INI DIA RUTE TREKKING DI SENTUL YANG BUKAN KALENG-KALENG 2020-04-30 00:00

Lupa kalau pemandangan ini berada nggak jauh dari Jakarta

 

Kawasan Sentul Bogor yang hanya selemparan batu dari Jakarta di akhir pekan selalu ramai. Bukan hanya objek-objek wisatanya yang ramai, tapi juga rute-rute trekking-nya. Banyak active travelers datang ke sini untuk jalan santai, trail run, ngegowes, juga off-road dengan motor trail. Dan pilihan jalurnya cukup banyak, dari yang kaleng-kaleng alias ringan banget sampai yang ‘baja-baja’ eeh maksudnya berat, yang seperti sepertiga atau setengah naik gunung. Kami mencoba yang bukan kaleng-kaleng, jalur Bojong Koneng – Cisadon – Rawa Gede akhir Februari lalu, di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Tapi justru karena hujan, jadi berkabut, cuma di Sentul doang tapi berasa seperti di dataran tinggi manaaaa gitu....

 

DIMULAI DARI BOJONG KONENG

Nggak usah diceritain rute dari Jakarta ke Bojong Koneng ya, pokoknya ambil Tol Jagorawi, keluar di Sentul Selatan, lalu belok kiri. Selanjutnya ikuti Maps. Atau pilih cara gampang seperti kami, memakai jasa pemandu resmi dari LMHD (Lembaga Masyarakat Hutan Desa) setempat yang berada di bawah naungan Perhutani. Bayar per orang Rp200.000. Itu termasuk dapat 2 pemandu dan 2 supir yang membawa mobil kami dari Bojong Koneng ke Rawa Gede.

 

Ya, seperti yang sudah disebut, rute yang kami ambil nggak PP, start dan finish di tempat berbeda. Biasanya orang-orang yang trail run hanya mengambil rute Bojong Koneng – Cisadon PP. Maklumlah, saya dan Wiwiek ngikutin Shinta dkk yang sedang persiapan untuk trekking Annapurna Base Camp di Nepal, yang sudah pasti ‘baja-baja’ tuh!

 

Parkir di Bojong Koneng, di situ terlihat ada camp area. Saya cuma sempat memotretnya dari arah pintu masuk.

 

Camp area di dekat tempat start di Bojong Koneng

 

Jalur menanjak sudah langsung menyambut kami di awal, tapi masih berupa batu-batu yang tersusun rapi. Disambung jalur tanah merah berbatu yang saat itu becek karena baru tertimpa hujan di pagi buta. Baru sekitar 5 menit jalan, kami melewati tapi nggak mampir di peternakan sapi milik Prabowo Subianto.

 

Jalur awal masih rapi

 

Jalur berbatu

 

Jalur tanah merah

 

Jalur menanjaknya nggak terus-terusan karena setelah itu ada banyak juga bonus alias landai, tapi ya tetap sambung-menyambung dengan jalur menanjak. Usai dari spot yang disebut Rumah Pohon, kami berhenti sebentar di warung pertama di jalur itu di sisi kiri jalan. Setelah itu jalur masih tetap cukup lebar seperti di awal, tapi full tanah merah. Kanan tebing tanah, kiri lembah. Kabut cukup tebal menutupi jalan di depan kami. Bikin suasana jadi kayak di mana gitu.

 

Kabut dan tanah becek

 

Kanan tebing, kiri lembah

 

Di beberapa spot, pemandangan ke arah lembah yang dikungkung barisan bukit terlihat sangat indah. Kadang saya lupa kalau ini ‘cuma’ di Sentul.

 

Sesaat lupa ini cuma di Sentul

 

Setelah itu kami melalui ladang warga yang ada di sebelah kiri maupun kanan dengan jalur yang mayoritas landai.

 

Melewati ladang warga

 

Lalu kami memasuki hutan bambu yang asri. Kebayang kalau cuaca sedang terik, melewati jalur teduh ini pasti surga banget.

 

Hutan bambu

 

Beberapa menit kemudian mulailah terlihat perkampungan. Tanda-tanda sudah dekat ke perhentian pertama kami. Melangkah lagi, terlihatlah kemudian gapura kayu bertuliskan “Selamat Datang di Cisadon”.

 

Kami tiba di Cisadon

 

Rute Bojong Koneng – Cisadon yang total jalurnya 7,5 km kami tempuh jalan santai selama 3 jam. Kalau lari sih katanya bisa 2 jam. Ketinggiannya dari 780 mdpl sampai 1.100 mdpl.

 

Baca juga: "Gua Agung Garunggang di Sentul, Antara Jalan Becek dan 'Sentuliem'"

 

DESA CISADON, TERPENCIL DI ANTARA PERBUKITAN

Dari gapura masih harus jalan beberapa menit lagi untuk sampai di area terbuka yang akan membuat orang kota macam kita akan berseru kegirangan. Area terbuka ini dikelilingi perbukitan hijau lebat. Saat kami datang, karena hujan baru habis turun lagi beberapa menit sebelumnya, suasananya penuh kabut dan dingin udaranya, sampai 23 derajat C.

 

Di area ini ada surau berdinding hijau yang sangat sederhana di sebelah kanan, yang menambah eksotis pemandangan.

 

Surau di Desa Cisadon

 

Maju sedikit lagi, terlihatlah warung yang cukup besar di sebelah kiri, yang menjadi favorit semua active travelers yang datang ke sini. Warung ini nggak cuma menjual mie instan, tapi sulit menahan godaan untuk nggak memesan mie instan di tengah cuaca seperti saat itu. Pisang goreng dan bakwan, serta snack-snack kemasan juga ada.

 

Warung favorit di Cisadon

 

Di seberangnya ada empang dengan dangau di atasnya. Suasananya hening. Cuma ramai oleh celoteh dan canda tawa para pengunjung. Pokoknya nggak nyangka deh ada desa sealami ini di dekat Jakarta. Tambahan lagi sinyal data pun hilang di sini. Benar-benar terpencil.

 

Empang di Cisadon

 

Desa Cisadon berada di Kelurahan Karang Tengah Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor. Ketinggiannya 1.100 mdpl. Jumlah warganya hanya sedikit, sekitar 24 KK. Nggak ada angkutan umum yang mencapai desa ini. Kendaraan roda empat dipastikan susah masuk walaupun jalurnya kira-kira muat satu mobil. Sekolah saja nggak ada di sini. Tampaknya Puskemas pun belum ada, entahlah, saya nggak pasti. Penghasilan utamanya berkebun, terutama kopi. Saya membeli kopi di warung tempat kami makan mie instan. Kopi Robusta Luwak Liar Organik dari Hutan Cisadon yang sudah dikemas dalam kantong 100 gr. Harganya Rp35.000.

 

Baca juga: "Hai Kamu yang Kurang Piknik, Piknik Itu Bisa Murah Lho! Ke Sentul Aja!"

 

TANTANGAN JALUR CISADON – RAWA GEDE

Kami hanya istirahat sekitar 1 jam di warung di Cisadon, sekalian makan, dan ke toilet. Ada 2 toilet sangat sederhana di samping warung. Bersih, airnya mengalir, dan dingin.

 

Jalan kaki lanjut ke Rawa Gede melewati jalur yang kata pemandu kami sih kebanyakan landai. Tapi kenyataannya ternyata tak semudah itu, Ferguso!

 

Kenaikan elevasinya lumayan, medannya juga menguras tenaga karena menanjak terus dan menyulitkan. Ada jalur yang berupa jalan air sempit dengan dinding tanah dan belukar di kiri-kanannya. Kata saya mah, mirip jalan air di Gunung Kerinci, cuma ini versi mininya. Cukup sering juga kami melewati kubangan air coklat berlumpur tebal, yang kalau nggak mau sepatu kena lumpur, kami harus melipir di pinggiran yang berumput. Kadang terpeleset dan pada akhirnya kami pun harus merelakan sepatu kami sampai masuk lumpur seluruhnya. Padahal di jalur-jalur awal kami sudah susah-payah melipir ke semak dan minta dipegangi pemandu saat melewati aliran air kecil agar sepatu tak basah. Hahaha....

 

Awalnya sayang-sayang sama sepatu, supaya nggak kena air

 

Jalur yang seperti jalan air yang sempit

 

Menyeberangi kali kecil

 

Jalur menanjak dan turun curam silih berganti, dengan kondisi licin tanah merah maupun licin berbatu. Lutut saya yang pernah bermasalah pun kambuh, nggak sekadar gemetar menahan beban tubuh, tapi beneran sakit yang cukup menyiksa. Sampai saya harus berpegangan pada pemandu saat melewati turunan terjal. Nggak bawa trekking pole soalnya. Karena saya nggak ngira jalurnya seserius ini. Biasanya kami trekking di Sentul ya yang kaleng-kaleng aja. Pernah juga sih ‘kejebak’ di jalur yang lumayan panjang dan melelahkan waktu ke Curug Hordeng dan Curug Kembar di Sentul juga.

 

Tapi walaupun capek banget, plus diguyur hujan deras sampai baju benar-benar basah (saya malas pakai jas hujan karena kadung sudah kuyup dengan keringat), tapi kami puas bisa melewati jalur yang menawarkan pemandangan bukit hijau berbaris dengan lembah di bawahnya dan rimbunnya pepohonan serta udara yang sejuk. Juga melintasi pohon-pohon kopi yang sedang berbunga –cantik juga ya bunganya. Serta sempat terkagum-kagum melihat sapi cantik yang congornya berwarna pink dengan wajah yang putih bersih.

 

Bunga kopi

 

Sapi cantik

 

Beneran deh, kadang kami lupa kalau kami masih berada di belantara Sentul-Jonggol, yang nggak jauh dari Jakarta.

 

O ya jalur Cisadon – Rawa Gede ini walaupun sempit dan buat jalan saja kadang susah ternyata merupakan rute favorit para pehobi motor trail lho! Kami sempat papasan dengan mereka. Ada sekitar 10 orang konvoi naik trail. Nggak kebayang bagaimana cara mereka melewati jalur air yang sempit banget itu.

 

Singkat cerita, rute Cisadon – Rawa Gede sepanjang 7 km kami tempuh 3 jam juga. Ketinggian tertinggi di jalur ini 1.317 mdpl.

 

Jadi secara total: Bojong Koneng – Cisadon – Rawa Gede, ketinggian terendah 780 mdpl, tertinggi 1.317 mdpl. Total jalur: 14,56 km. Durasi 6 jam. Suhu udara 23-30 derajat C.

 

Baca juga: "Supaya Nggak Kena Bayar 2X ke Leuwi Hejo, Tiru Trik Ini!"

 

RAWA GEDE

Telaga Rawa Gede berada di antara perbukitan, di dekatnya ada curug, persawahan, juga perkebunan. Berada di Desa Sirna Jaya Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor. Tapi menurut pemandu, dari Cisadon ke sini kami sempat melalui desa yang berada di Kabupaten Cianjur. Wowww, jadi trekking kali ini melintasi dua kabupaten, Bogor dan Cianjur.

 

Nggak ada tiket masuk yang harus kami bayar di Bojong Koneng maupun Desa Cisadon. Di Rawa Gede sih ada tiket masuk karena sudah dikelola oleh karang taruna setempat. Tapi berhubung sudah sangat kelelahan, kami hanya duduk-duduk di sebuah warung sambil memandang rawa dari kejauhan. Makan pisang goreng, minum minuman segar maupun hangat, dan mandi di kamar mandi yang ada di bagian bawah warung dengan membayar Rp2.000.

 

Rawa Gede

 

Rawa Gede sendiri cukup menarik dengan aneka spot selfie, sewaan perahu motor dan sepeda air untuk mengelilingi rawa dengan pulau-pulau kecilnya, curug yang dibuatkan kolam renang di bawahnya.

 

Tapi kapan-kapan bisa didatangi lah, nggak harus dengan trekking. Bisa dijangkau dengan mobil melewati rute yang sama dengan ke Curug Cipamingkis (baca di sini).

 

Mobil kami sudah menunggu di parkiran Rawa Gede. Kami pun kembali ke arah Sentul melewati pemandangan persawahan dengan latar Gunung Batu di Jonggol. Gunung yang pernah saya daki, pendek saja tapi penuh tantangan.

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Wiwiek Asmawiati, Pemandu LMHD
Comment