SEHARIAN MABOK AIR DI JERMAN

SEHARIAN MABOK AIR DI JERMAN

Friday, 04-08-2017 | 23:26

 

Setelah belasan jam terbang dan dua kali transit, tibalah saya di Berlin, kota yang terkenal dengan Tembok Berlin-nya (dalam bahasa Jerman disebut Berliner Maurer) yang membelah Kota Berlin sekaligus Negara Jerman menjadi dua setelah berakhirnya Perang Dunia II. Setelah mendarat, saya langsung ke hotel naik TXL bus dan turun di Hauptbahnhof (stasiun kereta api) lalu menyeberang jalan menuju hotel tempat saya menginap selama 3 malam di Berlin.

 

Tiba di kamar, di meja tampak botol hijau cantik "complimentary drink". Saat diminum rasanya bergas seperti Sprite tapi tanpa rasa asam manis. Ini yang kalau di Indonesia disebutnya minuman berkarbonasi (sparkling water), dan biasanya di kafe-kafe dijual yang merek Equil. Nikmat dan sedikit sensasional, menghidupkan mata yang sudah 5 watt karena jetlag.

 

 

Saat itu masih siang, saya memutuskan istirahat sebentar tapi malah ketiduran dan baru terbangun jam 9 malam dengan perut yang agak lapar. Hmm... mau turun cari makan juga males... Jadilah saya dan adik saya makan biskuit sisa yang kami bawa dari pesawat. Lalu minum apa? Yah, air bergas tadi. Hmm, semoga perut saya ikhlas menerimanya hehe...

 

Besok paginya barulah kami makan dengan benar di hotel. Sangat nikmat rasanya dibandingkan menu malam sebelumnya yang cuma biskuit. Soal minuman, air putihnya disediakan tapi ada potongan lemonnya. Rasanya pun jadi mirip dengan minuman bergas. Kopi dan teh ada sih, tapi nyari air yang "polos" susah benerrr. Akhirnya untuk meminum segelas air putih, kami pun mengambil air panas di mesin pembuat teh.

 

Setelah makan pagi, kami jalan-jalan ke Kota Postdam, mau melihat istana Sanssouci, istana saat Jerman masih dalam pemerintahan Kerajaan Prusia. Saya naik kereta ke sana, dan sebelum naik kereta niatnya beli air mineral untuk bekal. Saya yang baru belajar bahasa Jerman 3 bulan di Goethe Jakarta sudah siap-siap dengan hafalan kalimat kalau mau belanja.

 

Istana Sanssouci

 

"Ich möchte ein Wasser kaufen," begitu kata saya. Diberikanlah satu botol air mineral dan dengan yakinnya saya bawa, tapi saat diminum.... Oh my, gawat! Air bergas lagi! Adik saya juga sudah mulai stres takut maag-nya protes. Saat itu saya mulai ingat, teman saya pernah cerita, di Jerman air minum botolannya kebanyakan bergas tapi saya lupa apa istilah yang pernah dia bilang. Bahasa Jermannya agak ribet. Hadehh! Nyesel nggak dicatat.

 

Setelah selesai mengunjungi Istana Sanssouci, sebelum lanjut naik kereta selama 30 menit ke Berlin Hauptbahnhof, saya makan siang dulu di Stasiun Postdam. Pilihan makan di kios chinese food dengan harapan ada air putih biasanya. Hmmm, saat bilang minumnya wasser, petugasnya ambil gelas dan menuangnya dari botol besar. Jreeng... Buih-buih kecil pun muncul di gelas. Gawat dah, air bergas lagi. Saya pun pasrah meminumnya tapi nggak berani dihabiskan sebab ini perut sudah rada nggak enak.

 

Sebelum beranjak dari kios ini, saya lihat ada kulkas tempat mereka jual air mineral botolan. Di dalamnya ada dua macam. Mau nanya mana yang biasa tanpa gas bingung ngomongnya. Saya putuskan beli saja keduanya. Nah, inilah titik terang buat saya bebas dari minuman bergas. Botol yang saya beli dengan tulisan "STILL" adalah minuman yang tanpa gas.

 

Hmm, tapi seingat saya waktu itu teman saya bilangnya bukan "STILL". Saya pun masih penasaran mengingatnya tapi belum berhasil ingat juga apa istilah yang dia sebut. Setelah mengamati botol-botol yang saya beli berikutnya dengan menyebut still wasser saat membeli air minum, barulah istilah lainnya terungkap: "ohne Kohlensäure". Baca dan ngapalinnya agak ribet, hehehe... Istilah lainnya ada yang menyebut naturell seperti botol minum di kulkas hotel saat saya menginap di Kota Muenster, kota lain di Jerman.

 

 

Hmm, lega rasanya saat sudah bisa minum air tanpa gas karbonasi ini. Tapi lucunya setelah pulang, saya malah jadi sering kangen minuman ini yang istilahnya Wasser mit Kohlensäure atau kadang disebut Sprudel. Bahasa Jerman juga terus membuat saya penasaran untuk bisa menguasainya. Sampai saat ini saya masih lanjut belajar di Goethe Jakarta bareng anak-anak SMU yang punya cita-cita mengikuti jejak Pak BJ Habibie yang kuliah di Jerman. Lalu kalau saya buat apa yah terus belajar bahasa Jerman? Tujuan ala isengnya sih untuk memperlancar jalan-jalan berikutnya ke Jerman, hehehe... Lalu tujuan ala seriusnya apa? Nggak tahu, tapi saya yakin ada karena waktu mau putuskan ikut kursus sudah berdoa dulu dan yang penting saya happy dan enjoy belajarnya.

 

Tips:

Jika sudah salah beli minuman bergas karbonasi tapi nggak suka, jangan dibuang, tapi tuang saja airnya di gelas dan biarkan terbuka semalaman. Rasa gas karbonasinya pasti akan hilang.

 

Tulisan ini pernah dimuat di www.qubicle.id

Baca juga "Panduan Keliling Berlin dengan Bus dan Kereta" dan "12 Alasan ke Berlin"

 

Teks: Kumala Budiyanto Foto: Kumala Budiyanto, Istimewa

2 COMMENTS


Gunawan Wibisono Aug 05, 2017 Reply

Asyik pengalamanya. Hanya ralat dikit. Berlin dibagi dua barat dan timur bukan terjadi semasa Hitler berkuasa. Justru terjadi setelah PD 2, sebagai akibat Jerman kalah perang. Oleh Sekutu (As, Inggris, Perancis) yg datang dari barat dan Sovyet yg menyerbu dari timur, wilayah Jerman juga ibukotanya dibagi dua sebagai 'hadiah' pemenang (risiko perang) , juga sekaligus menjaga militerisme di Jerman tidak bangkit lagi. Demikian.


Admin Aug 05, 2017

Terima kasih koreksinya Mas Gunawan... Kami edit deh...


880

Back to Top