INI NIH PANDUAN UNTUK KE PANTAI HOLTEKAMP DI JAYAPURA

INI NIH PANDUAN UNTUK KE PANTAI HOLTEKAMP DI JAYAPURA

Thursday, 05-01-2017 | 10:13

 

Saat merencanakan eksplor Jayapura September lalu, selain perbatasan RI-Papua Nugini dan Telaga Cinta (Danau Imfote), saya juga ingin memasukkan satu pantai ke dalam daftar kunjungan. Tapi pantai mana yang paling bagus dan worth to visit? Browsing-browsing, nanya-nanya, tetap nggak dapat jawaban memuaskan. Apakah Pantai Hamadi, Pantai Tablanusu, Pantai Base G, Pantai Harlem, atau Pantai Holtekamp yang ada 1, 2, da 3-nya? Review-review di internet bener-bener nggak ada yang bisa memuaskan keingintahuan saya secara lengkap.

Akhirnya saya menyerah, saya pasrah ke mana kaki, eh mobil meluncur. Pasrah kepada pilihan pak supir yang menemani di hari terakhir kami di Jayapura. Kebetulan pagi itu jadwal kami ke Distrik Muara Tami, tepatnya ke Skouw, perbatasan RI-PNG. Saat perjalanan ke Skouw, kami pun melihat papan penunjuk ke arah Holtekamp. Dan akhirnya ke pantai itulah kami mampir selepas kunjungan dari perbatasan (baca “Sungai di Jakarta Lebih Bersih, Perbatasan RI-PNG Lebih Keren”)

 

CARA KE PANTAI HOLTEKAMP

Kalau dari Kota Jayapura arahkan kendaraan ke tenggara, ke Distrik Muara Tami. Saya nggak hapal rutenya, tapi pasrahkanlah kepada supir yang disewa, pasti mereka tahu jalan. Total perjalanan berkendara dari Kota Jayapura ke area Pantai Holtekamp sekitar 1,5 jam.

Sedangkan kalau dari Skouw, arah kembali lagi ke barat melalui Koya, nggak sampai setengah jam kira-kira, kita sudah akan sampai di Holtekamp.

Kalau naik motor atau setir mobill sendiri, pakai Google Map, ikuti petunjuk di jalan, plus tanya-tanya di jalan pasti ketemu karena Holtekamp cukup terkenal.

Masuk ke area pantai kena tiket masuk mobil sebesar Rp 20.000.

 

ADA APA AJA DI PANTAI?

Awalnya saya kecewa melihat Pantai Holtekamp begitu doang. Pasirnya yang menurut review-review di internet disebut putih, aaah... nggak putih itu mah... Warna pasirnya normal seperti pasir pantai pada umumnya: keabu-abuan. Maklum, terminologi pasir putih menurut saya ya yang seperti Pantai Wayag atau beberapa pantai lain di Raja Ampat Papua Barat.

 

Deretan pohon kelapa di pantai

 

Garis pantainya cukup panjang, dengan deretan pohon kelapa di belakangnya. Terlihat banyak warga lokal berenang-renang di pantai yang memang tenang ombaknya. Kondisinya memang cocok buat piknik keluarga. Sepintas saya ingat Pantai Pasir Putih di Manokwari Papua Barat, mirip suasananya. Ada cukup banyak tukang jajanan yang berjualan dengan motor, jadi bukan berupa warung. Kami sempat membeli sepiring rujak seharga Rp 15.000. Yang jualan, tentu sudah bisa ditebak, orang Jawa. Mantap si mas rujak, pernah bekerja dan tinggal lama di Australia.

 

Pantai Holtekamp dari sisi barat

 

Sebentar aja kami di area pantai itu karena kurang menarik –difoto dengan angle mana pun ya gitu-gitu aja. Cuma ketolong langit biru cerahnya aja. Lanjut naik mobil ke arah barat (arah pulang). Eh, ternyata nggak jauh, selepas jembatan, kami melihat angle pantai lebih bagus kalau difoto dari situ. Garis pantai meliuk yang diselingi rimbunan semak hijau dan jalanan dengan jembatannya, membuat pantai terlihat lebih cantik dan berkarakter.

 

Pantai, semak hijau dan jembatan

 

Dan kami pun menemukan semacam laguna atau muara di seberang pantai, terpisah oleh jalanan. Terlihat beberapa penduduk lokal mencari ikan dengan berendam langsung ke air. Cukup lama kami memotret dan berpose-pose di situ, sebelum akhirnya melaju lagi dengan kendaraan. Masuk mobil ber-AC, sejuk! Sementara di luar memang panas sekali.

 

Laguna di seberang pantai

 

MEMANTAU PEMBANGUNAN JEMBATAN HOLTEKAMP

Jauh sebelum ke Jayapura, saya sudah terobsesi melihat jembatan yang bakal jadi landmark Jayapura: Jembatan Holtekamp. Beruntung pak supir mengajak kami berbelok ke arah jembatan, masuk ke jalan tanah kecil nan sepi. Sempat gentar saat melihat beberapa penduduk lokal tampak seperti menghadang jalan. Ternyata ah, mereka cuma pemuda-pemuda desa yang kebetulan nongkrong atau lewat aja. Syukurlah.

 

Titik awal jembatan

 

Kami pun melaju terus hingga tiba di proyek jembatan di Teluk Youtefa yang akan menghubungkan kota-kota di sekitar Jayapura dengan Distrik Muara Tami. Bentuk jembatan yang rencananya memiliki panjang 732 m ini sudah kelihatan. Kami melihat dan berfoto-foto dari awal jembatan hingga ke ujung pantai, di mana jembatan masih belum tersambung. Di seberang sana kami lihat sudah tampak pula konstruksi jembatannya. Menurut papan proyek yang saya baca, jembatan ini mulai resmi dibangun 10 Oktober 2014 dan selesai 2 Desember 2016, dan masuk masa pemeliharaan hingga 31 Mei 2017. Tapi menurut berita yang saya baca, jembatan baru akan dioperasikan tahun 2018.

 

Konstruksi jembatan di seberang teluk

 

Suasana proyek jembatan

 

Keberadaan jembatan ini akan mempersingkat waktu tempuh dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami, karena nggak perlu lagi memutari teluk dengan jalanan yang menembus perbukitan. Dan melihat gambar yang saya lihat di spanduknya, jembatan ini bakal keren banget! Kudu dateng lagi kayaknya nih tahun 2018.

 

SISI LAIN HOLTEKAMP

Mampir di sisi Teluk Youtefa menanti sunset

 

Dalam perjalanan kembali, sebelum sampai di pertigaan jalan besar, kami sempat mampir dulu di tepi teluk, sekalian menunggu sunset. Cantik banget sinar mentari kemerahan menimpa bebatuan dan pephonan di tepi teluk di pinggir jalan sepi itu. Jadi ingat-ingat ya, kalau nanti jembatan sudah jadi dan kalian ke sini, jangan lupa ya buat mampir di tepi teluk ini, apalagi kalau pas sore. Jaraknya dari ujung jembatan dengan berkendara paling hanya 5 menit.

 

Sunset di Teluk Youtefa

Teks & foto: Mayawati NH

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


302

Back to Top