SAAT KETAHANAN DAN KETABAHAN DIUJI DI KETINGGIAN KILIMANJARO

SAAT KETAHANAN DAN KETABAHAN DIUJI DI KETINGGIAN KILIMANJARO

Thursday, 10-08-2017 | 15:44

Merah Putih dengan latar Kilimanjaro

 

Empat tahun lalu, 10 Agustus 2013, impian saya menapaki Puncak Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika dengan Uhuru Peak-nya yang setinggi 5.895 m, tercapai. Meski sudah lama berlalu, pencapaian itu tak pernah bosan saya ceritakan dan bagikan kepada teman-teman. Sampai mungkin mereka bosan, sayanya nggak pernah bosan, hehe... Maklum, buat saya --pendaki jadi-jadian ini-- bisa berdiri di Atap Afrika itu sesuatu banget, sementara saya dengar, pendaki profesional pun ada aja yang gagal menggapai puncaknya.

 

Jadi, untuk mengenang salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya, bolehlah ya tepat di hari pencapaian itu 4 tahun lalu, saya share lagi ceritanya di sini.... Sekalian demi menyambut Hari Kemerdekaan negara kita.

 

Berhasil menjejakkan kaki di Atap Afrika itu sesuatu banget

 

MIMPI YANG BANGKIT DARI KUBUR

Sebenernya mimpi mendaki Kilimanjaro sudah saya bunuh sejak kembali dari Annapurna Circuit di Nepal November 2011. Ngebayangin capeknya, dinginnya, ancaman mountain sickness-nya, brrr.... nggak mau lagi deh. Tapi namanya mimpi, dia gampang terbangkitkan lagi begitu ada pemicunya.

 

Sekitar Mei atau Juni 2012, Zuzu (my trekking buddy yang menggapai Puncak Rinjani bareng tahun 2010) ngasih kabar via email, “Si Sam (rekan pendaki dari Singapura yang pernah naik Rinjani bareng) ngajakin tahun depan ke Kilimanjaro. Mau?” Sama seperti waktu diajak ke Annapurna, nggak pake mikir saya jawab, “Mau!”

 

Maka mimpi pun mulai diuntai kembali. Latihan demi latihan saya jalani dengan serius terutama 5 bulan sebelum berangkat. Berenang 1.500 m, lari di GBK, latihan underwater hockey dipergiat, latihan turun naik tangga, lalu naik 7 gunung di Flores dalam 7 hari, dan naik Gunung Gede sebulan sebelum hari-H sebagai pamungkasnya.

 

Akhirnya tanggal 2 Agustus 2013 pun tiba. Saya berangkat ke Bangkok dulu sendirian. Malamnya baru lanjut dengan Qatar Airways ke Kilimanjaro (Tanzania) via Doha (sst, saya nggak tahu kalau Qatar Airways ada rute Jakarta-Kilimanjaro via Doha juga; jadi terpaksa mampir Bangkok dulu deh, o’on mode on). Ketemu Zuzu dan 2 rekan Singapura (Sam dan Ming) di Doha tengah malam. Dan esok sorenya di Moshi, kota gerbang Kilimanjaro, ketemu Ondo yang sudah berangkat 3 hari sebelumnya. Ya, total rombongan kami berlima.

 

LUNCH BOX YANG BIKIN HATI MENCELOS

Pendakian hari pertama dimulai tanggal 4 Agustus 2013 dari Machame Gate (1.490 m) ke Machame Camp (2.980 m) melintasi hutan cantik dengan batang dan ranting pohon yang diselimuti lumut. Jalur yang masih belum terlalu terjal ini kami tempuh 5 jam (termasuk istirahat makan siang 30 menit). Sesuai target.

 

Jalur hutan basah di hari pertama

 

Yang nggak sesuai bayangan tuh lunch box-nya. Salahnya saya, kenapa juga bayangin nasi kotak ala Indonesia yang pakai wadah plastik bersekat-sekat yang isinya tempe orek, tumis sayur, telor balado dan sambel. Hahaha.... Sementara kenyataan di depan mata cuma roti, kue bolu kasar, biskuit, pisang, sunkist, kacang goreng, juice kemasan. Mencelos hati ini rasanya.Tapi perut kudu diisi. Ya sut, hajar bleh! Walaupun sempet ngenes ngelirik grup sebelah makan ayam.

 

Lunch box yang bikin hati mencelos

 

Makan malam pertama di Machame Camp, aaah, cuma supnya yang lumayan, anget-anget gurih. Sisanya? Lupa persisnya, tapi kalau nggak salah kentang dan ikan sarden, juga roti dan entah tambahan apa lagi, tapi yang jelas bukan selera Asia. Makan malam hari kesekian barulah dapet menu yang pas. Kesadaran bahwa tubuh perlu recovery membuat saya memaksa diri untuk menyantap apa pun yang tersedia. Yang penting jaga stamina, jangan sampai jatuh sakit.

 

Akhirnya nemu makan malam yang sesuai selera

 

Persoalan kehilangan selera makan karena ketinggian, juga karena makanan nggak cocok, memang jadi persoalan yang lumayan krusial sih. Plus urusan ke “belakang” di tengah malam dingin juga jadi tantangan tersendiri. Meskipun toilet tent didirikan nggak jauh dari tenda kami, tetep aja booo, dingin kalau harus keluar tenda jam 3 pagi buat buang hajat kecil. Mau minum sesedikit mungkin, takut dehidrasi dan kena mountain sickness. Lagipula tidur di ketinggian bikin tenggorokan saya kering terus. Haizzz... serba salah.

 

Tenda kami di Baranco Camp

 

Deretan pohon senecio kilimanjari, pohon khas di Kilimanjaro

 

POLE POLE, PLEASE....

Saya bersyukur selama 9 hari di gunung, cuma sekali saya terkena serangan sakit kepala yang terasa menggedor sekaligus merasakan kelelahan yang amat sangat! Itu terjadi di hari ke-6 saat mendaki dari Karanga (4.000 m) ke Barafu (4.600 m), basecamp terakhir sebelum puncak. Sebelum sampai di Barafu saya minta istirahat, minum yang banyak, makan biskuit, dan buru-buru nenggak obat anti AMS (Acute Mountain Sickness). Habis itu saya minta jalannya “more pole-pole, please” (“Pole-pole” artinya “pelan-pelan’ dalam bahasa Swahili; istilah ini sering banget disebut selama pendakian selain kata “jambo” dan “mambo” yang artinya “halo”). Ya, dibanding 3 rekan lain, saya termasuk yang nggak bermasalah fisiknya. Ada satu teman yang muntah-muntah di hari ke-3 (salah satu gejala AMS), ada yang diare sampai 5X ke toilet tent di malam ke-2, ada lagi yang melilit perutnya hari ke-1 dan ke-2, juga pas muncak.

 

Para porter pun berjalan pole-pole

 

Tanjakan terjal menuju Baranco Peak (4.200 m)

 

Semua pendaki berjalan pole-pole di jalur antara Baranco Peak dan Karanga Hut

 

Mawenzi Peak yang terlihat dari Barafu Camp. Adalah salah satu dari 3 puncak di Gunung Kilimanjaro yang tingginya 5.149 mdpl

 

PERJUANGAN TIADA AKHIR

Untungnya, semua hambatan terlewati. Hari ke-7, tepatnya 10 Agustus 2013, dengan perjuangan berat dan berkat dukungan 2 guide dan asisten guide kami (Joseph, Joel dan Andrea) kami berlima berhasil mencapai Uhuru Peak (5.895 m). Yes, puncak tertinggi Gunung Kilimanjaro, tertinggi di Benua Afrika. Dan untuk kategori free standing mountain, Kilimanjaro tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Puncak-puncak lain seperti Everest di Himalaya, Aconcagua di Andes dan Mc Kinley di Alaska memang lebih tinggi, tapi itu semua pegunungan, bukan free standing mountain.

 

Saya, Sam, dan Ming tiba lebih dulu di puncak pukul 11.47 (lama mendaki 7 jam 15 menit), disusul Zuzu pukul 12.28, dan terakhir Ondo pukul 13.10. Bangga? Hehe, jelas lah. Sebagai pendaki amatir alias jadi-jadian, ini udah pencapaian paling poll bagi saya. Tiga puncak dunia lainnya yang lebih tinggi nggak mungkin saya daki. Dan saya pun tahu diri untuk nggak bermimpi over limit.

 

Senyum di Uhuru Peak

 

Kalau mengingat-ingat lagi summit day pagi itu yang dimulai pukul 04.30 dengan ditemani terpaan angin dingin, capeknya dan dinginnya seolah masih terasa. Sunrise kami nikmati di punggungan gunung, masih jaooooh dari puncak.

 

Sunrise yang kami nikmati sambil lalu karena fokus pada pendakian

 

Menjelang Stella Point (5.739 mdpl) jalurnya bener-bener nggak kenal kasihan, nanjaaak terus dan terjal, gampang bikin merosot pula karena berupa pasir dan kerikil. Kalau menatap jauh ke atas, ke ujung Stella Point, rasanya mau nyerah aja. Apalagi melihat beberapa pendaki turun dengan dipapah atau digendong di pundak oleh guide dengan tatapan mata kosong, makin ciut nyali ini. Tapi tidak! Demi mimpi, saya harus tabah dan terus bertahan. Makanya, saya memilih konsentrasi pada langkah saja. Butuh 6 jam saya berjuang untuk sampai Stella Point, dan 1 jam lagi untuk tiba di Uhuru Peak.

 

BAGAIMANA RASANYA BERDIRI DI UHURU PEAK?

Gimana rasanya berdiri di bawah plang “Uhuru Peak”? Uuuhh rasanya, mmm, uuuhh aaah ruarr biasa!! Sekejap saya merasa sedang bermimpi, saya akhirnya bisa menjejakkan kaki di sana. Menikmati kegagahannya selama hampir satu jam di tengah terpaan angin dingin. Kelelahan 6 hari sebelumnya, tiap hari mendaki hingga 15 km dengan durasi terlama 7,5 jam di hari ke-3 dan dengan elevasi tertinggi 1.490 m di hari pertama, serta perjuangan menahan dingin menusuk saat summit attack, semua terbayar lebih dari impas pas pas pas!!

 

Menerima sertifikat "kelulusan" Kilimanjaro

 

ENJOY EVERY MOMENT

Walking meditation, just enjoy every step and every moment, itu kunci keberhasilan saya. Jalanin aja, langkah demi langkah. Nggak usah mikir kapan sampe, gimana kalo begini, gimana kalo begitu. Saya cuma yakin 2 kaki saya yang melangkah “pole-pole” (walking like a grandma) akan membawa sampai di puncak sana.

 

Kalau ada yang bilang, “Elo kuat juga ya, May?” Nggak, saya nggak sekuat yang dibayangin orang kok. Tapi kalau menurut hasil psikotest, saya ini punya energi cadangan di saat kondisi atau orang lain udah down.

 

Yang jelas bukan semata kekuatan; tapi lebih kepada determinasi dan persistensi. Tentu ketahanan fisik diperlukan. Untuk itulah saya latihan serius. Tapi mental positif dan tekad bulat justru lebih utama, sebagai pondasi awal. Dari awal harus yakin, kita bisa. Fokus pada tujuan, berjuang dengan gigih tak kenal putus asa.

 

Satu lagi, sejak hari pertama, saya sudah melakukan visualisasi “saya berdiri gagah di Uhuru Peak”. Ya, saya “sudah ada” di puncak bahkan sejak hari pertama, bahkan sejak berbulan-bulan sebelumnya. Bayangan saya berada di Uhuru Peak itu ada di depan mata setiap kali saya narik napas di kolam renang Cilandak Sport, saat lari di lintasan luar GBK, saat saya turun naik tangga di rumah, saat saya terbang dengan Qatar Airways menuju Tanzania, saat di mana pun, saya sudah membayangkannya.

 

Kata Zuzu, “Elo seserius itu ya?” Ya eya laah.... Udah bayar mahal boo... Trip ini sudah nguras tabungan masa depan saya. Tapi nggak apa-apa, demi sebuah mimpi. Maka bermimpilah, kawan; fokuslah pada mimpi kita, kejar, usahakan, pasti dapat!

 

 

Salam mimpi,

Mayawati “The Dreamer”

 

 

Teks: Mayawati NH Foto: Dok. MyTrip, Ondo Sirait, Mayawati NH

2 COMMENTS


Andhika Oct 21, 2018 Reply

Ini sih salah satu gunung yang jadi impian saya yang belum kesampaian.. Cool


maya Oct 23, 2018

Semoga segera kesampaian ya Mas Andhika


416

Back to Top