GUA AGUNG GARUNGGANG DI SENTUL, ANTARA JALAN BECEK DAN ‘SENTULIEM’

GUA AGUNG GARUNGGANG DI SENTUL, ANTARA JALAN BECEK DAN ‘SENTULIEM’

Friday, 18-11-2016 | 12:53

 

Memangnya ada gua di Sentul, Bogor? Ada dong. Namanya Gua Agung Garunggang. Terdengar asing? Memang! Asing dan sama sekali belum ngetop. Hanya yang suka blusukan trekking di wilayah Sentul dan Babakan Madang lah yang sudah tahu keberadaan gua ini. Padahal, guanya bagus, dan pemandangan menuju ke sana aduhai lho! Kami menyebutnya ‘Sentuliem’, Sentul rasa Lembah Baliem. Gua ini tepatnya berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Ini dia alternatif piknik murah yang nggak jauh dari Jakarta.

 

PERJALANAN KE SANA

Dengan petunjuk hasil googling dan mengikuti GPS, toh kami tetap nyasar, 2X pula! Padahal itu baru untuk mencapai jalan kampung di sebelah JungleLand. Jadi, buat kalian dari Jakarta yang kurang paham daerah Sentul, ikuti ini nih: keluar tol Sentul Selatan/City, belok kiri, lalu lurus aja. Sampai ada petunjuk JungleLand belok kiri, ikut belok kiri. Ketemu bundaran Sentul Nirwana, ambil first exit alias belok kiri, ikuti ke arah JungleLand. Nah begitu gerbang JungleLand, baru deh belok kanan ke arah jalan kampung. Ada plang hijau bertuliskan “Sentul Eco Edu Tourism Forest”. Jalanannya sempit kalau berpapasan dengan mobil lain, agak menanjak. Secara keseluruhan jalan aspalnya cukup mulus, hanya rusak di beberapa ruas.

 

Sekitar 10 menit akan ada pertigaan, ke kanan ke wisata air panas Gunung Pancar, nah kita ambil yang kiri. Dari situ sekitar 25 menit lagi ada spanduk Curug Kencana (ini spanduk Curug Kencana yang kedua yang kami lihat), dan beberapa meter sebelumnya ada jalan masuk menanjak cukup curam ke kiri yang ditutup portal. Seharusnya kami berhenti di situ. Tapi karena mengikuti petunjuk ke Leuwi Hejo, kami terlewat cukup jauh.

 

Jalan masuk, awal trek

 

Salah satu patokan

 

Sampai di gerbang masuk Leuwi Hejo, para akamsi (anak kampung sini) yang kami tanya bilang, bisa sih ke gua lewat situ, tapi jalan kakinya lebih jauh. Akhirnya dengan dipandu salah satu akamsi, kami kembali ke area yang ada spanduk Curug Kencana itu, yang disebut Dermaga.

 

Buat teman-teman yang mau ke sana, kalau mau ikut rute kami ini (karena ternyata ada rute lain lagi), patokannya kurang lebih, berkendara dengan kecepatan normal +/-35 menit dari mulai masuk jalan kampung di samping JungleLand, maka akan sampai di Dermaga, Kampung Wangun Dua. Patokan lain, ada satu spot foto di kiri jalan dengan pemandangan lembah cantik. Di situ ada sekitar 2 warung, kita bisa parkir mobil di situ.

 

RUTE TREKNYA BECEK TAPI ADA ‘SENTULIEM’

Kami berlima memutuskan memakai jasa pemandu, Abed namanya, yang punya warung di Dermaga, untuk menuju lokasi gua. Sudah pakai pemandu aja kami sempat nyasar sekali. Nggak nyasar-nyasar amat sih, tapi kalau diteruskan, akan lebih sulit treknya.

 

Trek keseluruhan gampang, relatif datar. Kalaupun ada turun-naik, nggak curam. Hanya saja karena habis hujan, trek tanah merah menjadi becek dan licin. Beberapa kubangan kecil juga membuat kami harus hati-hati kalau nggak mau terpeleset dan belepotan lumpur.

 

Rute becek

 

Pemandangan sawah yang saat itu lagi hijau-hijaunya menghibur mata kami sepanjang jalan. Ada juga petak-petak sawah yang tidak semuanya sudah ditanami. Sekilas kami lihat seperti petak sawah cantik di Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok. Dan, saat memasuki area yang agak lapang, di sebelah kanan kami melihat lembah dan barisan perbukitan serta gunung menjulang di kejauhan, lengkap dengan sungai kecil yang membelah lembah. Aaaahh..... Mirip Lembah Baliem di Papua sana! Sampai-sampai salah satu dari kami nyeletuk, “Sentuliem...”

 

Mirip Bukit Pergasingan, Lombok

 

Berjalan di antara pematang sawah

 

Sentuliem

 

Sentuliem

 

SUSUNAN BATU LAPIS DAN GUA BAWAH TANAH

Total 1,5 jam kami berjalan santai, sambil beberapa kali berhenti foto-foto, dan sedikit nyasar, tibalah di Situs Ekologi Goa Garunggang --begitu tertulis di papan nama dari Perum Perhutani Bogor. Kita bisa mulai mengeksplornya ke arah kanan maupun kiri dari papan tersebut. Kalau ke kiri ketemu warung Pak Ajum dulu. Pak Ajum ini yang menemukan lokasi ini tahun 1987, dan kini menjadi penjaga di situ. Kalau ke kanan langsung ketemu labirin-labirin dari susunan batu lapis maupun batu-batu menonjol (mirip seperti Batu Papan di Kab. Jayawijaya Papua).

Area gua dilihat dari awal kedatangan

 

Labirin

 

Formasi seperti di Batu Papan di Papua

 

Yang jelas, untuk turun masuk ke gua yang posisinya di bawah tanah, kita harus minta ditemani Pak Ajum dan meminjam tangganya. Nggak ada tarif khusus, bayar ke Pak Ajum serelanya ya (kira-kira kalau kalian berlima, bolehlah beri minimal Rp 50.000). Pak Ajum akan memasang tangga untuk kita semua turun ke gua. Pak Ajum juga membawa senter yang cukup terang. Tapi saya anjurkan bawa headlamp atau senter masing-masing. Karena begitu turun dari tangga, kita langsung dihadapkan pada lorong gelap, jadi membantu banget kalau tiap orang bawa senter.

Masuk gua dengan tangga

 

Masuk ke area utama gua, kita harus sedikit ngesot melalui bebatuan yang dialiri air. Untungnya batuannya nggak licin dan nggak berlumut walaupun basah. Pak Ajum dan cucunya Icab akan membantu. Area utamanya nggak luas-luas amat tapi cukup tinggi dengan bagian langit-langit seperti kubah yang mengerucut, dengan tekstur salur-salur. Banyak kelelawar bergelantungan di sana. Jadi nggak aneh ya kalau guanya bau pesing kelelawar. Tapi nggak menyengat kok.

 

Bagian langit-langit gua penuh kelelawar

 

Di sebelah kanan ada ceruk gua yang memancarkan air terjun kecil. Cuci muka dengan air itu konon bisa bikin awet muda. Percaya nggak percaya, cuci muka aja lah ya... At least seger! Ceruk itu juga fotogenik, dengan stalagtit menggantung. Foto deh di situ tanpa flash tapi hidupkan senter. Apalagi kalau fotonya pakai kamera DSLR yang dilengkapi tripod pasti hasilnya lebih cetar. Berfoto di area utama gua dari banyak sisi juga keren!

 

Berfoto di ceruk gua

 

Berpose di area utama gua

 

Ke sebelah kiri kita bisa lanjut susur gua, melewati semacam gang sempit, tapi tetap tinggi, nggak perlu merunduk. Nah mentok ke ujung, barulah makin rendah dan sempit lorongnya. Kami berhenti di situ, untuk sekadar mengintip ke arah lorong sempit itu. Pak Ajum sih katanya pernah masuk merangkak ke situ. Tapi kami merasa cukup, lalu kembali, sambil tak lupa foto-foto lagi.

 

Di bagian luar gua di mana banyak formasi bebatuan yang menempati areal seluas 1 hektar juga banyak spot fotogenik. Saah satunya lorong labirin dan batu gantung. Terus berjalan ke arah warung, sebelumnya kita akan menemukan air terjun kecil yang membentuk kolam kecil.

 

Batu gantung

 

Air terjun

 

Total waktu yang kami habiskan di area gua termasuk istirahat makan mie instan di warung Pak Ajum adalah 2 jam.

 

PAKAI PEMANDU?

Di area mobil kami diparkir, di seberang warung, ada WC/kamar mandi yang bisa digunakan. Berhubung kami membayar Abed sebagai pemandu dan minum air kelapa muda di warungnya, jadi kami tak membayar lagi WC-nya. Ya, pakailah pemandu kalau ke sana. Silakan kontak Abed di 0856940089288.

 

Selain Gua Agung Garunggang, di sekitar sana juga ada Leuwi Hejo, Curug Putri Kencana (katanya lebih bagus dari Leuwi Hejo), serta leuwi-leuwi dan curug-curug lainnya. O ya, di kawasan Sentul ini juga banyak jalur trek. Tak sedikit turis asing menyewa pemandu lokal untuk sekadar jalan kaki sambil menghirup udara segar Sentul. Kami pun berpapasan dengan rombongan turis.

 

Satu info lagi, rute yang kami ambil ke Gua Agung Garunggang bukanlah rute satu-satunya. Ada rute yang lebih singkat, ada yang lebih panjang, ada pula yang bisa dilalui motor trail. 

Mayawati NH Foto: Icab, Mayawati NH, Shinta Djodjonegoro, Tjoeng Pik Fong, Wiwiek Asmawiati, Yenny Anastasia

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


379

Back to Top