PANDUAN LENGKAP JALAN-JALAN KE SAWARNA

PANDUAN LENGKAP JALAN-JALAN KE SAWARNA

Sunday, 25-06-2017 | 21:58

Sunset di Tanjung Layar, Sawarna

 

Ada bagusnya juga ternyata saya menunda-nunda pelesir ke Sawarna di Provinsi Banten. Karena akses jalan ke sananya kini sudah lebih bagus, jembatan gantungnya nggak ‘sehoror’ seperti yang diceritakan teman-teman dulu, penginapannya sudah lebih banyak dan lebih bagus (homestay beneran, bukan rumah penduduk yang dibuka untuk tamu –seadanya), akses ke Gua Lalay nggak perlu lagi jalan kaki di antara pematang sawah yang kecil dan becek tapi naik ojek. Apalagi saya dan 4 teman pergi ke sana saat hari kerja dan bulan puasa pula. Tambah perfekto pengalamannya karena nggak ada sejuta umat selama kami di sana.

 

Jembatannya sudah bagus

 

Dulu saya selalu menunda ke Sawarna karena setiap kali mau ikut open trip dapet bisik-bisik kalau pesertanya bisa sampai 40 orang, saking banyaknya peminat. Tidur bakal umpel-umpelan di homestay ala kadarnya dan pasti toilet/kamar mandinya diantrein panjang. Arrrgh... Mau pelesir aja kok pake sengsara amat sih... Ada juga yang bilang, nggak worth ke sana, naik mobil dan kebanting-banting karena jalanan jelek, total durasi dari Jakarta bisa 8-10 jam! Variasi antara jalanan buruk dan macet parah baik di rute Palabuhan Ratu (terutama lepas Ciawi arah Cigombong) atau rute Serang-Pandeglang-Malingping. Sampai sana, katanya, pemandangannya biasa aja, ketipu sama foto editan lebay. Pantai-pantai di Sawarna katanya cuma cocok dinikmati sambil bawa kamera DSLR dan tripod alias hanya cocok buat para pehobi foto. Jadilah saya malas ke Sawarna.

 

Karang Taraje, asyik dinikmati dengan mata maupun dengan kamera

 

Rencana menyegarkan diri dari hiruk-pikuk Jakarta pertengahan Juni ini juga tadinya nggak memasukkan Sawarna dalam daftar. Kami hanya mau ke Geopark Ciletuh di Sukabumi. Penasaran, Ciletuh ‘kan lagi naik daun. Kalau saja Randy nggak bilang, “Sekalian aja ke Sawarna”, kami nggak kepikir ke sana juga. Randy ini asli Sukabumi yang kami daulat sebagai pemandu kami berempat, para pejalan tangguh ‘pengangguran’.

 

ADA APA SAJA DI SAWARNA?

Jangan salah ya, Sawarna itu nama desa, bukan nama pantai. Nah di Desa Sawarna yang dipisahkan dari jalan utama dengan Sungai Cisawarna ini terdapat banyak pantai, di antaranya Pantai Tanjung Layar yang bersebelahan dengan Pantai Ciantir (Pasir Putih), lalu ada Pantai Legon Pari yang diapit oleh Pantai Karang Taraje di timur dan Pantai Karang Beureum di barat. Karang Taraje adalah pantai yang posisinya paling timur. Di sebelah timur juga terdapat gua, namanya Gua Lalay. Objek lain yang tidak kami singgahi adalah Pantai Pulo Manuk di sisi barat, Pantai Karang Bokor, Gua Langir, Gua Seribu Candi.

 

Pantai Tanjung Layar

 

Desa Sawarna masuk dalam Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Letaknya di pesisir selatan Jawa, menghadap Samudera Hindia. Tak heran kalau ombaknya besar dan cocok untuk berselancar. Tapi hanya pantai tertentu yang tidak berbatu karang yang cocok untuk selancar, salah satunya Pantai Ciantir. Sedangkan untuk berenang yang cocok Pantai Legon Pari karena posisinya di teluk dan nggak ada karang, pasirnya pun halus. Sunset cocoknya di Tanjung Layar. Sedangkan sunrise di Karang Beureum, Legon Pari atau Karang Taraje. Semuanya cantik, asli cantik, bukan hanya karena editan lebay

 

Sunrise di Karang Beureum

 

Tiket masuk per orang Rp 5.000 yang dibayarkan saat kita hendak menyeberang Jembatan Cikaung untuk masuk ke Desa Sawarna. Dengan harga segitu kita bebas menikmati semua pantai tanpa bayar lagi kecuali Gua Lalay ada lagi retribusinya sebesar Rp 5.000 per orang. Memondokkan mobil di area parkir pinggir jalan yang telah disediakan bayar Rp 20.000-25.000 untuk satu malam. Di dekat area parkir ada Indomaret dan Alfamart di seberangnya. Jadi soal logistik amanlah.

 

Bayar tiket masuk di gerbang ini

 

KE SAWARNA LEWAT PALABUHAN RATU

Dari Jakarta kami memilih lewat Palabuhan Ratu daripada lewat Serang-Pandeglang-Malingping. Memilih rute ini berarti melalui Tol Jagorawi menuju Ciawi, ada risiko kena macet mengular lepas dari tol Ciawi ke arah Sukabumi karena di kawasan Cigombong banyak pabrik. Tapi untungnya ada jalan alternatif yang memang hanya orang lokal yang tahu (itu sebabnya kami mengajak pemandu).

 

Sebelum masuk Cibadak, kami ambil belokan ke kanan, arah Cikidang, penandanya ada plang petunjuk ke Arus Liar Rafting. Dari situ tinggal ikutin aja rute ke Palabuhan Ratu, lalu berbelok ke kanan arah Cisolok. Kita bisa mampir dulu di Sunset Beach yang banyak terdapat warung makan. Juga mampir di Pantai Karang Hawu buat berfoto. Terus ke arah barat kita akan melewati Bukit Habibie, tempat tinggi di pinggir jalan di mana kita bisa memandang ke arah laut tanpa terhalang.

 

Sunset Beach di Palabuhan Ratu

 

Ingat! Kondisi mobil harus sehat, yang menyetir juga harus cakap dan berpengalaman karena banyak jalan yang menanjak dan menurun serta lika-liku. Dengan rute ini tanpa macet yang signifikan dalam 7,5 jam kami sudah tiba di Sawarna, itu pun termasuk berhenti isi bensin, makan siang, dan berfoto di 3 tempat. Cukup cepat ‘kan?

 

ALTERNATIF RUTE KE SAWARNA

Dari Jakarta menuju Desa Sawarna ada 2 rute utama, rute barat (+/-234 km) dan rute timur (+/-183 km), yang masing-masing punya 3 alternatif.

1. Rute Barat:

-  Jakarta-Serang-Pandeglang-Saketi-Malingping-Bayah-Sawarna

-  Jakarta-Rangkasbitung-Gunung Kencana-Malingping-Bayah-Sawarna

-  Jakarta-Cilegon-Anyer-Labuan-Malingping-Bayah-Sawarna

2. Rute Timur:

-  Jakarta-Ciawi-Cibadak-Palabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna

-  Jakarta-Ciawi-Cikidang-Palabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna (rute ini yang kami pilih)

-  Jakarta-Bogor-Cijeruk-Cikidang atau Cibadak-Palabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna

·         

PENGINAPAN

Nggak ada hotel berbintang, tapi kalau sekelas resor sederhana ada, salah satunya Escape House Indonesia (http://escapehouseindonesia.weebly.com) yang juga menawarkan paket trip. Kebanyakan adalah homestay yang dikelola warga lokal. Seperti yang saya sebut, homestay-nya memang dibangun khusus untuk tamu, bukan rumah penduduk yang dijadikan penginapan. Banyak yang pakai AC dan ada TV, serta kamar mandi di dalam dengan harga di kisaran Rp 300.000-an. Satu kamar besar bisa ditempati sampai 4 orang. Penginapan yang lebih murah juga ada, Rp 100.000 atau Rp 150.000 tapi tentu fasilitasnya lebih terbatas. Yang kami pilih adalah Sawarna BimBim Seaview Homestay (no HP: 08170047119) yang tarifnya mulai Rp 388.000 per kamar yang bisa muat 4 orang. 

 

Rata-rata penginapan berlokasi di dekat Pantai Ciantir, sebagai pantai paling dekat dengan akses masuk ke Desa Sawarna, dan cukup jauh dari pantai. Nggak jauh-jauh amat sih, beberapa masih walking distance, tapi bukan yang persis di pinggir pantai gitu lho! Kalau mau yang di pinggir pantai justru cuma ada saung-saung aja yang disewakan oleh para pemilik warung. MCK-nya ya punya umum. Atau Anda bisa mendirikan tenda di sini dengan membawa peralatan sendiri dan minta izin dengan RT/RW setempat.

 

Bisa kemping di tepi pantai

 

TRANSPORTASI UNTUK KELILING SAWARNA

Hanya ada dan hanya mungkin dengan sepeda motor. Bisa sewa motornya saja atau sewa termasuk abang ojeknya. Harga sewa Rp 60.000 per hari.

 

Keliling Sawarna dengan sepeda motor

 

PAKET TRIP

Nggak mau pusing mengatur sendiri perjalanan, silakan kontak pemandu kami Randy di 081218992000. Durasi yang pas termasuk perjalanan dari Jakarta 3 hari full atau 2,5 hari (berangkat Jumat malam, tiba kembali di Jakarta Minggu malam). Bujet tentu variatif tergantung berapa orang yang ikut dan fasilitas yang dipilih. Untuk trip 3 hari bisa kurang dari 1 juta, juga bisa lebih. Sebagai ancer-ancer, Escape House Indonesia menjual paket 2D1N Rp 1.250.000/orang dan 3D1N Rp 1.450.000, dengan minimal 4 orang.

 

Info aja, kalau punya waktu 3 hari full mending sekalian ke Geopark Ciletuh. Silakan lihat peta untuk mengetahui posisi Sawarna dan Ciletuh.

 

 

Teks: Mayawati NH Foto: Hendri Yuliansyah, Mayawati NH Peta: Shinta Djojonegoro

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


900

Back to Top