HIU PAUSKU SAYANG, PYGMY SEAHORSEKU MALANG

HIU PAUSKU SAYANG, PYGMY SEAHORSEKU MALANG

Saturday, 14-10-2017 | 20:25

 

Saat bersama 19 orang teman berkunjung ke Derawan, Kalimantan Timur, April 2016 dengan tujuan melihat kawanan hiu paus (whale shark), saya diinfo oleh pemandu yang menemani kami, “Nanti turunnya giliran ya... 20 orang terlalu banyak kalau nyebur bareng.” Serta-merta saya menolak. Bukan karena apa-apa, tapi saya bingung, bagaimana saya mengatur teman-teman untuk bergiliran? Pasti semua nggak sabar untuk langsung turun, apalagi kalau melihat hiu pausnya sudah ada di bawah bagan. Dan begitu sudah turun, pasti semua ogah naik ke speedboat buru-buru untuk gantian dengan yang lain. Dan saat itu pemandu kami mengalah.

 

Kami pun ber-20 langsung nyemplung dalam waktu hampir bersamaan, berenang bareng 4 ekor hiu paus yang hilir mudik di bawah bagan. Memang sih selang beberapa menit kemudian ada 3-5 teman yang naik duluan. Area kami dan 4 ekor hiu paus bercengkerama terbilang sempit, karena dua speedboat kami dan beberapa speedboat tamu lain parkir tidak jauh dari bagan. Jadi tak mungkin kami mengatur jarak terlalu jauh dari para hiu. Malah ada beberapa dari kami tersentuh atau hanya berjarak kurang dari satu meter dari si makhluk raksasa yang jinak itu. Waktu itu saya sudah peringatkan ke semua teman, tak boleh ada yang sengaja menyentuh hiu pausnya. Dan semua patuh.

 

 

Empat tahun sebelumnya (Agustus 2012) di Desa Kwatisore, Nabire, yang termasuk dalam TN Laut Teluk Cendrawasih (termasuk kawasan konservasi), Papua, saya dan 5 teman menyelam ditemani 2 pemandu selam, sekaligus bareng, di bawah bagan yang disinggahi 8 ekor hiu paus. Saya dan teman-teman awalnya tak mau menyentuh karena tahu bahwa itu dilarang. Tapi demi melihat orang bagan dan kru speedboat dengan leluasa menyentuh sang hiu, dan memberi mereka makan, saya dan teman-teman pun tergoda melakukan hal yang sama. Maka, tersentuhlah dia olehku (tepatnya: saya sentuh). Tentu saya excited sekali bisa mengelus-elus kulit kasar berwarna abu-abu itu. Apalagi kemudian para hiu itu pun nakal, menyundul-nyundul bokong kami saat kami mau udahan. Berarti mereka senang kami ajak bermain dan sama sekali nggak terganggu toh?

 

 

Sepulang dari Derawan, heboh peristiwa beberapa wisatawan menunggangi hiu paus di Talisayan (juga di Kalimantan Timur) atau Derawan, juga di Botubarani, Gorontalo. Peristiwa itu dikecam oleh banyak orang, terutama oleh aktivis lingkungan. Saat itu akhirnya beredar lewat media sosial, panduan berenang dengan hiu paus yang harus ditaati. Apa saja panduannya? Dan, oalah, ampuni saya, ternyata saya dan teman-teman melanggarnya.

 

 

Ternyata memang ada kuota maksimal perenang dalam satu kesempatan yaitu enam orang plus pemandu. Kita juga harus menjaga jarak 2 meter dari tubuh hiu dan 3 meter dari ekornya. Kapal harus minimal berjarak 20 meter (yang ini bukan salah saya, ya...). Untuk menyelam dengan scuba maksimal hanya boleh 2 orang. Dan malah dianjurkan untuk tidak memakai scuba (aturan yang satu ini pasti diperdebatkan). Ada aturan juga, pengunjung tak boleh memberi makan kepada hiu paus.

 

Meskipun tentunya saya dan teman-teman tak melakukan aktivitas yang dengan sengaja mengganggu, tapi kami telah melakukan beberapa pelanggaran karena ketidaktahuan kami. Pelanggaran yang pastinya juga dilakukan oleh hampir semua orang yang pernah berwisata renang dengan hiu paus. Timbul dilema sih pastinya. Sebagai pecinta kehidupan laut, saya pribadi juga ingin menjaga kelestarian hiu paus. Tapi gemes juga kalau harus jaga jarak sampai 2 meter. Jauh amat, nggak puas! Hehe.

 

Itu pengalaman dengan makhluk laut raksasa. Bagaimana dengan makhluk laut super kecil? Mmm... saya pun mengalami dilema setelah tahu, pygmy seahorse yang segede kutil itu bakal mati kalau kebanyakan kena flash atau lampu sorot. Duuuh, kasihan ya... Tapi masalahnya, memotret makhluk lucu dan imut ini ‘kan nggak mungkin nggak pakai flash. Jadi gimana dong? Dan saya yakin, kadar pelanggaran yang telah saya buat terhadap makhluk kecil tak berdosa ini jauh lebih kecil dibandingkan para fotografer profesional itu yang lampu sorotnya nggak kira-kira. Hayooo, ngaku aja....

 

 

Sungguh, saya pun pastinya mendukung upaya-upaya konservasi karena saya ingin laut dan kehidupannya tetap lestari. Tapi memang kadang ada beberapa hal yang menjadi dilema.

 

 

Tulisan ini pernah dimuat di Qubicle.id

 

Teks: Mayawati NH Foto: Mayawati NH, Priyo Tri Handoyo

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


828

Back to Top