MENGAPA ‘RACUN’ DIVING TAK ADA PENAWARNYA?

MENGAPA ‘RACUN’ DIVING TAK ADA PENAWARNYA?

Tuesday, 28-02-2017 | 23:33

 

Sebelumnya saya takut sekali berenang di laut lepas. Namun setelah mendengar banyak cerita dari teman-teman penyelam, rasa penasaran mengalahkan ketakutan saya. Menyelam memang bukanlah olahraga yang murah, tetapi masih terjangkau serta biaya yang dikeluarkan worth untuk dapat mengeksplor keindahan dunia bawah laut.

 

 

Kebetulan saya cukup beruntung bisa menghabiskan waktu selama 2 minggu di Bali, yang cukup untuk kursus menyelam hingga mendapatkan Advanced Open Water Dive License untuk dapat menyelam di kedalaman hingga 30 meter.

 

Saya mengambil kursus di Scuba Duba Doo Dive Center yang terletak di Jalan Legian, Kuta karena mereka memberikan harga yang paling terjangkau untuk saya. Saya membayar sekitar Rp 7,5 juta untuk kursus Open Water dan Advanced Open Water dalam 5 hari, dengan satu hari belajar teori di kelas, sekali pool session dan 9 kali menyelam di Nusa Dua dan Tulamben serta menginap 1 malam di salah satu dive resort di Tulamben, peralatan menyelam lengkap dipinjamkan, buku panduan, layanan antar-jemput dan makan siang.

 

 

Kelas teori diberikan dalam Bahasa Inggris dan saya hanya berdua dengan seorang turis dari Singapura sehingga saya merasa lebih bebas untuk berinteraksi dan bertanya secara langsung kepada diving instructor. Hari pertama menyelam dimulai dengan menyelam di kolam air asin serta belajar untuk mengenali dan memasang alat. Karena badan saya yang relatif kecil, semua peralatan menyelam terasa berat untuk saya, terutama saat berada di darat setelah usai menyelam.

 

 

Kemudian kami berlatih untuk menyelam beneran di kedalaman 10 meter di Nusa Dua. Saat itu cuacanya cukup buruk dengan arus yang cukup kuat sehingga pengalaman diving pertama di laut lepas terasa begitu menantang. Untungnya keadaan di lapangan memudahkan saya berpegangan di tali yang dipasang di antara jalan setapak di coral reef di Nusa Dua di mana kita bisa melihat banyak patung khas Bali yang menjadi tempat tinggal ikan imut seperti ikan badut, anemon laut bahkan ular laut yang bikin saya deg-degan.

 

 

Pengalaman diving di Tulamben membuat saya ketagihan. Pengalaman pertama menjelajahi ship wreck, melihat penyu dan sting ray di alam bebas membuat saya terkesima. Arusnya yang begitu tenang membuat saya tidak perlu berenang dengan susah payah untuk melawan arus. Selain itu, keadaan ini memudahkan saya untuk berlatih cara penyelamatan (SOS training) dan keseimbangan (buoyancy). Apalagi untuk Advanced Open Water Diving Course, saya mengambil fokus pada photography dan deep diving. Dengan arus yang cukup tenang, saya dapat mengambil beberapa foto yang ciamik di bawah laut. Awalnya agak takut untuk memikirkan berada 30 meter di bawah laut. Namun saat melihat uniknya ikan yang hidup di kedalaman ini, saya merasa beruntung bisa merasakan pengalaman ini secara langsung. With  Advanced Open Water Dive license in hand, saya dapat menyelam di mana pun di seluruh dunia!

 

 

Setelah menyelesaikan kursus menyelam, salah satu teman saya yang juga sedang berada di Bali mengajak saya untuk menjelajahi Nusa Penida. Sebelumnya saya tidak tahu sama sekali bahwa pulau yang masih menjadi bagian dari Bali ini adalah surganya para divers mancanegara karena natural garden reef-nya serta kemungkinan untuk melihat manta ray dan mola-mola yang cukup besar. Saya memilih menyelam dengan World Diving Lembongan yang memiliki boat paling besar dibandingkan dive center lainnya di kawasan Lembongan. Kapalnya memiliki dek di mana kita bisa bersantai atau berjemur setelah menyelam sambil makan siang. Waktu itu saya membayar Rp 850.000 untuk dua kali menyelam, sudah termasuk makan siang, minuman ringan dan dipinjamkan peralatan menyelam lengkap serta dipandu dive master tentunya.

 

 

Menyelam di Nusa Penida memang lebih menantang karena arusnya yang kencang namun coral reef garden-nya begitu memukau serta penghuni laut yang lebih beragam dibandingkan di Tulamben. Banyak spesies baru yang saya temukan di sana dan baru saya cari tahu namanya di dive center yang menyediakan buku tentang berbagai ikan dan satwa laut lainnya. Walaupun sayangnya saya belum bertemu manta ray ataupun mola-mola.

 

 

Dalam waktu kurang dari dua minggu, saya sudah menyelam selama 11 kali dan saya tidak akan berhenti hingga di situ saja. Meskipun sertifikat menyelam saya berlaku di seluruh dunia, pulau lainnya di Indonesia, seperti Pulau Komodo dan Raja Ampat tentunya menjadi tujuan utama saya karena banyak turis luar negeri yang jauh-jauh datang ke sana untuk menikmati keindahan alam bawah laut Indonesia. Anda masih takut untuk menyelam atau ketagihan seperti saya? Yuk share di bagian komentar artikel ini.

 

Baca juga "10 Lokasi Penyelaman Terbaik di Indonesia (bagian 1)" dan "10 Lokasi Penyelaman Terbaik di Indonesia (bagian 2-tamat)"         

Teks: Agusmia Putri Haerani Foto: Agusmia Putri Haerani, Mayawati NH, Scuba Duba Doo Dive Center, World Diving Lembongan

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


211

Back to Top