OMA-OMA TRAVELER. UMUR BUKAN HALANGAN UNTUK MENJELAJAH KOMODO

OMA-OMA TRAVELER. UMUR BUKAN HALANGAN UNTUK MENJELAJAH KOMODO

Friday, 05-05-2017 | 07:31

Para oma berhasil mencapai puncak Gili Lawa Darat (bukit yang lebih rendah)

 

Berhasil membawa oma-oma ngetrip dengan full kegiatan outdoor, apalagi dengan menginap di kapal, adalah suatu kepuasan tersendiri bagi saya. Lebih puas lagi karena para oma berusia 60-70 tahunan ini enjoy, tidak jatuh sakit, dan betah selama tinggal di kapal. Walaupun nggak ikutan snorkeling, tapi para oma ini ikutan naik ke bukit menikmati pemandangan.

 

Awalnya memang saya ragu saat mulai mengompori para oma yang tak lain para tante saya sendiri untuk jalan-jalan ke TN Komodo di Flores selama 4 hari dan tinggalnya di kapal, bukan di hotel di darat. Pertanyaan mereka yang terlontar pertama kali, “Nanti tidurnya goyang-goyang dong?” Saya yakinkan bahwa kalau malam hari kapal akan berlabuh di tempat tenang, jadi goyangannya nggak terlalu terasa. Dan untungnya realita di lapangan, eh di lautan, memang begitu. Ombak sangat tenang di tempat kapal kami berlabuh, hampir tak terasa goyangannya. Hanya saja ketika kapal harus jalan di pagi buta saat kami masih terlelap di malam pertama dan goyangannya cukup kencang karena ombak, mereka mengaku sedikit takut.

 

Para oma berpose di atas sundeck kapal

 

Dua hal yang cukup menjadi PR adalah turun naik ke lantai bawah di mana kabin kami berada, dan turun naik ke dingy/sekoci saat hendak menuju ke pantai atau pulau. Yang pertama, tangga turun ke lantai bawah kapal tegak lurus setinggi sekitar 2 meter. Tapi untung ada pegangannya. Semula pemandu kami menyarankan para oma turun ke kamar lewat tangga belakang, melewati dapur, karena tangganya nggak tegak lurus. Tapi para oma memilih tangga tegak lurus karena lebih cepat sampai ke kamar. Sekali percobaan oleh satu oma berhasil, yang lain pun mengikuti. Makin hari makin lihai mereka naik turun tangga. Dan syukurlah sampai hari terakhir nggak ada insiden yang melibatkan tangga ini.

 

Yang kedua, tangga dari kapal besar menuju dingy. Tegak lurus juga. Lebih deg-degan saya melihat tiap kali para oma bergantian satu demi satu turun ke dingy. Apalagi kalau pas ombaknya lumayan. Dingy teralun-alun, membuat pijakan nggak stabil. Selain khawatir ada yang jatuh, yang lebih bikin saya nahan napas adalah, takut ada kaki atau tangan terjepit antara pinggiran dingy dan tangga. Proses naik dari dingy ke kapal besar juga tak kalah rumit. Untunglah, berkat kehati-hatian para oma dan kesigapan dua pemandu yang mendampingi, tidak terjadi sedikit pun hal-hal yang tak diinginkan.

 

Naik dari dingy ke kapal besar

 

Nah, hal lain yang membebani pikiran saya adalah, para oma ini nggak ada yang bisa berenang, dan nggak ada yang mau mencoba snorkeling, walaupun sudah dibujuk-bujuk. Saya maupun pemandu berpikiran sama, nanti mereka bosan. Ternyata, sekali lagi untung, mereka fine aja menunggu saya dan kakak saya snorkeling. Mereka tetap di kapal besar, duduk-duduk, ngeteh, ngopi, makan camilan yang disediakan, dan ngobrol.

 

Ngobrol tiada habisnya juga mereka lakukan saat mereka menunggu saya dan kakak yang ditemani 2 pemandu naik ke puncak Pulau Kelor untuk melihat pemandangan. Melihat medannya yang curam, saya sama sekali tak membujuk mereka untuk mencoba naik. Mereka pun sudah nggak naksir untuk naik. Jadilah mereka mengobrol seru sambil berdiri di bawah keteduhan pohon. Nggak ada komplen, walaupun kami cukup lama meninggalkan mereka.

 

Saat giliran naik ke puncak Pulau Padar, melihat medan awal yang berupa anak tangga kayu beraturan, saya menyemangati mereka untuk ikutan naik. Minimal sampai batas yang mereka merasa sudah nggak mampu. Mereka pun berlima semangat ikut naik. Trekking pole yang saya bawa saya pinjamkan ke 2 oma.

 

Mendaki di Pulau Padar

 

Ketiga oma yang lebih tua hanya berhasil melewati anak tangga kayu dan beberapa puluh meter ke depannya hingga sampai spot yang pemandangannya terlihat ke arah tanjung di sebelah kiri. Lalu mereka memutuskan turun lagi. Sementara dua oma lainnya yang lebih muda terus lanjut sampai ke view point pertama (spot uang 50 ribuan). Dari situ, satu oma lagi menyerah karena tetiba kepengen pup, haha, sedangkan satu oma terakhir menerima tantangan saya untuk lanjut naik. Oma satu ini akhirnya berhasil mencapai spot pepohanan, yang pemandangannya sudah terlihat bagus. Di situ dia menyerah dan menunggu saya dan kakak berpose-pose di spot utamanya, hanya beberapa meter ke atas dengan trek yang terjal.

 

Perhentian pertama di Pulau Padar

 

Satu oma termuda berhasil sampai titik ini di Pulau Padar

 

Yang saya salut, pagi hari ketiga, semua oma tak ada yang menolak ketiga saya ajak naik bukit Gili Lawa Darat yang lebih rendah. Ya, kami memilih nggak naik bukit utamanya yang tinggi dan terjal itu, tapi memilih bukit lainnya. Sinar mentari pagi tak terlalu terik membakar kulit. Semua mendaki dengan semangat, sesekali dibantu. Dan tak sampai 20 menit kami tiba di puncak bukit. Semua senang melihat pemandangan indah dari atas dan menikmati segarnya sinar mentari pagi. Saat menuruni bukit memang sedikit lebih sulit ketimbang naik. Satu oma saya pegangi, satu oma lain dipegangi pemandu. Ada yang tanpa dibantu, tapi sampai harus merangkak mundur. Yang penting aman!

 

Naik ke Gili Lawa Darat

 

 

Oma tertua berpose dengan Fred, pemandu kami, di atas puncak Gili Lawa Darat

 

Menuntun oma turun dari Gili Lawa Darat

 

Empat hari kami lewati dengan lancar tanpa kurang suatu apa pun. Para oma traveler dengan bangga berseru “Kami sudah ke Komodo....” O ya, para oma juga ikutan short trek sampai water hole di Pulau Komodo dan hanya sampai dapur saja di Pulau Rinca. Yang penting sudah lihat komodonya dan berfoto bareng komodo. Sudah puas.

 

"Kami sudah melihat komodo", kata para oma

 

Bermain air di Taka Makassar

 

So, jangan takut mengajak orang lanjut usia ke TN Komod ya.  Bisa banget kok!

Teks: Mayawati NH Foto: Andry Sola, Mayawati NH

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


377

Back to Top