MELOMPATI “PAPAN BERSALJU” DI JANTUNG PAPUA (Bagian 2-Tamat)

MELOMPATI “PAPAN BERSALJU” DI JANTUNG PAPUA (Bagian 2-Tamat)

Saturday, 08-10-2016 | 20:50

Melompat di Batu Papan

 

Papua punya segudang pemandangan alam yang eksotis dan masih perawan pula! Raja Ampat dan Lembah Baliem tentulah yang paling banyak disebut orang untuk mewakili indahnya Papua. Sebagian besar spot wisata di kedua destinasi itu memang sudah banyak dijamah turis, tapi masih banyak lekuk-likunya yang masih perawan. Untuk Raja Ampat, sebut saja perairan di utara Pulau Waigeo yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik yang katanya bakal jadi surga baru bagi peselancar. Untuk Lembah Baliem, desa-desa yang didiami Suku Yali jauh di belahan timur lembah surga itu, masih hanya menjadi impian bagi sebagian besar para pejalan lokal. Tapi kali ini bukan tempat perawan di Raja Ampat maupun Lembah Baliem yang akan dibahas, melainkan sebuah tempat bernama Batu Papan.

 

Coba Anda googling dengan kata kunci “Batu Papan”. Yang keluar adalah Desa Batu Papan di Mamasa, Sulawesi Barat; dan pemandian alam Batu Papan di Palopo, Sulawesi Selatan; juga Batu Papan-Batu Papan lain. Nggak ada Batu Papan yang satu ini, yang berada di jantung Papua, tepatnya di atas Danau Habema, di kaki Puncak Trikora, dengan akses dari Kota Wamena.

 

BATU PAPAN YANG LAKSANA PERMUKAAN BULAN

Di tulisan bagian 1 telah dibahas bagaimana ke Habema dari Kota Wamena dan seperti apa danau tertinggi di Indonesia itu.

 

Danau Habema

 

Nah, dari Danau Habema terus lagi ke atas, hingga ketinggian mencapai 4.000-an mdpl lebih, pemandangan makin spektakuler, khas dataran tinggi. Kemudian menurun lagi, hingga sampailah kita di Batu Papan. Nggak ada penanda lokasi. Datang ke sana harus dengan pemandu lokal yang sudah mengerti betul daerahnya. MyTrip dan kawan-kawan ditemani oleh Edison Meliala, pemandu senior yang juga pemilik Putra Papua Tour & Travel yang berbasis di Wamena. Dan pssstt.... kami juga ditemani 2 tentara bersenjata, demi keamanan. Tapi jangan terlalu takut, sepanjang perjalanan kami tak mengalami hal-hal yang mengkhawatirkan. Hanya untuk jaga-jaga saja.

 

Tibalah di Batu Papan. Inilah ruas Trans Papua yang menghubungkan Wamena ke Habema dan nantinya akan terus ke Kenyam dan Mamugu

 

Dikawal tentara

 

Kondisi jalan dari Wamena ke Habema dan lanjut ke Batu Papan relatif cukup bagus, berupa aspal, sirtu, dan tanah keras, walupun di beberapa ruas ada genangan dan sedikit rusak. Menurut keterangan dari Edison Meliala, akses jalan ini sudah lama dibangun oleh Pemda Kabupaten Nduga, dan saat ini sedang terus dikerjakan dan diperbaiki oleh pasukan Zeni Tempur atas instruksi Presiden Jokowi (proyek Trans Papua). Nantinya jalan ini akan menghubungkan Wamena (Kabupaten Jayawijaya) dengan Kenyam di Kabupaten Nduga (di barat daya Wamena), terus ke Mamugu (Kabupaten Asmat). Koneksitasnya dari Laut Arafura di Asmat dan Timika ke arah pegunungan tengah sudah rampung 80%. Akses jalan darat ini tentunya akan sangat membantu mobilitas masyakarat yang tinggal di pegunungan tengah.

 

Kondisi jalan

 

Kembali ke Batu Papan, tempat ini benar-benar in the middle of nowhere dan dahsyat! Hanya berupa bukit datar dan luas yang terbentuk dari bebatuan besar-kecil, yang uniknya, berwarna putih dan tampak seperti salju. Entah jenis batu apa itu. Area bukitnya ini mudah dinaiki. Nggak usah bayangin trekking segala. Hanya saja untuk melompat dari satu bongkahan batu ke bongkahan lainnya harus hati-hati.Walaupun nggak ada lubang dalam, apalagi semacam jurang, tapi kita bisa luka atau cedera juga kalau sampai terperosok. Di mana pun kita berdiri, memandang ke arah mana pun, yang terlihat hanyalah indah dan indah semua! Berpose apa pun di sini, keren! Apalagi pose lompat. Serasa melompat di bulan.

 

Bukit datar luas dari bebatuan

 

Pemandangan indah di segala penjuru

 

Kami sempat ngopi, ngeteh, dan ngemil roti sambil duduk di atas bebatuan sambil memandangi pemandangan yang amat mahal di seluruh penjuru. Eh, jangan berpikir ada warung ya... Nggak ada apa-apa sama sekali. Selain membawa tentara, kami juga membawa porter yang memasakkan air panas dan membuatkan kopi dan teh. Surga itu ada di sini, kawan!

Ngopi dengan pemandangan mahal

 

CARA KE WAMENA

  • Dari Jakarta terbang ke Jayapura (kalau penerbangan langsung makan waktu 5,5 jam). Harga tiket PP Rp 4 jutaan.
  • Tiba di Jayapura pagi, bisa langsung lanjut ke Wamena dengan pesawat lagi (hanya tersedia Trigana dan Wings) selama 45 menit. Harga tiket Jayapura-Wamena PP +/-Rp 1,4 juta.

Teks: Mayawati NH Foto: Mayawati NH, Priyo Tri Handoyo

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


314

Back to Top