NGAPAIN DIVING DI SIPADAN MALAYSIA, DI MARATUA AJA!

NGAPAIN DIVING DI SIPADAN MALAYSIA, DI MARATUA AJA!

Monday, 21-08-2017 | 01:43

Gerombolan barakuda begini ada di Maratua, nggak usah cari ke Sipadan

 

Tujuh tahun lalu....

Waktu melihat video schooling barracudas di Pulau Sipadan, saya menahan makian dalam hati. Sialan…. Cakep banget! Kawanan barakudanya luar biasa buanyaaaaak! Tapi... kenapa mesti di Sipadan sih? Sakit hati saya kalau harus menyelam dan “menyumbang” duit ke sana. Pulau indah itu mestinya milik Indonesia, bukan Malaysia! Wuuuu….

 

Beberapa teman langsung merencanakan untuk menyelam di sana. Cuma saya dan satu teman lagi yang nggak antusias. “Gue nggak ikut. Gue mau nyelam di Indonesia aja dulu. Masak sih nggak ada yang kayak gitu di Indonesia?”

 

Makdarit, puasssss banget rasanya begitu saya melihat gigantic schooling barracudas di perairan Maratua, Kalimantan Timur, yang nggak kalah hebatnya dengan yang saya lihat di video Sipadan itu, Mei 2010.

 

Maratua…. Maratua…. Kau membuat aku tak perlu ke Sipadan. Yeiiiyyyy…….

                     

Maratua adalah salah satu pulau dari Kepulauan Derawan; tiga lainnya adalahDerawan, Sangalaki, dan Kakaban. Maratua sendiri yang bentuknya seperti huruf V terbalik, terletak paling jauh, berjarak 50 km dari garis pantai Kalimantan Timur, dan berada di Laut Sulawesi. Untuk ke sana harus ke Tanjung Redeb dulu, ibu kota Kabupaten Berau, Kaltim. Dari Tanjung Redeb naik speedboat selama 3 jam baru tiba di Pulau Maratua.

 

APA SAJA PENGALAMAN SPEKTAKULER YANG BISA DIDAPAT DI MARATUA?

Berenang di Dalam Pusaran Barakuda

Nganga deh ngelihat gerombolan barakuda di The Channel! Gila, sumpah, banyak banget! Langsung dalam hati saya berteriak, “Bener ‘kan…. Nggak usah ke Sipadan! Yesssss!!!!

 

Beruntung saat itu ada rekan fotografer underwater profesional yang menyelam bersama kami, dan dia bermurah hati meminta saya jadi model, berpose di depan kawanan barakuda. Hasil fotonya bikin iri banyak orang, hehe.

 

Jadi model di depan konvoi barakuda

 

Nggak puas hanya itu, kami juga sempat berjuang melawan arus yang amat kencang demi bisa berada persis di bawah kawanan barakuda itu. Luar biasa rasanya! Beberapa menit kami berada di bawah mereka sambil menengadah, melihat tingkah-polah mereka dari jarak yang amat dekat. Up close and personal with barracudas.

 

Barakuda sebenarnya termasuk ganas lho. Tapi kalau sedang konvoi begini, mereka tidak berbahaya untuk dihampiri sedekat mungkin. Di Fusilier Paradise, dive site lainnya, saya bahkan berenang masuk di tengah lingkaran barakuda-barakuda itu yang berenang bagai diterjang pusaran sejuta topan badai.

 

Di The Channel juga kami melihat 3 ekor grey reef shark mondar-mandir. Sambil berjuang mempertahankan buoyancy karena diserbu arus kencang, saya menikmati liukan gagah para hiu itu. Mantap!

 

 Penyu Arisan Hanya ada di Maratua

Jangan sampai melewatkan Turtle Traffic kalau diving di Maratua. Nama itu nggak berlebihan. Karena di sini para penyu ibarat sedang arisan, ngumpul! Tak kurang dari 30-an ekor! Sampai keblinger motret penyu dengan berbagai pose dan sudut pengambilan. Ada yang sedang menelengkan kepalanya di karang, ada yang berenang-renang lincah, ada yang badannya super besar sampai nggak mau bergerak sama sekali (mungkin umurnya sudah ratusan tahun), ada yang menyembunyikan kepalanya di balik batu.

 

 

Baru kali ini penyu yang nonton penyelam, bukan penyelam yang nonton penyu. Iya bener, kalau biasanya satu penyu dikerubutin oleh yang para penyelam yang megang kamera (bisa 5 orang), nah kali ini tiap orang asyik dengan penyu gebetannya masing-masing. Nggak perlu rebutan. Saya juga dengan mudah foto bareng penyu-penyu ini dengan berbagai pose. Ya penyunya, ya sayanya yang ganti-ganti pose. Cuma ada di Maratua lho!

 

 

Berburu Thresher Shark di Kedalaman 53 m

Saya cukup nekat tapi tetap perhitungan soal no decompression limit* saat memutuskan turun ke kedalaman 53 m di Mid Reef bersama 2 buddy yang sangat berpengalaman untuk melihat thresher shark dari dekat. Hiu ini begitu anggun gerakannya dengan buntutnya yang sangat panjang. Sempat agak ngeri, apalagi begitu saya mendekat dengan jarak 5-meteran, tubuhnya kelihatan buesaaarrr... Tapi, woww, ternyata dia cukup nice! Saya pun berhasil memotretnya.”  

 

 

(*No decompression limit: batas waktu yang aman bagi penyelam untuk berada di kedalaman tertentu. Melewati batas itu, penyelam berisiko terkena penyakit dekompresi, di mana nitrogen yang tersisa membentuk gelembung di dalam pembuluh darah yang jika terakumulasi bisa menyebabkan kelumpuhan).

 

 

Dua kali menyelam di Maratua Mei 2010 dan Mei 2012 (juga sekalian di Sangalaki dan Kakaban) saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Spektakuler, luar biasa, dahsyat, mantap, makpoll, breathtaking, stunning, amazing. Kita ibarat berada di supermarket pellagic (ikan-ikan besar). Kita bisa pesan ke pemandu selam, mau lihat apa. Di Sangalaki kita juga bisa berenang bersama gerombolan ikan pari manta. Di Kakaban bisa berenang bersama ubur-ubur tak bersengat, dan buat yang kemampuan selamnya mumpuni bisa menjajal ‘dunia lain di Blue Light Cave. Rasakan aja sendiri deh kalalu kalian berkesempatan menyelam di Maratua (jangan di Sipadan ya!).

 

Ubur-ubur di Kakaban

 

Beneran deh, buat temen-temen penyelam yang belum pernah ke Maratua, harus kudu mesti ke sana. Buat yang berniat menyelam di Sipadan, mending batalin, dan ganti haluan aja. Maratua menyediakan lebih buat kita. Percaya deh! Bagi temen-temen penyelam yang udah pernah ke Maratua, yuk…. mari ke sana lagi...

 

Baca juga “10 Lokasi Penyelaman Terbaik di Indonesia (Bagian 1)

Teks: Mayawati NH Foto: Adriana Leonita, Indra Swari W, Mayawati NH

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


559

Back to Top