JURNAL EPIK 13 HARI EKSPLOR ANTARTIKA (Bagian 1)

JURNAL EPIK 13 HARI EKSPLOR ANTARTIKA (Bagian 1)

Thursday, 12-10-2017 | 23:41

Menonton drift ice dari kapal di Hanusse Bay

 

Tanggal 11 Februari 2017, hari yang saya tunggu-tunggu selama setahun lebih akhirnya tiba juga. Saya memulai perjalanan ke Antartika. Kenapa Antartika? Why not? Setelah melewati Artic Circle (lintang 66o) di bumi utara beberapa tahun lalu, kurang afdol rasanya kalau tidak melewati Antarctica Circle di bumi selatan. Setelah Antartika, lengkaplah sudah saya menjejakkan kaki ke semua benua di dunia.

 

Saya mengambil program 14 hari cruise, sudah termasuk 1 hari menginap di Ushuaia, Argentina (kota gerbang masuk Antartika) di hari pertama dan 13 hari di kapal. Enam hari kami naik Zodiac (boat karet kecil) untuk keliling dan mendarat di Antartika serta pulau sekelilingnya.

 

Tiba di Ushuaia

12 Februari. Setelah lebih kurang 40 jam, termasuk 3 penerbangan, akhirnya kami tiba juga di Ushuaia, kota paling selatan di dunia yang merupakan tempat embarkasi. Kami disambut udara dingin 9 o C. Kami diantar ke hotel. Hari pertama tidak ada program kecuali briefing.

 

Ushuaia adalah kota wisata kecil di Argentina. Pusat kota terdiri dari 2 jalan utama yang banyak toko-toko suvenir, restoran, kasino, hotel, pusat informasi turis dan taksi pool. Kami punya waktu bebas sampai besok embarkasi jam 4 sore. Karena waktu terbatas, kami memutuskan ikut aktivitas yang hanya perlu beberapa jam, naik kereta wisata End of the World dan Glacier Martial.

 

Embarkasi dan Berlayar Melewati Drake Passage

13 Februari, suhu 13 o C. Pukul 15.30 kami naik bus ke pelabuhan untuk kemudian naik ke kapal. Kami diantar ke kamar masing-masing. Asyik, ternyata kamar tidak sekecil yang kami sangka dan sangat apik. Di atas ranjang tersedia wardrobe dan waterproof parka dengan ukuran yang sudah kami pesan. Psst… parka ini akan menjadi milik kami di akhir perjalanan. 

 

Briefing sore ini mengenai informasi umum tentang kapal, perkenalan kru, tim ekspedisi (terdiri dari ilmuwan, sejarawan, pakar-pakar tentang Antartika), dan aktivitas selama di kapal. Kegiatan harian akan ditempelkan di papan pengumunan. Makan disajikan prasmanan. Juga ada afternoon snack. Sorenya ada live boat drill wajib. Astaga… ada badai di Drake Passage. Kapal akan menunggu sampai badai reda sebelum menyeberangi Drake Passage yang terkenal sebagai one of the roughest sea di dunia. Siap-siap obat anti mabuk….. 

 

Dua hari berlayar melewati Drake Passage, banyak presentasi tentang Antartika oleh tim ekspedisi dan penayangan film dokumenter di Main Lounge. Bagi yang malas, bisa nonton dari kamar. Hal yang kami khawatirkan menjadi kenyataan. Kapal oleng. Mau jalan ke kamar mandi saja susah, pusing sekali dan mual. Jangankan keluar mendengar presentasi, sarapan dan makan malam pun saya tidak sanggup, makan siang harus dipaksa. Hari pertama di Drake Passage dilewatkan dengan muntah, pusing dan tidur. Hari kedua ada kemajuan, kapal tidak seoleng sebelumnya. Tidak mabuk laut lagi.

 

Hari ini juga ada briefing wajib tentang Zodiac. Ada 2 kegiatan Zodiac setiap hari. Satu Zodiac dapat diisi 10-11 orang. Peserta dibagi 4 grup. Sebelum naik kita harus sign-out and setelah kembali harus sign-in. Ah, baru mendengar briefing saja sudah bahagia.  

 

Antarctica Circle

16 Februari, 7 o C. Kami akan melewati Antarctica Circle malam ini. Hore, akhirnya satu milestone akan tercapai. Ada kejutan, ternyata ada satu koki dari Indonesia, Chef Indra. Malam hari mulai terlihat banyak iceberg di laut. Ada kejutan lain sewaktu makan malam, ada pengumunan penampakan paus humpback. Wah… takjub saya, begitu cepat orang-orang menghilang dari meja makan untuk menuju dek. Di luar dek, banyak sudah orang berburu paus dengan kamera. Ternyata jauh pausnya, tapi saya sempat lihat blow-nya. Beginilah kehidupan di kapal, ke mana-mana harus siap jaket dan kamera. Setiap saat bisa ada yang menarik.

 

Sekitar jam 9 malam kami semua berkumpul di dek luar. Gelas berisi champagne sudah berjejer rapi. Tepat pukul 21.33 kami melewati Antarctica Circle. Yay!!! Cheers…  

 

Ekskursi dengan Zodiac

17 Februari, 3 o C. Kegiatan yang ditungu-tunggu, ekskursi dengan Zodiac dimulai. Keliling sekitar Detaille Island dan melakukan pendaratan pertama. Kami melihat sisa peninggalan Station W milik Inggris. Setelah makan siang, kapal menuju Hanusse Bay. Di sepanjang jalan kami melihat ice drift dan glacier dari dekat. Pemandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, indah dan tenang sekali.

 

Drift ice di Hanusse Bay

 

Sore ini juga ada polar plunge. Apa itu?  Olala... ternyata nyemplung ke laut dari platform di gangway (tempat naik Zodiac yang tingginya sekitar 50 cm saja), aman karena pakai tali pengaman. Pasang tali pengaman, pose untuk foto, lalu terjun, dan di air bisa pose lagi, lalu berenang balik. Suhu air 2o C. Hmm… kecewa juga saya tidak berani ikut.

 

18 Februari, 3 o C lagi, cuaca cerah. Zodiac ke Yalour Island. Selama perjalanan kami dihibur oleh beberapa singa laut yang aktif berenang di sekitar Zodiac. Ada 2 jenis yang terlihat, crabeater dan leopard.

 

Singa laut di Yalour Island

 

Ada kejutan di saat makan siang. Kami mendapat menu khusus, lontong opor ayam, dari Chef Indra. Lezat dan pedas banget

 

Zodiac siang hari ke Pleneau Bay. Agak mengecewakan, beberapa koloni penguin hanya bisa dilihat dari jauh, itu pun tidak banyak. Sepanjang perjalanan banyak crabeater, fur, weddle, leopard seals. Ada penguin berenang melompat-lompat di air. Glacier berserakan di kiri kanan. Mungkin tim kapal tahu banyak yang kecewa, sore hari ada pengumunan makan malam dimajukan dan ada ekskursi tambahan ke Petermann Island, iming-iming melihat penguin. Harapan mulai naik lagi. Ternyata memang ekskursi yang ini benar-benar awesome!

 

Kawanan penguin di Petermann Island

 

Begitu Zodiac mendarat, sudah terlihat gentoo penguins di mana-mana. Ke mana saya berjalan, di sana ada penguin. Puas deh foto-foto. Malam ini kami melewati Lemaire Channel yang lebarnya hanya 1,5 km dan banyak iceberg. Peserta diundang ke dek menikmati perjalanan yang spektakuler ini. Waktu saya ke dek banyak kabut ternyata, nggak bisa melihat jauh dan dingin pula. Tidur saja lah.

 

(Bersambung)

 

Tulisan ini pernah dimuat di Qubicle.id

Teks & Foto: Zuriah Saibun

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


218

Back to Top