi jalan yang sangat buruk selama ini, jarak Mamasa-Toraja yang hanya sekitar 80 km ditempuh lebih dari 5 jam (bahkan ada yang menyebut sampai 10 jam!), itu pun dengan mobil 4WD atau motor trail. Mobil biasa lebih memilih jalan memutar lewat Polman, Pinrang, Pare Pare, Enrekang dengan waktu tempuh lebih lama lagi, dengan jarak +/-300 km.

 

Pembangunan jalan sedang berlangsung

 

Selain itu Bandara Sumarorong sebagai akses via udara ke Mamasa juga tak lama lagi akan rampung dan kembali bisa menyambut penumpang pesawat dari Mamuju dan Makassar. Penerbangan dari Mamuju hanya 20 menit, sedangkan dari Makassar 40 menit. Bandara Sumarorong di Kecamatan Sumarorong ini berjarak 38 km dari pusat kota Mamasa.

 

Bandara Sumarorong

 

Bagi Pemprov Sulawesi Barat sendiri, Kabupaten Mamasa memang diandalkan untuk urusan pariwisata. Bahkan dikukuhkan sebagai destinasi wisata Sulbar lewat SK Gubernur. Jadi dengan adanya bandara dan jalan poros yang kondisinya bagus, diharapkan ke depannya akan lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlibur ke Mamasa.

 

AKSES KE MAMASA SAAT INI

Saat ini, sementara bandara belum beroperasi lagi, Kota Mamasa dapat dijangkau lewat jalan darat dari Kota Makassar maupun Mamuju. Dari Makassar sebenarnya dari segi jarak lebih jauh, 340 km, tapi dari segi waktu tempuh bisa lebih cepat, 6-7 jam melewati Maros, Pangkep, Pare Pare, Pinrang, Polewali Mandar (Polman). Dari Polman sendiri ke Kota Mamasa +/-93 km.

 

Kalau dari Mamuju memutar lewat Poros Mamuju-Majene-Polman waktu tempuh 7-8 jam, dengan jarak 286 km. Kondisi jalan mayoritas mulus, kecuali begitu memasuki Kabupaten Mamasa. Jalanan agak rusak, dulu-dulu malah sering tertutup lumpur hasil longsoran bukit. Pemandangan sepanjang jalan menghibur mata, terutama mendekati Mamasa, didominasi hutan hijau dan pegunungan. Rute inilah yang dilalui MyTrip akhir Desember 2017. Kami menempuhnya dalam 9 jam termasuk berhenti makan siang di Somba, di Pamboang beli mangga dan foto-foto di pantainya, di Campalagian beli oleh-oleh khas Mandar.

 

Kalau dari Mamuju ke Mamasa lewat Mambi, Aralle, Tabulahan dan Salubatu hanya berjarak 148 km, lebih dekat. Tapi sayang, saat ini kondisi jalannya terutama kalau musim hujan masih sulit ditembus oleh mobil yang bukan 4WD. Jadi ya itu, terpaksa ambil rute memutar.

 

PROFIL KABUPATEN MAMASA

Kabupaten Mamasa awalnya terdiri dari 4 kecamatan, yakni kecamatan Mamasa, Mambi, Sumarorong dan Pana, kemudian berkembang menjadi 7 kecamatan. Menjadi Kabupaten Mamasa setelah dimekarkan dari Kabupaten Polewali Mamasa sejak tahun 2002.

 

Di utara dan barat berbatasan dengan Kabupaten Mamuju, di barat juga berbatasan dengan Kabupaten Majene, di selatan dengan Kabupaten Polman, di timur dengan Kabupaten Tana Toraja dan Pinrang (Sulawesi Selatan).

 

Berdasarkan sensus tahun 2015, penduduk Mamasa mayoritas memeluk agama Kristen Protestan, dengan persentasi sebagai berikut: Kristen Protestan 65,36%, Islam 22,86%, Hindu 8,26%, Katolik 3,52%. Hindu di Mamasa berbeda dengan Hindu Bali. Awalnya adalah ajaran Aluk Todolo yang merupakan agama leluhur suku Toraja. Karena paling mirip dengan Hindu, maka para penganutnya meleburkan diri menjadi agama Hindu Aluk pada tahun 1970.

 

WISATA ANDALAN MAMASA

Kabupaten Mamasa punya banyaaaak banget objek wisata. Bukan cuma wisata alam, yang menonjol di sini juga adalah wisata budaya. Beberapa bangunan rumah adat tampak terlihat di beberapa sudut kota maupun desa. Sepintas mirip tongkonan Toraja, tapi beda. Desa Tawalian di Kecamatan Tawalian merupakan salah satu daerah yang masih menjaga kelestarian rumah tradisionalnya. Beberapa rumah sudah dipugar. Ada lagi Rumah Adat Rambu Saratu, Rumah Adat Orobua, Rumah Adat Buntu Kasisi, Rumah Adat Balla Satanetean. Banyak di antara rumah adat ini yang masih dihuni hingga kini.

 

Pemandian air panas alami juga tersebar di seantero kabupaten seluas +/-3.005 km2 ini. Ada permandian air panas Kole Rambusaratu, air panas alam Malimbong, dan banyak lagi.

 

Buntu Liarra, “Negeri di Atas Awan”, di Desa Talimbung saat ini menjadi primadona wisata Mamasa. Puncak Gunung Tanduk Kalua yang menjadi pemandangan di sini persis berada di perbatasan Kecamatan Tanduk Kalua dan Kecamatan Balla. Berkendara 1 jam dari Kota Mamasa, melalui jalanan sempit, menanjak dan berliku. Begitu mobil di parkir di depan kantor desa, kita harus jalan kaki naik turun sekitar 1 jam. Tiba di puncak, semua terbayar dengan pemandangan ciamik. Awan-awan berarakan hanya muncul saat pagi (pukul 5 hingga 9) dan sore hari (pukul 3 hingga 4). Di luar waktu itu, seperti saat MyTrip datang pukul 10.00-11.30, awan sudah menghilang. Tapi keindahan pemandangannya tetap melenakan. Sayangnya memang, beberapa warung nonpermanen yang memenuhi area puncak bukit ini agak kurang ditata.

 

Hiking menuju Buntu Liarra

 

Puncak Buntu Liarra

 

Selain Buntu Liarra, di Kecamatan Messawa juga ada bukit di Kampung Makuang Kondo, tempat untuk melihat arakan awan di bawah kita. Jaraknya 3 km dari perbatasan dengan Kabupaten Polman. Juga ada Mussa Ballapeu, yang berada pada ketinggian sekitar 1.600 mdpl.

 

Pemandangan dari atas bukit di Kampung Makuang Kondo

 

Air Terjun Liawan di Kecamatan Sumarorong, Air Terjun Sollokan di Kecamatan Messawa, Air Terjun Sambabo yang tertinggi di Sulawesi dengan ketinggian +/-100 m di kecamatan Bambang, Air Terjun Sarambu, merupakan deretan air terjun yang dimiliki Mamasa.

 

Air terjun Liawan

 

Yang suka naik gunung, ada pilihan Gunung Mambuliling yang sudah terlihat jelas dari Kota Mamasa. Di sini juga ada air terjunnya, Air terjun Mambuliling. Ada lagi Gunung Gandang Dewata yang agak mistis dan cukup sering ‘melenyapkan’ para pendaki. Bukit Pasapa di Kecamatan Messawa, 68 km dari Kota Mamasa, juga menawarkan panorama khas tempat di ketinggian.

 

Wisata kuburan tua Minanga yang berusia ratusan tahun di perkampungan tradisional terpanjang di Mamasa, yakni Desa Ballapeu di Sesenapadang, wisata Kuburan Tedong-tedong di Kecamatan Balla, semuanya seperti di Toraja. Juga banyak tengkorak manusia yang sudah ratusan tahun.

 

Tradisi Mebaba (penyembelihan kerbau saat upacara adat kematian), ritual Ma’pandan (mirip upacara kematian Rambu Solo di Toraja), adalah serangkaian wisata budaya yang ditawarkan Mamasa. Bulan Maret saat hari jadi Mamasa, banyak digelar atraksi budaya.

 

Patung Bunda Maria tertinggi di Asia Tenggara ada di Mamasa lho, tepatnya di Bukit Ziarah Bunda Maria Pena. Pematungnya didatangkan langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Patung berwarna putih setinggi 12 m ini diresmikan sejak 2012. Selain patung Bunda Maria, ada juga patung-patung lain menghiasi dari halaman bawah tempat yang dicanangkan menjadi situs ziarah umat Katolik ini.

 

Patung Bunda Maria tertinggi di Asia Tenggara

 

Katedral Mamasa berwarna kuning yang berdiri anggun di antara pemukiman di Kota Mamasa juga wajib disinggahi jika ke Mamasa. Ada lagi gereja Protestan yang bertengger cantik di atas bukit.

 

Gereja Katedral Mamasa

 

Tanaman kopi Mamasa (jenis arabika) berkualitas bagus, sayangnya belum ada pengolahan yang bagus. Jadi kopi mentah dibawa ke Toraja dan menjadi Kopi Toraja yang terkenal.

 

Ada masih banyak lagi objek wisata menarik di Kabupaten Mamasa dengan bentang alam yang memukau. Sayangnya banyak yang belum sempat MyTrip singgahi dalam kunjungan singkat 1 hari di Mamasa.

 

REKOMENDASI PENGINAPAN

Hotel Sajojo yang paling besar dan bagus dengan tarif kamar termurah Rp 150.000. Ada lagi Hotel Dian Satria, Hotel Nusantara. Dan ada cukup banyak penginapan sederhana. Warung makan atau rumah makan juga tersedia cukup banyak.

 

TRANSPORTASI

Buat yang solo traveling atau berdua dan mau hemat, bisa sewa ojek maupun sewa motor. Tapi kalau berempat lebih baik sewa mobil.

 

Info:

Pemandu lokal Mamasa yang bisa dihubungi: Andrian Namiq di No. HP 085145995522

 

Teks & Foto: Mayawati NH

3 COMMENTS


Yusran Jul 01, 2018 Reply

Sekedar info. Gereja kuning itu bukan gereja protestan tp gereja katolik, dan bukan gereja katedral tapi gereja paroki. gereja protestan berada d tengah kota mamasa. Sekian dan terima kasih.


maya Jul 14, 2018

Di tulisan itu gereja kuning tdk disebut sebagai gereja protestan, krn itu memang gereja katolik. Yg dimaksud gereja protestan "ada lagi gereja protestan yg bertengger di atas bukit"... jadi maksudnya gereja lain, bukan gereja kuning ini.


Yusran Jul 01, 2018 Reply

Sekedar info. Gereja kuning itu bukan gereja protestan tp gereja katolik, dan bukan gereja katedral tapi gereja paroki. gereja protestan berada d tengah kota mamasa. Sekian dan terima kasih.


516

Back to Top