MARI MENGENAL POTENSI WISATA DI SULAWESI BARAT

MARI MENGENAL POTENSI WISATA DI SULAWESI BARAT

Monday, 15-01-2018 | 00:13

Pantai Manakarra

 

“Memangnya ada Provinsi Sulawesi Barat? Ibu kotanya apa?” Provinsi ini memang terhitung provinsi baru, tapi juga nggak baru-baru amat. Resmi terbentuk tanggal 5 Oktober 2004. Tapi memang masih belum populer. Sempat jadi pembicaraan justru gegara kotak hitam pesawat Adam Air yang hilang 1 Januari 2007 ditemukan di perairan Majene. Majene adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat.

 

Saya memutuskan melewatkan liburan akhir tahun 2017 ke Sulawesi Barat yang beribu kota Mamuju hanya selang seminggu sebelum keberangkatan. Impulse trip! Dan alasan memilih Sulawesi Barat sesederhana bahwa inilah satu-satunya provinsi di Sulawesi yang belum saya kunjungi. Dan sesuai tebakan saya, meski belinya sudah mepet, harga tiket pesawat ke Mamuju sama sekali nggak melambung. Enam hari saya menjelajah Sulawesi Barat bersama 3 teman. Provinsi ini nggak mengecewakan. Kota-kotanya cantik, tertata dan bersih. Alamnya pun patut dipujikan.

 

 

BAGAIMANA PROFIL SULAWESI BARAT?

 

Luas wilayahnya sekitar 16.787 km². Waktu awal terbentuk hanya terdiri dari 5 kabupaten (syarat minimal sebuah provinsi), itu pun setelah ada pemecahan kabupaten. Kabupaten Polmas (Polewali Mamasa) dipecah menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Melengkapi 3 provinsi lainnya yaitu Mamuju, Mamuju Utara dan Majene. Belakangan tahun 2012 Kabupaten Mamuju juga dimekarkan, dibentuk Kabupaten Mamuju Tengah.

 

Suku mayoritas di provinsi ini adalah Suku Mandar (49,15%), disusul Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan suku lainnya (19,15%).

 

Untuk hasil bumi, provinsi ini terkenal akan kakao dan kopinya. Tanaman kopi terutama banyak tumbuh di Mamasa yang beriklim dingin. Kelapa dan cengkeh juga ada. Di sektor pertambangan ada emas, batubara dan minyak bumi.

 

OBJEK WISATANYA APA SAJA?

Cukup lengkap, ada pantai, pulau wisata, air terjun, bukit, gunung, air panas, rumah adat, wisata kuburan seperti Toraja, wisata budaya, agrowisata, wisata religi. Objek wisata itu menyebar di semua kabupaten, tapi yang paling menonjol memang Kabupaten Mamasa yang merupakan tetangga Tana Toraja.

 

Mamasa:

Buntu Liarra

 

Di Mamasa ada satu tempat yang baru tahun lalu hits, yakni Buntu Liarra, sebuah lokasi perbukitan yang di saat pagi dan sore menjelma menjadi “Negeri di Atas Awan”. Mamasa juga memiliki air terjun tertinggi di Sulawesi yakni Air Terjun Sambabo (sayang kami tak bisa ke sana karena akses yang sulit ditembus hanya dengan mobil Innova, harus pakai 4WD). Kami hanya ke Air Terjun Liawan yang populer sebagai tempat piknik warga Mamasa.

 

Air Terjun Liawan

 

Jangan lewatkan juga Patung Bunda Maria setinggi 12 m yang merupakan tertinggi di Asia Tenggara, di Bukit Ziarah Bunda Maria Pena, juga gereja katedral yang baru ada Oktober 2017 di Kota Mamasa. Suasana kota kecil dan pedesaan di sekitarnya yang dibelah Sungai Mamasa, dengan beberapa rumah adat semacam tongkonan Toraja, sungguh ngangenin.... Damai, tenang, hijau, segar, dan bersahaja.

 

Bukit Ziarah Bunda Maria Pena

 

Katedral di Mamasa

 

O ya, Mamasa juga punya gunung yang bisa didaki, namanya Gandang Dewata. Tapi konon agak mistis. Selalu saja ada pendaki yang hilang. Apalagi katanya juga, diperkirakan serpihan Adam Air yang diduga meledak di udara banyak bertebaran di gunung ini. Hmm... tapi cerita ini justru membuat saya penasaran dengan gunung yang kadang mengeluarkan bunyi ini.

 

Mamuju:

Mamuju memiliki pulau wisata favorit tak hanya warga lokal tapi juga warga Balikpapan di Kalimantan Timur (dua kota ini terhubung dengan kapal feri reguler), yakni Pulau Karampuang. Airnya jerniiihhh... Ciri khasnya adalah dermaga kayu beratap sepanjang 200 m. Lokasinya nggak jauh dari kota, hanya 20 menit naik perahu kayu bermotor, yang harga sewanya pun hanya sekitar Rp 100.000-150.000 PP (asal nggak muterin pulau). Tiket masuknya juga murah saja, Rp 2.000.

 

Dermaga panjang di Pulau Karampuang

 

Pulau Karampuang terlihat dari Bukit Anjoro Pitu

 

Air Terjun Tamasapi yang kurang lebih berjarak 20-25 menit berkendara dari pusat kota Mamuju, gagah dengan tinggi kurang lebih 50 m, juga layak dikunjungi. Trekking-nya nggak sulit, dan cuma 15-20 menit.

 

Air Terjun Tamasapi

 

Kota Mamuju dengan pelataran luas di Pantai Manakarra, juga jalan raya lebar, dan tulisan Mamuju City di atas Bukit Anjoro Pitu (Kelapa Tujuh) sungguh cantik buat berfoto. Meski dalam skala yang lebih kecil dan lebih bersahaja, saya merasakan suasana seperti waterfront di Wellington New Zealand saat melintasi jalan lebar di tepi laut di Mamuju ini.

 

Mamuju City punya waterfront seperti di New Zealand

 

Tak jauh dari Pantai Manakarra terdapat Rumah Adat Mamuju yang dapat dikunjungi dengan membayar Rp 3.000 per orang. Juga Masjid Agung Mamuju yang dominan berwarna hijau, dan cantik. Untuk melengkapi kunjungan Anda di Kota Mamuju, singgahlah di Vihara Bukit Naga di atas bukit. Dari sini bisa terlihat pura dan stadion sepak bola.

 

Rumah Adat Mamuju

 

Masjid Agung Mamuju

 

Vihara Bukit Naga

 

Pura di Mamuju

 

Keluar Kota Mamuju ke arah Majene, tepatnya di Kecamatan Tapalang, ada Jembatan Kuning ikonik yang dulunya bernama Jembatan Bolong yang konon angker.

 

Jembatan Kuning

 

Sedangkan ke arah Bandara Tampa Padang terdapat Wisata Mangrove Dusun Saluleang. Cocok buat berfoto-foto maupun leyeh-leyeh di pondokannya.

 

Wisata Mangrove Saluleang

 

Di perbatasan Mamuju-Majene ada Pantai Pamboang yang ciri khasnya tebing-tebing pantai. Di pinggir jalan juga banyak penjual mangga. Jangan lewatkan ya!

 

Pantai Pamboang

 

Majene:

Pantai Dato merupakan andalan wisata di Kabupaten Majene. Bagi saya, pantai itu menarik untuk dieksplor kalau ada bukit di kiri kanannya yang bisa dinaiki untuk melihat view dari atas, bukan sekadar pantai berpasir panjang. Nah, Pantai Dato memenuhi kriteria ini. Bukit di sebelah kirinya bisa dinaiki dengan mudah karena sudah difasilitasi dengan jembatan, tangga dan pagar. Eksotis mengambil foto dari sini, dari banyak sudut.

 

Pantai Dato

 

Masjid Agung Majene juga bagus buat difoto. Apalagi kalau motretnya dari Bukit Teletubbies (saya tahunya dari orang yang kebetulan melihat kami berfoto-foto di depan masjid).

 

Masjid Agung Majene

 

Polewali Mandar:

Barisan pohon memayungi jalan

 

Jalanan Polewali Mandar (Polman) yang dipayungi pohon di kiri kanan merupakan atraksi sederhana yang membuat saya nggak puas-puas menjepretkan kamera. Apalagi di beberapa area terlihat kawanan kerbau dalam jumlah amat banyak di tengah sawah dengan latar pegunungan berbaris-baris di belakangnya. Pemandangan sederhana yang menyejukkan jiwa.

 

Pemandangan yang menyejukkan jiwa

 

Pantai Gonda atau Gonda Mangrove Park di Kabupaten Polman yang kami singgahi memang nggak sebagus Pantai Walakiri di Sumba walaupun sama-sama mengandalkan barisan bakau. Tapi paling tidak usaha warga lokal membuat taman kecil di sana patut diapresiasi.

 

Pantai Gonda

 

Pantai Palipis andalan Polman, garis pantainya sangat panjang. Banyak fasilitas dan warung makan. Tiket masuk Rp 2.000. Parkir mobil Rp 5.000, motor Rp 2.000. Ada dermaga yang pas buat berfoto buat Instagram.

 

Pantai Palipis

 

KULINER KHAS

-          Ikan masak mandar boleh coba di RM Tipalayo di Somba, Kabupaten Majene.

-          Ikan tuing-tuing (ikan “Indosiar” alias ikan terbang) yang dibakar juga banyak disajikan di rumah-rumah makan di Somba. Somba memang pusat seafood di Majene.

Ikan tuing-tuing

 

-          Keripik kasippi (semacam kue semprong) khas Mandar di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.

Kasippi

 

Urusan makan selama jelajah Sulbar gampang. Di sepanjang jalan, kecuali lepas dari Kabupaten Polman ke Kabupaten Mamasa yang agak sepi, nggak susah menemukan rumah makan atau warung makan sederhana. Supir sewaan yang biasa melintasi jalur antarkota di Sulbar tahu kapan harus berhenti untuk makan dan mereka biasa punya langganan. Sop saudara khas Pangkep Sulawesi Selatan cukup banyak ditemukan di kota. Makanan ala Jawa, jangan ditanya, tinggal pilih.

 

‘KEJUTAN’ BANDARA MAMUJU

Saya beberapa kali mendarat di bandara-bandara di kota kecil di tanah air, tapi baru kali ini terkejut-kejut ketika keluar dari Bandara Tampa Padang Mamuju harus melalui gang atau lorong. Jadi langsung deh saya sigap motret-motret pemandangan langka ini. Hehehe...

 

Keluar bandara lewat gang

 

Bandara utama di Provinsi Sulawesi Barat ini berada bukan di Kota Mamuju, melainkan di satu daerah bernama Tampa Padang. Tampa artinya “ujung”, dan padang artinya “alang-alang”. Kenapa bandaranya nggak dinamai nama pahlawan atau tokoh daerah sih? Menurut pemilik rental mobil yang kami pakai, dulu sempat akan dinamai nama pejuang/pahlawan Sulbar, tapi karena pemerintah daerah terlalu banyak mengusulkan nama, termasuk nama-nama bupati, masyarakat malah menolak, dan akhirnya dinamai sesuai nama daerah saja: Tampa Padang.

 

Bandara Tampa Padang berjarak 33 km dari pusat kota Mamuju dan butuh +/-40 menit berkendara melalui jalan yang sedikit naik turun dan berliku. Naik taksi alias Avanza sewaan dari bandara ke pusat kota Mamuju Rp 200.000. Tapi sebaliknya dari kota ke bandara biasa dipasang tarif Rp 250.000-300.000.

 

AKSES KE SULAWESI BARAT

Selain melalui Bandara Tampa Padang, Sulawesi Barat dapat ditempuh jalan darat dari kota-kota besar lain di Sulawesi. Dari Makassar ke Kota Polewali Mandar 5-6 jam berkendara. Sedangkan Kota Mamuju lebih dekat ditempuh jalan darat dari Palu sekitar 8 jam. Nah kalau Kota Mamasa sebenarnya dekat sekali dengan Kota Rantepao di Tana Toraja. Sayang jalanannya menembus pegunungan dan beberapa ruas sering longsor, berlumpur. Hanya motor trail dan mobil 4WD yang bisa menembusnya. Itu pun katanya bisa 10 jam lebih waktu tempuhnya.

 

Saat ini Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XIII Makassar tengah merampungkan pembangunan Jalan Poros Mamasa-Toraja. Semoga sebelum 2018 berlalu jalan yang akan membuat Mamasa-Toraja ditempuh kurang dari 3 jam ini sudah rampung.

 

Satu lagi akses yang sangat dinanti-nanti adalah via Bandara Sumarorong di Mamasa, dengan penerbangan dari Makassar. Beberapa tahun lalu bandara ini sudah beroperasi. Tapi kemudian direnovasi dan diperluas. Rombongan saya sempat mampir di bandara yang laksana Bandara Paro di Bhutan --dikelilingi pegunungan-- ini. Gedung terminalnya keren! Kabarnya ada gunung yang harus dipangkas supaya memudahkan pesawat lepas landas dan mendarat.

 

Bandara Sumarorong

 

Semoga ya semua pembangunan ini berjalan lancar sehingga kota-kota di Sulbar lebih terkoneksi dengan baik.

 

RUTE EKSPLORASI KAMI

Dari rencana 4 hari, kami akhirnya mengalokasikan 6 hari untuk keliling Sulbar. Rencana saya bikin jalur loop: Mamuju ke Mamasa via Mambi yang kalau lihat peta jelas lebih dekat, lalu Mamasa ke selatan yakni Polewali Mandar (Polman), lalu ke Majene, dan balik lagi menyusur garis pantai ke utara, sampai kembali ke Mamuju. Apa daya, ternyata rental mobil kami nggak berani lewat Mambi karena alasan jalanan yang masih rusak dan harus menembus pegunungan. Jadilah kami menempuh rute Mamuju ke Mamasa via jalan Poros Mamuju-Majene hingga Polman. Dari Polman baru ke Mamasa. Jalur ini benar-benar memutar dan jadi bolak-balik, tapi jalanan 90% mulus. Ketemu jalan agak rusak tapi nggak parah saat dari Polman memasuki Kabupaten Mamasa. Dan saat ini jalanan ini pun tengah dibangun. Senang deh melihatnya. Pembangunan jalan di mana-mana.

 

Peta Sulbar

 

O ya, ruas batas Kabupaten Polman dengan Mamasa yang saya pikir bakal sepi banget menembus hutan ternyata nggak juga. Memang ada beberapa km kami melewati jalur sepi tanpa rumah penduduk, tapi nggak panjang, karena selalu ketemu perkampungan lagi dan lagi. Dan jalur ini juga aman. Kami melewati jalur sepi ini sudah gelap, sampai di Kota Mamasa sudah pukul depalan malam.

 

Info yang bisa dihubungi:

-          Untuk wisata di Mamasa: Andrian Namiq (085145995522)

-          Untuk wisata di Mamuju: Almulk (082290899997)

-          Untuk rental mobil di Mamuju: Salahuddin (085242542091)

Teks & Foto: Mayawati NH

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


288

Back to Top