SUNGAI DI JAKARTA LEBIH BERSIH, PERBATASAN RI-PNG LEBIH KEREN

SUNGAI DI JAKARTA LEBIH BERSIH, PERBATASAN RI-PNG LEBIH KEREN

Monday, 10-10-2016 | 15:23

Yang namanya obsesi, itu pasti kita seneng banget kalau terwujud ya... Begitulah yang saya rasakan saat akhirnya bisa menginjakkan kaki di Perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) di Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami, Jayapura, September 2016 lalu. Lebih girang lagi karena awalnya saya dapat kabar, perbatasan sedang direnovasi, jadi nggak bisa dikunjungi, apalagi pasar tradisional di dekat situ belum lama habis kebakaran (tanggal 27 Agustus 2016). Jadi pas tahu perbatasan sudah bisa dikunjungi, saya giraaaaang banget!

 

Ini kali kedua saya mengunjungi perbatasan darat negara kita dengan negara tetangga yang bisa dimasuki tanpa paspor. Mei lalu saya ke perbatasan dengan Timor Leste di Atambua, tepatnya Motaain. Baca di sini.

 

JALAN LURUS SEPI

Jalan menuju Desa Skouw relatif lurus dan sepi banget! Setelah melewati daerah Koya, di kiri kanan hanya ada rimbun pepohonan tanpa ada satu bangunan pun. Dan bisa dihitung jari berapa kali kami berpapasan dengan mobil di Minggu pagi itu, 11 September 2016. Ada sedikit rasa takut, apalagi kalau mengingat di tahun 2014 pernah ada aksi penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata di kawasan ini. Kami hanya bertiga, ditemani supir.

 

Sekitar 1 jam perjalanan, kami melewati Pos Satgas Pantau. Ada instruksi untuk membuka kaca mobil saat melewati pos ini, tapi nggak perlu berhenti atau turun dari kendaraan. Dan akhirnya setelah 1,5 jam, tibalah kami di gerbang masuk yang paling awal. Di sini kami harus meninggalkan KTP. Tentara-tentara yang bertugas ramah, nggak pasang muka angker. Malah sempat berbasa-basi sejenak.

 

HUJAN MENYAMBUT DI PERBATASAN

Masih di wilayah Indonesia, terlihat banyak gedung baru dibangun. Katanya, ada instruksi dari pemerintah pusat yang sekarang untuk membangun gedung imigrasi maupun bea cukai yang jauh lebih megah. Pokoknya bakalan keren deh! Nggak kalah dengan sungai di Jakarta yang lebih bersih. Lho, nggak ada hubungannya... Hahaha...

 

Tempat parkir mobil di samping gerbang

 

Gerbang Indonesia dari sisi PNG

 

Kami pun parkir mobil di dekat gerbang besar penanda batas akhir wilayah Indonesia. Meski hujan turun rintik-rintik, kami tetap semangat berfoto di depan gerbang yang ada lambang Burung Garuda Pancasila di tengahnya, burung cendrawasih di kiri kanan, juga ornamen-ornamen khas Papua lainnya. Di sini ada dua tentara berjaga. Gerbang nggak seluruhnya terbuka, tapi juga nggak dikunci. Tentunya kulonuwun dulu dengan penjaga di sini, dan sekalian foto-foto toooh... Kurang afdol rasanya menyeberang ke perbatasan tanpa foto bareng dengan tentara perbatasan.

 

Foto bareng tentara RI

 

NGGAK LAPOR APA PUN UNTUK MASUK KE WILAYAH PNG

Melangkahkan kaki keluar batas wilayah Indonesia tanpa menunjukkan apalagi mencap paspor, itu rasanya sesuatu ya, hehe. Di balik gerbang ada area selebar +/-20 m yang merupakan area netral. Baru di seberangnya ada pagar pembatas dan gerbang yang kalah gagah dengan gerbang Indonesia, juga papan bertuliskan “Welcome To Papua New Guinea International Border, Wutung Border-West Sepik Province”. Di kiri kanan berjejer bendera-bendera tiap provinsi di PNG.

 

Area netral antara RI-PNG

 

Gerbang PNG

 

Kami nggak melewati gerbang itu karena dikunci. Semua pengunjung (saat itu ada beberapa pemuda lokal Papua) berjalan ke arah kanan dan kami pun mengikuti. Di situ ada kantor imigrasi PNG, ada beberapa petugas dengan gaya santai. Melihat yang lain nyelonong aja tanpa lapor petugas, dan petugasnya pun nggak menyetop,  ya kami terus aja masuk melewati pagar yang dibuka. Resmilah kami menginjak luar negeri, Papua Nugini, tanpa paspor, tanpa lapor!

 

Kami berfoto-foto dulu di depan bangunan mungil yang ada bendera PNG-nya di depan, baru kemudian melangkah terus ke dalam. Tentara penjaga tak terlihat satu pun. Padahal saya ‘kan pengen foto bareng, huhu.

 

Bangunan berbendera PNG

 

MELIHAT PANTAI MOTO BAYAR RP 10.000

Godaan mampir di kios-kios yang berjajar dan melihat apa saja yang dijual begitu besar. Tapi kami putuskan terus saja dulu. Penasaran, ada apa lagi sih di Desa Wutung ini? Ternyata ada Pantai Moto. Pantainya jauh di bawah sana, dan kita hanya bisa melihatnya dari atas, itu pun bayar dulu Rp 10.000 per orang. Garis pantai dengan pasir agak hitam dan birunya laut nampak dari tempat kami berdiri.

 

Pantai Moto

 

Saat itu hari makin siang, barulah menyusul pengunjung lain di belakang kami. Semuanya dari Jayapura, tapi asal Manado atau daerah lain.

 

JANGAN LUPA BELI KORNED

Tibalah giliran mengecek kios-kios yang dari kejauahan meriah sekali dengan warna dominan merah. Kaos bola dengan lambang provinsi-provinsi di PNG tergantung melambai-lambai ditiup angin. Begitu pula topi yang dominan merah juga. Kain-kain dengan motif PNG, bendera PNG dalam ukuran mini juga dijual. Melihat wajah mama-mama Papua kontan saya bertanya dalam Bahasa Indonesia. Eh ternyata mereka nyaut dalam Bahasa Inggris. Haha, saya lupa, mereka orang PNG, yang walaupun tinggal selemparan baru dari tanah Indonesia, tapi tak bisa cakap bahasa.

 

Kaos-kaos bola


Aneka korned

 

Seorang kenalan di Jayapura malam sebelumnya bilang, kalau ke perbatasan PNG jangan lupa beli korned, rasanya enak. Maka kami pun memborong korned sekaleng kecil seharga Rp 60.000. Juga mencoba jajan snack kemasan PNG yang yaaah mirip aja lah sama snack kita.

 

Segitu aja di PNG? Iya lah. Kalau mau sewa mobil sih bisa ke kota terdekat, Kota Vanimo. Tapi kami nggak ke sana, cukup lah main-main di perbatasan aja.

 

DITANYAI BEA CUKAI

Pulang kembali ke tanah air tercinta, pihak imigrasi dan bea cukai PNG sih cuek. Nggak nanyain apa-apa. Masuk ke Indonesia, justru mobil kami distop di depan kantor bea cukai, ditanya beli apa aja. Jawab kami, “Beli korned, Pak...”

 

MAMPIR MAKAN SIANG DI KOYA

Lepas dari perbatasan, satu-satunya tempat makan terdekat adalah di daerah Koya. Di sana banyak restoran yang merangkap tempat pemancingan. Lumayanlah makan siang di gazebo di tengah pemancingan yang luas, ditemani angin semilir.

 

Perut kenyang, dan saya bahagia bisa mewujudkan obsesi perbatasan saya –perbatasan darat RI dan negara tetangga. Ini baru yang kedua. Dan saya masih menyimpan obsesi ke perbatasan Sota di Merauke....

Teks& Foto: Mayawati NH

3 COMMENTS


Prasti Rindrawati Oct 10, 2016 Reply

Sayang sekali gambar Pantai Motonya tidak ada, jadi penasaran juga dengan keindahannya. Hm, kebayang enaknya rasa korned di sana...karena aku penggemar korned, jadi surprise juga ternyata ada korned yang terkenal enaknya...


Admin Oct 10, 2016

Foto Pantai Motonya ada kok Bu Prasti


Dwi Suryaningsih Oct 10, 2016 Reply

Foto2 pemandangan di PNG-nya ditambah dong, masa isinya cuma gardu sama souvenir? Lain kali ditambah ya.


622

Back to Top