PENGALAMAN UMROH DI BULAN RAMADHAN (Bagian 2-tamat)

PENGALAMAN UMROH DI BULAN RAMADHAN (Bagian 2-tamat)

Thursday, 07-07-2016 | 11:15

 

Pada Bulan Ramadhan kali ini saya merasa beruntung karena dapat menjalankan ibadah puasa sambil menjalankan umroh selama hampir dua minggu. Menurut beberapa orang, pergi ke tanah suci merupakan panggilan. Saya pun merasa demikian. Pasalnya pengurusan visa umroh saya sangat mepet dikarenakan saya yang baru kembali ke tanah air. Saya pasrah dan berdoa saja saat membayar paket tur umroh. Syukurlah, mungkin inilah panggilan bagi saya untuk ke tanah suci. Visa saya bisa keluar 3 hari sebelum hari keberangkatan dan saya bisa umroh di Bulan Ramadhan yang diriwayatkan sama seperti berumroh bersama Rasulullah SAW.

(Bagian 1 bisa dibaca di sini)

 

PART II: MEKKAH

Saya melanggar pesan bahwa selama di tanah suci saya harus melepas masalah dunia. Namun saya merasa ada tanggung jawab untuk menyelesaikan deadline beberapa pekerjaan saya, sehingga saya berusaha untuk membuat urusan dunia dan akhirat seimbang. Namun saya malah sakit terkena infeksi tenggorokan, mimisan dan demam yang dikarenakan udara yang berdebu. Saya mengambil pelajaran bahwa burqa (kerudung yang menutup seluruh bagian kepala kecuali mata) melindungi wanita di Arab Saudi, tidak hanya dari sisi aurat tetapi juga sisi kesehatan pernapasan dan kulit karena cuaca serta keadaan di Arab Saudi yang panas, kering dan berdebu.

Saya minta pada tour leader untuk dibawa ke dokter pada hari umroh pertama. Bukannya segera diantar, saya hanya disuruh menunggu, dari pagi saat keberangkatan dari Madinah hingga sore menjelang berbuka di Mekkah. Bahkan dia bilang bahwa dokter di sana tidak akan memeriksa jika hanya sakit flu. Kalau di luar tanah suci, saya sudah mencak-mencak padanya. Namun saat itu saya bersabar dan berbicara langsung dengan anak pemilik tur umroh. Saya pun segera dibawa ke rumah sakit oleh tour leader lainnya. Dia orangnya lebih baik, bahkan saya ditunjukkan beberapa tempat di sekitar Madinah pada saat menuju ke rumah sakit dan sepulangnya. Sangat sangat bersyukur ternyata di balik kesabaran tadi, saya mendapatkan private tour Madinah gratis.

Selain itu, dokter yang memeriksa saya juga baik dan memberikan saya obat yang cukup beserta vitamin. Dan semuanya gratis! Padahal saya sudah membeli travel insurance untuk berjaga-jaga. Pemandangan di rumah sakit membuat saya trenyuh karena sakit yang saya alami bukan apa-apa dibandingkan banyak jamaah lainnya yang harus dirawat dan tidak dapat beribadah sama sekali.

Sekembalinya di hotel dari rumah sakit, saya sudah ditinggal rombongan tur. Saya datang ke tanah suci tanpa persiapan manasik (praktek sebelum umroh dan haji), sehingga saya tidak ada bayangan sama sekali bagaimana menjalankan ibadah umroh. Saya hanya tahu tawaf (berkeliling Ka’Bah sebanyak 7 kali). Namun di dalam hati, saya sudah sangat rindu dengan Ka’Bah. Saya pun segera mandi menggunakan sabun khusus haji dan umroh yang tidak menggunakan parfum agar niat umroh saya tidak batal karena sudah mengambil Miqot (berniat menjalankan umroh) di Masjid Bir Ali saat perjalanan dari Madinah ke Mekkah. Tubuh terasa segar kembali dan saya segera berjalan dari hotel ke Masjidil Haram yang awalnya saya tidak tahu di mana letaknya. Namun menemukan masjid ini sangatlah mudah karena ratusan ribu jamaah menuju ke sana setiap saat.

Saya merasa sangat bahagia, bersyukur dan terharu ketika melihat Ka’Bah. Saya juga merasa sangat beruntung karena saya dapat tawaf untuk pertama kalinya sangat dekat dengan Ka’Bah dan salat di Hijr Ismail (yang dianggap sebagai bagian Ka’Bah). Di sini, titik spiritual saya! Salat dan berdoa kepada Allah SWT di Hijr Ismail rasanya sama seperti saat Rawdah di Makam Nabi Muhammad. Menurut riwayat Rasulullah SAW, salat di Hijr Ismail sama seperti salat di dalam Ka’Bah dan doa kita akan dimakbulkan.

Saya tidak terlalu memaksa untuk mencium Hajar Aswad di mana banyak jamaah pria berbadan besar bergelut di sekitarnya. Saya agak sedih melihat beberapa jamaah yang memperlakukan Ka’Bah seperti berhala, padahal sudah diingatkan oleh para penjaga Ka’Bah tentang kesyirikan mereka.

Setelah saya selesai tawaf, saya kembali di hotel dan tiba-tiba saya merasa mau ambruk. Padahal waktu di sekitar Ka’Bah saya merasa sangat sehat dan kuat. Ternyata kondisi fisik saya belum pulih sepenuhnya. Sugesti atau bukan, saya merasa kekuatan di sekitar Ka’Bah memang begitu besar. Bagaimana tidak? Faktanya, energi manusia berpusar selama 24 jam tanpa henti di sekeliling Ka’Bah!

Umroh pertama saya, yang saya laksanakan keesokan harinya, sangat berkesan karena saya melaksanakannya bersama teman baik semasa SMU yang bekerja sebagai pramugari dan bermukim di Jeddah. Hal ini mungkin hanya kebetulan, namun menunjukkan pada saya bahwa ucapan adalah doa. Karena pada akhir 2013, saya transit di Jeddah dan saya mengirimkan pesan di Facebook pada sahabat saya itu, bahwa saya berharap suatu hari kami dapat umroh bareng. Dan syukurlah, kurang dari 3 tahun harapan tersebut terkabul.

 

Umroh bersama teman SMU

 

Totalnya, saya menjalankan umroh 3 kali selama saya di Mekkah. Saya bersyukur karena saya dapat menjalankan umroh untuk kakek buyut dan nenek saya yang sudah meninggal namun belum pernah umroh. Dan pada saat tawaf wada (berkeliling Ka’Bah sebanyak 7 kali sebelum meninggalkan Mekkah) untuk berpamitan dengan Ka’Bah saya mengalami pengalaman yang unik. Saya melakukan tawaf wada dengan seorang nenek yang berasal dari Medan, yang awalnya saya merasa segan untuk bepergian bersama karena saya terbiasa bepergian sendiri tanpa beban dan tanggung jawab. Nah, setelah selesai berdoa dan salat di Hijr Ismail, saya berdoa kepada Allah SWT di pinggir Ka’Bah dekat Hajar Aswad. Tiba-tiba ada seorang ibu yang mengajak saya dan nenek itu untuk mencium Hajar Aswad. Kami didorong dan dikawal oleh tiga orang dan berhasil mencium batu yang dipercaya menghitam karena dosa manusia itu.

Setelah selesai, saya tahu bahwa oknum-oknum “yang membantu” kami akan meminta bayaran. Kami awalnya mau digiring ke pinggir masjid karena mereka takut ditangkap oleh penjaga Ka’Bah. Saya berkelit di sekitar Maqam Ibrahim dengan alasan belum selesai tawaf. Saya langsung mengeluarkan sisa uang saya sebesar 50 real dan saya bilang saya tidak bawa uang lagi, begitu juga si nenek. Mereka marah-marah karena biasanya minimal 1 orang harusnya membayar 200 real. Kami tidak meminta bantuan mereka untuk mencium Hajar Aswad dan mereka juga tidak menanyakan apakah kami memiliki uang sebelum membantu kami. Jadi saya rasa, saya tidak salah untuk mengajak nenek itu kabur dan menghilang ke dalam pusaran manusia di sekitar Ka’Bah.

Besar harapan saya agar dapat  kembali lagi ke tanah suci, semoga bersama keluarga dan jodoh saya. Untuk doa jodoh, sudah saya ucapkan sebelumnya di Jabal Rahmah (tempat bertemunya Adam dan Hawa), walaupun tidak naik ke tugu di atas, yang penting berdoa kepada Allah SWT dan menghadap kiblat.

Filosofi pengalaman tawaf wada seperti menunjukkan saya, apakah saya ikhlas membawa tanggungan saat mencapai tujuan saya. Apabila nanti saya menikah dan memiliki keluarga, yang merupakan tanggungan, akan lebih sulit bagi saya untuk mencapai sesuatu. Namun saya harus percaya, bahwa saya bisa mendapatkan hasil yang lebih dari tujuan saya apabila saya dapat berjalan beriringan dengan “tanggungan” saya itu.

Untuk saya, perjalanan umroh ke tanah suci sangat berkesan dan penuh pengalaman dan pelajaran menarik. Bagaimana dengan Anda? Apabila ada, silakan tuliskan cerita Anda di komentar di bawah ini. 

 

Agusmia

 

Catatan redaksi: Agusmia Putri Haerani adalah salah satu kontributor yang sangat sering mengisi tulisan di MyTrip. Jika ingin mengetahui lebih banyak cerita perjalanannya bisa mengulik websitenya www.youthgotravel.com.

Teks & Foto: Agusmia Putri Haerani (www.youthgotravel.com)

6 COMMENTS


Dwi Nur Janati Jun 07, 2017 Reply

Kalo saya jujur lebih nyaman di mekkah.. kebetulan saya banyak di uji kesabaran juga sewaktu di madinah dan mekah ada sih cuma tidak "separah" di madinah.. Saya terkesan dg crita kakak soalnya saya suka ngetrip sendiri juga sekalipun di luar negri.. dan waktu itu saya harus rombongan dan alhamdulillah saya sama kedua orang tua saya umrohnya.. sama orang tua jalan2 mah selow aja yaa tapi kadang rasa ribet dan rada terkekang pas ama peserta yg lain.. alhamdulillah jg kemarin segrup ama orang sepuh 3.. sampai jalan pun kami harus di belakang mereka dan mengawal mereka.. bener2 menguji kesabaran tapi alhamdulillah bisa juga.. wlo sbnrnya saya ini tempramen juga trus suka pergi kemana2 sendiri.. tapi alhamdulillah kami bertiga (saya dan kedua orng tua saya) saling mengingatkan "sabar" "mungkin ini ujian" dll.. Saya juga ngrasa perjalanan umroh saya itu panggilan bener kak.. soalnya itu dadakan.. kamu peserta terakhir yg daftar dan proses kami gak ada sebulan termasuk ngurus dokumen. Visa kami pun susulan seminggu sebelum berangkat dokumen baru di kirim ke jakarta. Sempet takut sih ini nyampe gak ya visa nya soalnya biasanya saya ngurus visa agak lama kok ini kurang dari seminggu.. tp alhamdulillah jadi juga sebelum brangkat.. kebetulan itu juga saya baru pulang dari luar negri tiba2 di telfon ortu di ajak umroh bareng.. masya Allah padahal dlam hati sy sblom balik ke indo udh ada rencana pengen ngajak mreka dan adik saya umroh.. alhamdulillah allah kasih jalan wlo adik sy gk ikut karna biaya kami belum cukup untk berempT.. padahal sy juga belum crita kesiapapun saya rasa cuma allah yg tau tapi kok tiba2 si ibuk bilang, besok kamu pulang umroh yuk? Ibu ama bapak pengen umroh, kalo mau kita bisa daftar pas km pulng. Saat itu sy fikir ah paling nunggu at least 2 blan buat ngurus dokumen dll ehhh ternyata sebulan pun enggak ada.. manasik kami juga gak dapet soalnya kami pendaftar trakhir dan jadwal manasik udh habis.. tp alhamdulillah pengalaman kita hampir sama kak.. seperti dadakan di panggil ke rumah Allah bedanya kakak pas ramadhan kalo kami pas 2 minggu sblom ramadhan.. rindu ke sana lagi.. Smoga umroh kita mabrur ya kak.. sy doakan juga smoga kakak bisa unroh bareng orang tua juga kalo bisa mah ama jodoh nya juga.. heheh Tolong doain saya juga bisa kesana lagi bareng orang tua dan adik saya dan kalo bisa sama jodoh saya kesana.. hihihi Saya juga pecinta jalan2 kak, mungkin kita bisa sharing banyak.. hahahhaha


Admin Jun 07, 2017 Reply

Terima kasih ya Dwi Nur Janati atas sharingnya


Nava Tour Oct 05, 2017 Reply

Pengalaman spritual yang luar biasa. Smoga menjadi umroh yang mabrur. Amiin Paket Umroh November 2017 | Paket Umroh November 2017


Nava Tour Oct 05, 2017 Reply

Pengalaman spritual yang luar biasa. Smoga menjadi umroh yang mabrur. Amiin Paket Umroh November 2017 | Paket Umroh November 2017


Muhsans Argam Putra Oct 05, 2017 Reply

Subhanallah.. jadi teringat masa saya bersama dengan keluarga ketika menunaikan ibadah umroh beberapa tahun yang lalu. Berbondong-bondong masyarakat muslim sedunia melakukan thawaf, walaupuan ramai dan kelihatannya sumpek tapi hati bawannya selalu sejuuk~ Paket Umroh November 2017 Raykha Travel | Paket Umroh Desember 2017 Raykha Tours


177

Back to Top