TAHUKAH KAMU ADA GUA CANTIK DI KLAPANUNGGAL CILEUNGSI?

TAHUKAH KAMU ADA GUA CANTIK DI KLAPANUNGGAL CILEUNGSI?

Monday, 22-01-2018 | 14:27

 

Dalam rangka mengubek-ngubek tempat yang cakep buat difoto yang lokasinya dekat saja dari rumah, mid Januari 2018 lalu saya mengajak kedua keponakan keluar eksplor. Dari sekian banyak daftar yang saya berikan, Welly, keponakan saya yang sedang serius menekuni fotografi, memilih Gunung Kapur Klapanunggal di Cileungsi, Bogor. OK, deal!

 

 

RUTE KE SANA

Dari rumah saya di Jatiwarna, Pondok Melati, Bekasi kami memilih pasrah mengikuti ke mana Waze membawa. Waze memerintahkan kami memasuki Tol Jagorawi dan keluar di Gunung Putri. Lalu ambil jalur yang sebelah kiri, arah Cikeas dan Cileungsi. Setelah 3X berbelok kami keluar di Jalan Narogong Raya.

 

Dari situ masih 2,7 km lagi baru ada percabangan dan ambil kanan. Memasuki jalanan proyek yang banyak dilalui truk besar. Berkali-kali lagi belok, pokoknya cari Perumahan Coco Garden. Dan akhirnya cari Cluster Modesta. Nah masuk ke cluster itu sampai mentok ke belakang, keluar cluster dan kami pun memarkir mobil di halaman masjid. Total perjalanan tanpa macet kami tempuh sekitar 1 jam.

 

Pulangnya kami memilih menyusuri Narogong Raya sampai Cibubur, lalu masuk Jalan Trans Yogi. Jadi sebenarnya memang lebih dekat ke sana lewat Cibubur, lalu masuk Narogong Raya ambil ke arah Cileungsi Bogor. Kalau sudah melihat Polsek Cileungsi di sebelah kiri jalan, nah di depannya sedikit ada jalan masuk ke kiri, masuk situ. Dari situ lurus saja, tinggal cari Perumahan Coco Garden di kiri jalan.

 

LANJUT JALAN KAKI

Jembatannya belum rampung, nggak bisa dilalui mobil

 

Usai parkir mobil, kami harus jalan kaki menuju lokasi gunung kapur. Sebenarnya kalau saja jembatannya dibangun sampai rampung, mobil bisa masuk hingga mendekati lokasi. Sayangnya, jembatan baru dirampungkan sebelah, tak bisa dilalui mobil. Kalau motor sih bisa. Atau kalau mobil mau masuk, harus cari jalan masuk milik proyek pengerukan kapur. Ya, karena area Gunung Kapur Klapanunggal ini merupakan area eksplorasi sebuah pabrik semen. Mereka mengeruk kapur untuk bahan baku semen.

 

Jalan kaki hingga sampai ke lokasi sekitar 15 menit. Terhitung nggak jauh, lagipula datar, bukan turun-naik. Begitu melewati lokasi proyek, kami melihat banyak pekerja. Sekalian saja minta izin lewat dan tanya spot bagusnya sebelah mana, lewat mana. Mereka ngasih tahu, harus ke gua kalau mau foto-foto. Dan mereka menunjukkan arahnya. Nggak sulit juga, tinggal ngikutin jalan aja. Areanya juga sangat terbuka dengan latar di kejauhan barisan bukit kapur.

 

 

GUA CANTIK SEBAGAI HIGHLIGHT-NYA

Jadi di kawasan Gunung Kapur Klapanunggal ada apa aja sih yang bisa dieksplor dan difoto? Begitu memasuki area, tampak di kejauhan sebelah kiri ada bukit batu yang berbentuk jempol “like” di Facebook. Sayang saat kami datang, langit siang tampak flat, jadi hasil foto ke arah bukit ini nggak bagus.

 

Bukit yang mirip jempol "like" di Facebook

 

Air terjun kecil juga katanya ada lho. Kami sih nggak nemu dan nggak nyari. Kalau lihat foto-foto yang beredar di jagat maya, itu cuma curahan air yang debitnya nggak banyak, mengaliri tebing batu kapur.

 

Bekas-bekas galian yang menjadi kubangan dan terisi air hujan tampak seperti rawa-rawa. Lihat di foto-foto orang, kalau pas airnya hijau dan sinar mataharinya bagus, foto berlatar rawa-rawa ini cukup Instagenik, apalagi kalau sudah diedit. Tapi jangan ‘tertipu’ ya karena hamparan rawa-rawa ini kalau dilihat langsung ya biasa aja.

 

Bekas galian yang jadi rawa

 

Tapi jangan bilang nggak worth ke sini apalagi kalau kalian dari Jakarta. Karena highlight kawasan ini yaitu guanya, di atas ekspektasi, minimal buat saya. Melihatnya dari luar biasa aja, apalagi kami harus melewati pematang sawah becek yang penuh jebakan lumpur lembek –saya salah injak dan akhirnya kaki terbenam lumpur sampai di atas mata kaki.

 

Masuk ke gua melewati pematang sawah

 

Inilah penampakan gua dari luar

 

Pintu masuk gua

 

Tapi begitu memasuki celah masuk gua yang nggak sempit tapi juga nggak lebar dan cukup tinggi, mata saya langsung terpuaskan. Guanya memang nggak luas. Dalam selemparan mata sudah kelihatan sisi seberang yang celahnya lebih besar. Tapi formasi stalaktit dan stalakmit, juga bebatuan yang mengampar dan lubang-lubangnya cakep buat dinikmati dengan mata dan juga difoto.

 

Pintu masuk dilihat dari dalam gua

 

Dari pintu masuk, bagian seberang gua sudah terlihat

 

Formasi bebatuan di dalam gua

 

Dan satu hal lagi, saya melihat sinar bling-bling di dinding batu dekat pintu masuk seperti yang saya lihat di Gua Berlian di Kepulauan Sombori Sulawesi Tengah. Tebakan saya, berarti batu itu juga mengandung kuarsa yang membuatnya bling-bling. Makanya saya iseng bilang, “Wah, ada Gua Berlian di Cileungsi!”

 

"Berlian" di dalam gua

 

SERING JADI LOKASI SYUTING

Jadi kalau ke gunung kapur ini, wajib banget hukumnya masuk ke gua tanpa nama ini. O ya, kata seorang bapak yang saya ajak ngobrol di warung dekat kami parkir, gua ini pernah jadi lokasi syuting film Mak Lampir, juga film-film silat tempo dulu, dan juga buat iklan. Entah iklan apa dia nggak ingat.

 

 

Yang saya baca, beberapa komunitas gowes dari Bogor dan Bekasi juga banyak yang menyambangi Gunung Kapur Klapanunggal. Banyak juga pengunjung yang datang untuk menikmati sunrise dan sunset. Bahkan tempat ini juga favorit buat bikin foto pre wedding. Dan menurut informasi, ada beberapa tebing di kawasan ini juga yang jadi area panjat tebing. Beberapa bukit juga bisa didaki untuk melihat pemandangan dari ketinggian.

 

SEMOGA LESTARI

Dari hasil obrolan dengan bapak di warung itu, Gunung Klapanunggal sudah lama (mungkin dari tahun ’80-an) dieksplorasi oleh pabrik semen. Takjub juga saya, belum habis-habis kapurnya. Dia juga mengatakan kalau akhir pekan yang datang banyak. Kami datang di hari kerja, siang pula, jadi sepi, hanya ada kami pengunjungnya.

 

Daerah situ sangat aman, katanya. Parkir mobil sampai nginep pun nggak bakal diapa-apain. Pekerja-pekerja pabrik semen yang banyak di kawasan itu juga nggak bakal mengganggu kita. Iya sih, awalnya saya sempat jiper, waduh, harus lewatin banyak pekerja lelaki, sedangkan kami cuma bertiga dengan hanya 1 lelaki, di tempat yang cukup jauh dari permukiman. Tapi memang kami tak diganggu sama sekali.

 

Kabar lain saya dapat, tempat ini pernah sempat mau diratakan tebingnya oleh perusahaan semen itu, tapi diminta dibatalkan oleh para pecinta alam, terutama para pemanjat tebing. So far aman, masih bertahan. Tapi tetap ada kekhawatiran bahwa guanya suatu saat akan diratakan. Oh noo... jangan sampai deh. Semoga guanya tetap lestari.

Teks: Mayawati NH Foto: Mayawati NH, Welly Yaptianto

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


948

Back to Top