6 TRADISI UNIK PERAYAAN NATAL DI INDONESIA

6 TRADISI UNIK PERAYAAN NATAL DI INDONESIA

Friday, 23-12-2016 | 13:33

 

Bagi umat Kristiani, Natal merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu karena merupakan hari kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Bagi umat non-Kristiani, Natal merupakan hari libur nasional, di mana dekorasi dan keceriaan perayaan ini juga menjadi hiburan. Hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya menjadi lambang kebahagiaan bagi yang merayakannya, namun demikian cara merayakannya berbeda satu dengan lainnya.

Pada dasarnya tidak ada satu aturan khusus tentang bagaimana merayakan Natal. Jadi suatu kelompok masyarakat mungkin saja berbeda dengan masyarakat lainnya dalam merayakan Natal, namun justru perbedaan inilah yang membuat keindahan dalam kemeriahan suasana Natal semakin terasa. Berikut berbagai cara unik dalam merayakan kemeriahan Natal di Indonesia.

1. RABO RABO DI JAKARTA

Salah satu kawasan di ujung utara Kota Jakarta mempunyai cara yang unik dalam merayakan Natal.  Kampung Tugu di Cilincing Jakarta Utara ini konon meneruskan tradisi yang dulunya dilakukan para pendahulunya yang orang Portugis. Setelah selesai ibadat di gereja, bermula dari beberapa orang akan mengunjungi rumah lainnya dengan diiringi musik. Keluarga yang dikunjungi wajib ikut masuk ke rombongan untuk kemudian mengunjungi rumah-rumah berikutnya sampai rumah terakhir (bentuk silaturahmi).  Di penghujung acara setiap orang akan bermandikan bedak warna-warni sebagai simbol “Penebusan Dosa dan Saling Memaafkan” di penghujung tahun yang akan berlalu.

 

2. PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA

Yogyakarta merupakan kota yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional. Hal ini terlihat dalam berbagai perayaan keagamaan yang selalu saja dikaitkan dengan kekayaan tradisi Yogyakarta itu sendiri, Natal pun tidak terkecuali. Pastor atau Romo yang memimpin ibadah Natal di Yogyakarta akan menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil dan berkostum khas Yogyakarta seperti beskap atau blangkon. Untuk lebih memeriahkan Natal juga selalu digelar wayang kulit yang bertemakan “Kelahiran Yesus Kristus”.

 

3. MARBINDA DI SUMATERA UTARA

Tradisi ini mengajak warga setempat bersama-sama mengumpulkan uang untuk membeli hewan untuk dikurbankan. Pemilihan jenis hewan tergantung dari dana yang terkumpul. Bila memungkinkan hewannya seperti kerbau dan sapi. Dan karena ini tradisi umat Kristiani, terkadang hewan yang dikurbankan adalah babi. Hasil kurban akan diberikan sama rata kepada warga yang berpartisipasi.

 

4. KUNCI TAON ATAU KUNCIKAN DI MANADO

Umat Kristiani di Manado merayakan Natal sejak 1 Desember, dan mereka menyebutnya Pra-Natal.  Lagu-lagu Natal terdengar di seluruh pelosok kota Manado, baik di pertokoan, restoran hingga bus atau angkutan kota. Para pemuda di Manado mengadakan pawai sinterklas, mengunjungi rumah-rumah untuk memberikan hadiah dan nasihat kepada anak-anak yang dijumpai. Setelah 25 Desember, daerah pemakaman pun tak lepas dari kunjungan sanak saudara yang datang dan menghias dengan bunga berwarna-warni.  Perayaan Natal ini berakhir dengan nama Kunci Taon atau Kuncikan pada minggu pertama bulan Januari. Selama satu minggu nonstop akan ada pawai dengan kostum pakaian lucu serta menarik untuk menghibur warga sekitar yang dilalui.

 

5. NGEJOT DAN PENJOR DI BALI

Bali, si Pulau Dewata memang penuh daya tarik. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Hindu namun toleransi beragama di Bali sangat luar biasa. Cara merayakan Natal di Bali terkenal dengan sebutan Ngejot yaitu memberikan bingkisan kepada para tetangga terutamma yang bukan Kristiani.  Bingkisan itu berupa makanan khas tradisional masyarakat Bali seperti lawar dan sate babi (tentunya untuk tetangga yang Muslim dipilihkan makanan yang halal). Tradisi Ngejot awalnya dilakukan oleh umat Hindu dalam Hari Raya Galungan. Penjor yang merupakan hiasan janur kuning, yang biasa ada dalam perayaan agama Hindu, juga akan menghiasi gereja serta rumah-rumah di Bali. Dan saat merayakan Natal di gereja, para jemaat akan menggunakan pakaian adat Bali berwarna putih hitam.

 

6. MERIAM BAMBU DI FLORES

Pada bulan Desember pihak Pastoral Kota Flores akan mengadakan kompetisi membuat “Kandang Natal”. Hal ini untuk mengingatkan kembali bahwa Yesus Kristus lahir di kandang yang penuh dengan kesederhanaan. Namun perayaan Natal yang menarik adalah bunyi dentuman keras yang keluar dari bambu. Berdasarkan budaya Manggarai dan Flores, dentuman ini dipergunakan sebagai pemberitahuan kepada desa lain yang terletak cukup jauh bahwa ada tokoh masyarakat yang mengalami kemalangan. Namun pada masa kini meriam bambu dipergunakan sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Yesus Kristus.

Teks: Fransiskus Ipang K, dari berbagai sumber Foto: Istimewa, dari berbagai sumber

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


636

Back to Top