PERJALANAN UMROH MENEMPA IMAN, MELURUSKAN NIAT

PERJALANAN UMROH MENEMPA IMAN, MELURUSKAN NIAT

Friday, 08-07-2016 | 11:25

Ka’bah, tempat thawaf saat ibadah haji maupun umroh

 

Perjalanan umroh memberikan pembelajaran iman pada saya akan pentingnya sebuah niat tulus untuk berdoa ketika bertamu di rumah Allah SWT. Karena begitu niat sedikit melenceng, Allah SWT tahu, tidak pakai menunggu, langsung menegur seketika.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, saya kedatangan saudara sepupu yang pernah pergi haji. Dia memberikan banyak masukan tentang situasi di Mekkah dan Madinah, juga nasihat. “Yang utama luruskan niat!” Dan ternyata apa yang dinasihatkan menimpa saya, yang akhirnya memberikan pengalaman spiritual betapa pentingnya meluruskan niat saat bertamu di rumah Allah SWT.

22 Januari 2014 saya sekeluarga (orangtua dan adik) berangkat. Setelah perjalanan panjang sampailah saya dan rombongan di Mekkah pukul 11 malam. Kami pun menuju Masjidil Haram untuk thawaf. Saya berbagi tugas dengan adik. Saya menggandeng ayah, dia bersama mama. Ini untuk antisipasi bila terpisah. Benar saja, saat memasuki putaran thawaf ketiga, saya  sudah tak melihat mereka. Saya dan ayah ternyata tertinggal di belakang. Berbekal papan petunjuk dan niat yang lurus, kami berdua pun akhirnya bisa menemukan Bukit Shafa setelah selesai thawaf.

Saat melakukan Sa’i, saya mulai lelah dan menyarankan ayah untuk istirahat. Tapi semangat ayah sungguh luar biasa. Ia memutuskan lanjut. Saya pun jadi kuat dan menjelang subuh kami selesai Sa’i. Alhamdulillaah. Lega tapi lelah mendera. Konsentrasi saya turun dratis, saya bingung arah balik ke hotel. Saya putuskan untuk mencari taksi, sembari membeli sandal karena saya teledor meletakkan sandal tidak pada tempatnya, sehingga disapu petugas kebersihan. Dengan Bahasa Inggris campur gerakan tangan, saya tanya pada penjual sandal di mana ada taksi. Astaga, ternyata taksi nggak jauh aja di sebelah kiri saya. Sang pengemudi taksi pun segera menunjukkan angka yang harus saya bayar. Tanpa ba-bi-bu saya setuju. Kalau dirupiahkan sebesar Rp 150.000. Nggak sampai 2 menit ternyata kami sudah sampai di hotel. Hah??!

Beruntung esoknya waktu bebas, jadi saya bisa sejenak beristirahat. Dan saat rehat, tiba-tiba saya dapat SMS orderan dari tanah air yang nilainya lumayan. Awalnya orderan itu saya anggap godaan. Saya harus fokus ibadah. Cuma, entah mengapa, tiba-tiba saya memutuskan untuk mengambil orderan itu. Pikiran dan waktu saya pun tersita untuk itu. Hasilnya? Orderan belum ketahuan, tapi esok paginya saya dan keluarga kena tegur  ketua rombongan karena paling akhir masuk bus yang akan membawa rombongan ke Jabal Nur. Kami pun minta maaf. Tapi tetap saja ada satu keluarga peserta ngomel. Duh, nggak enak banget.

Di Jabal Nur saya pun berfoto ria di bukit yang tersohor itu. Setelah sekitar 1 jam, kami pun masuk bus kembali. Tak lama bus berjalan, saya  mendengar suara benda jatuh di antara kaki, tapi saya abaikan. Baru ketika sampai di hotel, saya kaget mendapati kamera saya sudah nggak ada. Dan baru ngeh benda yang jatuh itu kamera saku saya. Saya sedikit syok. Bukan soal kameranya, tapi saya tersadarkan sepertinya Allah SWT menegur saya yang sudah agak melenceng dengan melayani order dari tanah air. Nilai keuntungan yang saya dapat senilai dengan harga kamera saku itu. Astagfirullaah, saya pun terngiang nasihat saudara sepupu.


Paginya, seharian saya mencoba memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, karena esoknya  rombongan bertolak menuju Madinah yang ditempuh selama 4 jam dengan bus. Di Madinah,  beruntung banget, hotel tempat kami menginap persis di depan Masjid Nabawi. Karenanya, ketika  nggak dapat tempat untuk salat Ashar berjamaah, saya kembali ke hotel, membuka tirai kamar hotel dan ikut salat berjamaah dari kamar yang dari jendelanya bisa terlihat jamaah di masjid.

Selama di Madinah saya dan rombongan selalu ke Raudhah, makam Nabi Muhammad SAW di dalam Masjid Nabawi. Ada pengalaman yang lagi-lagi seperti sebuah teguran pada saya. Satu kali saat antre masuk Raudhah, saya melihat para wanita penjaga masjid mengatur jamaah yang sangat banyak. Teriakan mereka  dengan  Bahasa Melayu menggelitik kuping saya. "Ibuuuw, khesini... Ibuuuw, khesini...!” Saya pun iseng menirukan gaya bicara mereka sambil senyum-senyum. Hasilnya? Saat di dalam Raudhah saya sulit sekali dapat tempat untuk salat. Selalu saja ada halangan. Sepertinya Allah SWT menghukum sikap iseng saya. Lagi-lagi, saya ingat nasihat saudara sepupu. Astagfirullaah.

 

Masjid Nabawi, di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad SAW
 

Kejadian lain saat kami bersiap ke Masjid Quba. Perasaan, semua peserta sudah di dalam bus, tapi kok busnya nggak jalan juga? Ternyata, ada satu keluarga yang belum masuk bus. Ketua rombongan sudah mencari tapi tidak menemukan. Adik saya mengecek di BB-nya dan membaca percakapan grup umroh, katanya  keluarga itu sudah bolak-balik mencari tapi tidak menemukan bus kami. Akhirnya, bus pun melaju tanpa mereka. Adik saya  berbisik, “Kak,  mereka sekeluarga itu ‘kan yang paling komplen saat kita telat naik bus,” ujarnya lirih. Astagfirullaah.

Kejadian demi kejadian itu semakin menyadarkan saya untuk kembali pada niat yang tulus berdoa saat bertamu di rumah Allah SWT. Hari selanjutnya, saya benar-benar fokus dengan niat umroh hingga selamat kembali ke Jakarta. Jika Allah SWT mengizinkan, saya ingin  bertamu kembali ke rumah-Nya dan menjalankan ibadah umroh dengan lebih baik, dengan niat yang lebih lurus. Amin.

 

Rita hartati

 

Catatan redaksi: Tulisan ini pernah dimuat di MyTrip vol 18/2014. Keinginan si penulis, Rita Hartati untuk kembali umroh akhirnya kesampaian pada Februari 2016. Dan saat ini ia tengah giat menabung untuk naik haji bersama ibundanya (ayahnya telah meninggal). Websitenya bisa dilihat di www.tripmurahritaheart.net

Teks: Rita Hartati Foto: Priyo Tri Handoyo

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


872

Back to Top