PERANG YANG BISA DITONTON DI LEMBAH BALIEM

PERANG YANG BISA DITONTON DI LEMBAH BALIEM

Friday, 16-09-2016 | 20:08

Menyebut nama Papua, kita pasti teringat pada koteka, perang suku, pegunungan bersalju, danau di atas pegunungan, rumah honai, lembah yang curam hingga harga komoditi yang selangit. Nah, imajinasi-imajinasi tersebut rasanya tersaji lengkap di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

 

Saya bertolak dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar menuju Jayapura. Penerbangan jam 2 pagi buta mengharuskan saya berada di bandara sekitar jam 12 malam. Dan jam 7 pagi esok harinya saya pun tiba di Bandara Internasional Sentani, Jayapura. Dua jam kemudian saya kembali terbang ke Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, gerbang masuk ke Lembah Baliem. Penerbangan hanya ditempuh sekitar 40 menit saja, dengan melintasi pegunungan khas Papua.

 

Di dalam pesawat saya bertemu banyak turis asing yang saya yakin tujuan utamanya adalah Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-27. Yup, saya pun ke Wamena punya misi menyaksikan langsung perhelatan budaya tertua di Papua itu.

 

WAMENA, ANTARA PEGUNUNGAN MENJULANG DAN KOPI ENAK

Angin lembah yang sejuk menyambut kedatangan saya di Bandara Wamena. Tebing pegunungan yang tinggi dan angkuh terlihat membentengi Kota Wamena. Bangunan bandara yang terlihat baru dan cukup bagus seakan menyadarkan saya bahwa pedalaman Papua juga punya hak yang sama untuk punya fasilitas yang dibangun negara. Saya bangga, ternyata Lembah Baliem yang terpencil ini juga punya bandara yang representatif.

 

Bandara Wamena dikelilingi pegunungan

 

Saya langsung menuju Hotel Grand Wesaput yang berjarak sekitar 15 menit dari bandara. Selama perjalanan menuju hotel saya menyaksikan banyak warga Papua yang mengenakan noken, tas tradisional khas Papua. Supir bercerita banyak tentang Lembah Baliem, sambil berkelakar, “Belum ke Papua kalau belum menginjakkan kaki di Lembah Baliem.”

 

Lepas meletakkan tas bawaan di kamar hotel, saya langsung menuju pengolahan kopi arabika khas Lembah Baliem di Desa Jagara. Adalah Pak Maximus, warga asli Wamena yang getol menjalankan bisnis kopi ini. Dia bersama warga lainnya menanam kopi dan mengolahnya hingga menjadi bubuk kopi yang siap disantap. Pak Maximus bertutur, biji kopi dari Baliem sudah diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Amerika. Kopi arabika khas Baliem menjadi komoditi andalan Indonesia dalam hal perkopian selain kopi Toraja, Bali, Flores, Mandailing dan Jawa. Saya beli 1 kg bubuk kopi seharga Rp 100.000 saja.

 

PERANG SUKU DI WELESI

Hari kedua saya menuju Distrik Welesi, distrik kecil di sisi barat Kota Wamena yang berjarak sekitar 40 menit berkendara. Di sanalah perhelatan akbar “perang” khas Papua dilaksanakan. Ya, apalagi kalau bukan Festival Budaya Lembah Baliem. Acara tahunan andalan Bumi Cendrawasih ini dilaksanakan pada tanggal 8-10 Agustus 2016 lalu.

 

Lapangan luas dari tanah kering di depan saya itu menjadi ajang perang antarsuku antardistrik se-Kabupaten Jayawijaya. Total ada 39 distrik yang meramaikan FBLB 2016 ini. Mulai dari Distrik Welesi hingga Distrik Trikora yang konon katanya mereka berjalan kaki 7 hari 7 malam menuju lokasi acara FBLB. Bisa dibayangkan, seperti apa perjuangan mereka menembus alam Papua yang dikenal liar demi ikut terlibat dalam festival tahunan ini.

 

Peserta perang dari Distrik Trikora

 

FBLB adalah festival budaya yang mengangkat perang antarsuku sebagai suguhan utama. Namun perang di sini adalah perang buatan yang tidak menyebabkan kematian pelakunya. Karena tujuan utama FBLB adalah justru untuk menghentikan tradisi perang antardistrik yang biasa terjadi di sekitar Lembah Baliem. Sehingga pemerintah menyediakan wadah agar tradisi perang tersebut dilampiaskan di dalam sebuah acara resmi.

 

Sebelum acara festival perang dimulai, Bupati Jayawijaya Bapak Wempi Wetipo membuka acara secara resmi. Beliau berharap agar FBLB semakin menggema ke seluruh Nusantara dan luar negeri. Beberapa menit kemudian, perang pertama di FBLB 2016 pun dimulai. Diawali oleh puluhan warga Distrik Welesi, distrik tuan rumah yang menjadi pusat pelaksanaan festival. Mereka terlihat gagah ketika berperang di tengah-tengah lapangan. Para lelaki mengenakan koteka, hiasan kepala dan senjata berupa panah dan tombak. Sementara itu para perempuan dan lelaki remajanya terlihat kompak membawakan tarian tradisional khas.

 

 

Suguhan perang ala Papua ini terus dipertontonkan kepada ribuan penonton selama 3 hari. Dari data pemerintah setempat, selama pelaksanaan FBLB 2016 ini ada sekitar 830 wisatawan asing dari berbagai negara. Sisanya adalah wisatawan domestik yang berkisar 9.000 orang. Ini merupakan perayaan FBLB dengan penonton terbanyak.

 

 

Di sesi-sesi berikutnya saya menyaksikan perang-perangan dan tarian adat dari berbagai distrik terpencil seperti Asolokobal, Maima, Walaik, Asotipo, Hubikiak, Usilimo, Kurulu hingga distrik penutup dari Tagineri. Perang yang ditampilkan memiliki perbedaan di masing-masing distriknya. Perbedaannya adalah pemicu perangnya, misal ada yang karena pemerkosaan, pencurian tanaman, pencurian lahan dan lain sebagainya. Sumber konflik itulah biasanya yang menjadi penyebab adanya perang antarsuku di pedalaman Papua selama ini.

 

INFO:

-          Lembah Baliem dapat ditempuh dengan pesawat rute Jayapura ke Wamena. Harga tiket sekitar Rp 700.000 sekali jalan.

-          Penerbangan Jakarta ke Jayapura sekitar Rp 1.700.000-2.500.000 sekali jalan.

-          Di Wamena terdapat beberapa pilihan hotel seperti The Baliem Valley Resort, Hotel Baliem Pilamo, Hotel Grand Wesaput, Hotel Putri Dani dll. Harga Rp 400.000-1.500.000/malam.

-          Transportasi selama di Lembah Baliem bisa menggunakan jasa mobil sewaan.

 

Teks & Foto: Nasrudin Ansori

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


206

Back to Top